XL Akan Refinancing Utang Rp3,5 Triliun Tahun Depan

Bareksa • 02 Nov 2017

an image
Petugas memeriksa menara jaringan BTS milik operator XL di Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Utang yang akan dibiayai kembali perseroan terdiri atas utang bank dan sukuk yang akan jatuh tempo

Bareksa.com - PT XL Axiata Tbk (EXCL) berencana membiayai kembali (refinancing) utangnya senilai Rp3,5 triliun tahun depan. Perseroan tengah mempertimbangkan instrumen keuangan yang akan digunakan untuk membiayai kembali tersebut, termasuk dengan pinjaman perbankan. 

Direktur Keuangan XL Axiata, Muhamed Adlan menuturkan, XL Axiata akan menghadapi utang jatuh tempo sekitar Rp3,5 triliun tahun depan. Utang jatuh tempo tersebut terdiri atas utang sukuk dan utang bank. 

"Untuk refinancing, kita masih memiliki sukuk yang belum di-draw down dan masih berlaku akhir hingga akhir November 2017," jelas Adlan di Jakarta, Kamis, 2 November 2017. 

Namun, dia melanjutkan, saat ini penurunan Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) lumayan signifikan. Oleh sebab itu, XL mempertimbangkan menggunakan pinjaman perbankan untuk membiayai kembali utangnya.

Berdasarkan laporan keuangan XL Axiata kuartal III-2017, perseroan memiliki pinjaman jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp2,32 triliun. Perseroan juga memiliki sukuk ijarah yang akan segera jatuh tempo sebesar Rp1,03 triliun. 

Adlan menuturkan, perseroan belum memutuskan akan menggunakan fasilitas sukuk yang masih tersedia atau tidak. Namun, jika akhirnya perseroan tidak mengeksekusi sukuk tersebut, XL akan mempertimbangkan menerbitan penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi baru. 

Target Keuangan

Sementara itu, dia mengatakan bahwa kinerja keuangan XL hingga kuartal III-2017 masih sejalan dengan target perseroan tahun ini. XL Axiata menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun ini sejalan dengan pertumbuhan industri. 

"Pertumbuhan pendapatan kita sudah 5 persen," jelasnya. Dia memperkirakan pertumbuhan industri telkomunikasi tahun ini berada di kisaran 7-8 persen. 

Sepanjang kuartal III tahun ini, XL Axiata memperoleh pendapatan sebesar Rp16,9 triliun, meningkat sebesar 5 persen dari perolehan periode sama tahun lalu sebesar Rp16 triliun. Kontribusi terbesar pendapatan perseroan tahun ini berasal dari penjualan data, yakni mencapai Rp9,3 triliun atau 71 persen dari total pendapatan. 

Selanjutnya pendapatan perseroan dari non-data sebesar Rp5,7 triliun, jasa interkoneksi sebesar Rp1 triliun, sewa menara Rp292,7 miliar dan sirkit langganan Rp224,3 miliar. 

Perseroan memperoleh laba bersih hingga kuartal III-2017 sebesar Rp238 miliar, meningkat dari realisasi periode sama tahun lalu sebesar Rp159,7 miliar.

Menurut Adlan, penjualan data di masa mendatang akan sangat mendominasi pendapatan perseroan. Dia memperkirakan dalam dua hingga tiga tahun ke depan, pendapatan perseroan dari sektor data akan mencapai 90 persen. 

Hal itu bakal terjadi karena pertumbuhan pengguna data di Indonesia masih eksponensial. Di sisi lain, pengguna jasa pesan pendek (short message service/ SMS) dan voice akan terus turun. 

"Jadi kontribusi pendapatan data di masa mendatang akan signifikan," ujar dia. 

Manajemen XL Axiata memandang industri telekomunikasi tahun depan akan sulit. Salah satu faktornya adalah akibat regulasi baru tentang registrasi pengguna nomor.

Dia masih tidak mengetahui impak regulasi tersebut terhadap industri telekomunikasi. Oleh sebab itu dalam tiga bulan awal 2018, perseroan harus mengetahui dampak regulasi itu. 

"Sulit memprediksi growth pendapatan tahun depan," jelas Adlan. (hm)

Tags:
menara