Apakah HBA Selalu Pengaruhi Harga Saham Batu Bara? Ini Historikalnya

Bareksa • 05 Apr 2018

an image
Sejumlah kapal yang membawa batu bara melintasi Sungai Mahakam, Samarinda, Minggu (31/12). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target produksi batubara tahun 2018 sebesar 477 juta ton akan melampaui target produksi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Saat harga batu bara acuan anjok pada Juni 2017, harga saham ADRO justru tetap naik

Bareksa.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) untuk bulan April 2018 sebesar US$94,75 per ton. HBA tersebut turun cukup signifikan atau 6,9 persen jika dibandingkan HBA pada Maret yang sebesar US$101,89 per ton.

Sebelumnya HBA sempat mengalami kenaikan pada awal 2018, di mana HBA untuk Februari 2018 ditetapkan US$100,69 per ton atau naik 5,4 persen dibandingkan HBA Januari yang mencapai US$ 95,54 per ton, kemudian kembali naik 1,2 persen ke level US$ 101,89 per ton pada Maret 2018.

Anjloknya HBA menekan harga saham saham-saham yang melantai di Bursa ikut turun pada perdagangan 3-4 April 2018. Di antaranya adalah PT Adaro Tbk (ADRO) turun sebesar 4,23 persen, PT Harum Energi Tbk (HRUM) turun 3,68 persen, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang terseret 8,12 persen dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turun 0,33 persen

Grafik Harga Saham Batu Bara Awal April 2018

Sumber: Bareksa.com

HBA sejak awal 2018 berada di kisaran US$100 per ton. Hal itu dipengaruhi oleh tingginya permintaan batu bara dari Tiongkok. Harga batu bara terus membaik dalam dua tahun terakhir yang terpantau mengalami tren bullish cukup kuat.

Sekedar informasi, HBA ditetapkan oleh Kementerian ESDM berdasarkan indeks pasar internasional. Terdapat empat index yang dipakai dalam perhitungan HBA yakni Indonesia Coal Index (ICI), New Castle Global Coal (GC), New Castle Export Index (NEX), dan Platts59.

Adapun bobot dari masing-masing index tersebut sebesar 25 persen dalam perumusan formula HBA.

Penurunan HBA untuk bulan April ini disebabkan oleh adanya penurunan permintaan dari Tiongkok yang merupakan salah satu konsumen batu basar terbesar di dunia, serta berlalunya musim dingin juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan permintaan turun.

Harga Batu Bara Acuan (HBA) per Bulan

Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

Selama satu tahun terakhir harga HBA tercatat bergerak fluktuatif, terutama terjadi pada bulan September dan Juni 2017. HBA pada periode September 2017 naik 9,6 persen menjadi US$92,03 per ton dari sebelumnya US$83,97 per ton

Penyebab kenaikan HBA dipengaruhi oleh sejumlah faktor di luar negeri. Aksi demonstrasi di tambang New Castle, Australia membuat pasokan batubara ke pasar dunia berkurang. Selain itu, meningkatnya permintaan India akan batu bara juga turut berkontribusi terhadap menguatnya harga.

Pada September, naiknya harga HBA  mendorong harga saham ADRO naik 2,48 persen, HRUM naik 2,23 persen ITMG 0,26 persen dan PTBA naik 3,85 persen.

Grafik Harga Saham Batu Bara Awal September 2017

Sumber: Bareksa.com

Sementara itu, mundur kembali pada saat harga batu bara acuan anjlok, HBA Juni 2017 turun sebesar 9,96 persen menjadi US$75,46 per ton dari sebelumnya US$83,81 per ton. Kendati demikian, secara rata-rata harga batu bara acuan tahun 2017 masih di US$70 per ton atau lebih tinggi dari rata-rata harga batubara acuan 2016 senilai US$ 61,84 per ton.

Meski HBA melemah, harga saham ADRO justru naik 5,1 persen, HRUM naik 1,44 persen, ITMG turun 1,45 persen dan PTBA naik 0,23 persen.

Grafik Harga Saham Batu Bara Awal Juni  2017

Sumber: Bareksa.com

Pada saat itu, penurunan harga yang cukup signifikan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah China. Laporan tahunan PLTU di China rugi, sehingga Pemerintah China mengeluarkan kebijakan menurunkan harga batu bara domestik, Walhasil, harga impor tertekan, akhirnya mempengaruhi harga batu bara dunia. Efeknya, produsen batu bara utama lain terpaksa menekan harga jual.

Selain itu, penurunan harga karena pasokan batu bara di dunia sudah berlebih. Banyak penambang kembali menggenjot produksi, setelah terkendala faktor cuaca beberapa bulan sebelumnya. (hm)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.