Berita Hari Ini: Banteng Wulung Resmi Jadi Ikon BEI; BTN Ingin Pangsa Pasar 40%

Bareksa • 14 Aug 2017

an image
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Periode 2017-2022 berfoto bersama patung Banteng Wulung yang menjadi ikon baru Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Minggu (13/8).

OJK siapkan tiga instrumen baru di pasar modal; BBCA dirundung peningkatan NPL KKB; Investor publik PNBS bertambah

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

Banteng Wulung

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memiliki ikon yang sekaligus akan jadi destinasi wisata baru di Jakarta. Ikon tersebut berbentuk banteng dengan jenis Banteng Wulung. Banteng dengan berat 7 ton dan berwarna hitam itu berbahan dasar sebuah fosil kayu berusia 2,5 juta tahun.

Peresmian ikon Banteng Wulung bertepatan dengan 40 tahun diaktifkannya pasar modal Indonesia. Adapun BEI berharap adanya ikon Banten Wulung menjadi simbol optimisme yang ditunjukkan dengan tren atau penguatan di lantai bursa atau bullish.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

Bank spesialis kredit perumahan ini semakin agresif menatap bisnisnya ke depan. Apalagi, dengan gelaran Properti Expo yang digelar setiap tahunnya. Kali ini, BTN bahkan menargetkan potensi penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) hingga Rp5 triliun dari kehadiran Properti Expo 2017.

Tak tanggung-tanggung, dengan potensi yang terus bertambah didukung dengan program rumah bersubsidi, BTN ingin menguasai pangsa pasar KPR hingga 40 persen. Per 31 Maret 2017, pangsa pasar KPR BTN baru mencapai 35,4 persen. Adapun tahun ini, BTN mengincar pertumbuhan KPR hingga 23 persen atau menjadi sekitar Rp144,28 triliun dari realisasi tahun lalu Rp117,3 triliun.

Penguatan Pasar Modal

Keberadaan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru, membuat pasar modal menjadi wilayah yang jadi fokus pengembangan. Salah satunya terkait perannya sebagai intermediary penggalangan dana untuk pembangunan dan ekspansi usaha korporasi nasional, khususnya dalam pembiayaan proyek infrastruktur.

Yang terbaru, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menyampaikan, pihaknya tengah menggodok instrumen baru seperti perpetual bond, project bond, dan obligasi global berdenominasi rupiah agar menarik minat korporasi menggalang dana dari pasar modal.

PT Bank Central Asia Tbk

Bank dengan kode saham BBCA ini tengah dirundung masalah. Masalah ini datang dari bisnis kredit kendaraan bermotor alias KKB. Hal ini tertuang dari rasio kredit bermasalah atau NPL KKB yang menjadi 1 persen dalam periode Januari – Juni 2017.

Meski masih di batas aman, rasio NPL KKB itu tidak seperti periode Juni 2014 hingga Juni 2016. Saat itu, rasio NPL KKB BCA masih berkisar 0,7 persen. Namun manajemen BCA membantah peningkatan NPL KKB ini karena menurunnya daya beli. Hal tersebut lebih karena adanya masalah administrasi nasabah baru yang belum terbiasa mengangsur cicilan tiap bulan.

PT Panin Dubai Syariah Tbk

Diam-diam, banyak investor publik yang mulai meminati saham dengan kode PNBS ini. Catatan ini tertuang dalam jumlah kepemilikan publik yang menjadi 12,03 persen dari sebelumnya 11,53 persen. Peningkatan kepemilikan publik seiring dengan langkah PT Bank Panin Indonesia Tbk yang melepas sebagian sahamnya.

Belum lama ini, Bank Panin sebagai salah satu pemegang saham pengendali PNBS melepas sekitar 51,27 juta saham. Melalui aksi ini, kepemilikan Bank Panin di PNBS tersisa 49,72 persen, atau lebih rendah 0,5 persen dari sebelumnya sebesar 50,22 persen.

Industri Semen

Kelebihan pasokan semen di Indonesia mulai meresahkan. Hal ini diperparah dengan munculnya pemain-pemain baru yang membuat kelebihan pasokan justru terus bertambah. Untuk itu, Asosiasi Semen Indonesia mulai mencari cara. Salah satunya dengan meminta pemerintah membatasi izin baru pengembangan pabrik.

Permintaan asosiasi itu tentu saja bertujuan mengatasi masalah kelebihan pasokan semen. Saat ini, kelebihan pasokan semen telah mencapai 50 persen. Jumlahnya mencapai 107 juta ton per tahun. Padahal konsumsi semen nasional hanya berkisar 63 – 65 juta ton per tahun. Asosiasi berharap, pengembangan pabrik baru bisa diberi izin untuk 4-5 tahun ke depan saat kapasitas produksi semen menjadi 117 juta ton.