Berita / / Artikel

Anies-Sandi Akan Pimpin Jakarta, Pekerjaan Ini Sudah Menunggu

• 29 Apr 2017

an image
Pasangan calon Gubernur dan Wagub DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) dan Sandiaga Uno (kiri) berjabat tangan usai memberikan keterangan pers menanggapi hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Jakarta. ANTARA FOTO/Dedi Wijaya

Menurut data Bank Indonesia, jumlah kemiskinan Jakarta per September 2016 tercatat naik

Bareksa.com- Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI putaran II telah berakhir. Menurut hasil penghitungan cepat (quick count) sejumlah lembaga survei, pasangan nomor urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga S. Uni mengungguli petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Pengumuman gubernur dan wakil gubernur terpilih secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum akan diselenggarakan pada 5-6 Mei 2017. Kemudian, pasangan pemenang tersebut akan dilantik menjadi gubernur dan wakilnya untuk periode 2017-2022 pada bulan Oktober mendatang saat masa pemerintahan sebelumnya selesai.

Sebagai calon pemimpin Jakarta selanjutnya, apa saja yang masih harus mereka benahi?

Hal pertama yang perlu diperbaiki adalah area kesejahteraan masyarakat. Data Bank Indonesia per September 2016 menunjukkan, jumlah warga miskin di Jakarta kembali meningkat, setelah turun cukup tajam pada tahun 2015. Jumlah penduduk miskin di Jakarta per September 2016 tercatat sebanyak 385.840 orang, naik 0,5 persen dari angka pada setahun sebelumnya.

Meskipun jumlah orang miskin bertambah, tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan justru berkurang. Hal ini terlihat dari sisi indeks kedalaman kemiskinan penduduk Jakarta pada September 2016 menurun. Bahkan bila memperhatikan data dengan periode yang lebih panjang, baik indeks kedalaman kemiskinan maupun indeks keparahan kemiskinan, menjukkan tren yang menurun.

Hal tersebut menunjukkan bahwa penyebaran atau distribusi pengeluaran atau pendapatan di antara penduduk miskin semakin merata. Hal inilah yang perlu dijaga oleh pemimpin Ibukota yang baru.

Grafik: Persentase Kemiskinan di Jakarta Selama 5 Tahun Terakhir

Sumber: Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia

Selain angka kemiskinan, masih rendahnya investasi swasta mendorong perlambatan penyaluran kredit investasi sejak tahun 2015. Aktivitas investasi bangunan swasta juga masih terbatas, disebabkan belum pulihnya permintaan sektor properti. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit rumah tangga untuk hunian yang belum tumbuh secara signifikan.

Pekerjaan lain yang harus dipikirkan Anies-Sandi adalah Jakarta mencatat pertumbuhan ekonomi yang masih stagnan di level 5,85 persen pada tahun 2016. Meskipun gap atau selisih pertumbuhan ekonomi antara Jakarta dengan perekonomian nasional masih cukup lebar pada 2016, tingkat pertumbuhan ini harus didorong karena lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Grafik: Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta

Sumber: Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia

Pertahankan Kinerja Sebelumnya

Di samping hal-hal yang masih belum selesai, ada juga sejumlah pencapaian dari pemerintahan Ahok-Djarot sebelumnya yang harus dipertahankan. Ekonomi Jakarta cukup mampu bertahan dari tekanan perlambatan ekonomi nasional sebelumnya hingga kini berhasil menguat, antara lain karena langkah Pemprov masih menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pada akhir tahun 2016, realisasi pendapatan telah mencapai Rp54 triliun, naik 22,7 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp44,2 triliun.

Sementara itu, PAD pun melesat 68 persen selama lima tahun hingga akhir 2016 menjadi Rp37 triliun, terdorong digenjotnya pendapatan pajak yang menyasar warga kalangan menengah-atas. Sejumlah tarif pajak dinaikkan, termasuk pajak kendaraan bermotor yang mengalami kenaikan tarif progresif menjadi 2 persen per Januari 2015, dari sebelumnya 1,5 persen. Selain itu, pajak hiburan didongkrak 30 persen, dari sebelumnya cuma 20 persen.

Khusus untuk akhir tahun 2016, pendapatan pajak mencapai Rp31 triliun, atau naik 75 persen dalam lima tahun terakhir.

Grafik: Realisasi Pendapatan, PAD, dan Pendapatan Pajak DKI Jakarta

Sumber: Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia

Di samping itu, investasi pembangunan oleh pemerintah harus dipertahankan karena masih menjadi penopang utama pertumbuhan investasi 2017. Dalam hal ini yang utama adalah proyek infrastruktur transportasi, seperti Mass Rapid Transportation (MRT) dan Light Rapid Transportation (LRT) yang akan menjadi nilai tambah investasi bangunan Jakarta.

Pasca penyelesaian permasalahan pembebasan lahan di tahun 2016, kini progress pembangunan MRT telah mencapai 64,71 persen per 31 Januari 2017, naik signifikan dari Desember 2016 yang baru 49,46 persen.

Sementara itu, pembangunan LRT dalam kota telah memulai proses studi kelayakan pada tahun 2016, dengan pembangunan dilakukan dalam dua fase. Adapun capaian progres pembangunan prasarana LRT baru 10 persen. Maka dari itu, tugas besar pemimpin Jakarta baru ini adalah pembangunan konstruksi fisik, yang ditargetkan dapat mencapai 70 persen pada akhir 2017.

Selama belum menjabat, Anies-Sandi mungkin masih bisa bersantai dan merayakan kemenangan mereka. Akan tetapi, tanggung jawab terhadap jutaan warga Jakarta di depan mata. Oleh karena itu, gubernur dan wakil gubernur yang baru ini tentu saja harus bisa bekerja dan melanjutkan prestasi pejabat terdahulunya. (hm)

Tags: