
Bareksa - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) harus menelan pil pahit. Kinerjanya pada enam bulan pertama tahun ini tak sebaik dua saudaranya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Hingga Juni 2016, laba Bank Mandiri turun 28,6 persen year-on-year dari Rp9,92 triliun menjadi Rp7,08 triliun. Turunnya laba terutama disebabkan meningkatnya biaya pencadangan dari Rp4 triliun menjadi Rp9,9 triliun sebagai antisipasi risiko peningkatan kredit bermasalah.
Menurunnya profitabilitas Bank Mandiri diperparah dengan naiknya level kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Pada periode ini, NPL gross Bank Mandiri naik dari 2,43 persen menjadi 3,86 persen sementara NPL nett dari 1,01 persen menjadi 1,53 persen.
Jika dirinci, penyumbang NPL Bank Mandiri berasal dari kredit komersial sebesar 6,69 persen, disusul kredit usaha kecil 4,95 persen, kredit mikro 4,12 persen, konsumer 1,87 persen dan korporasi 1,72 persen. Adapun nilai NPL Bank Mandiri secara keseluruhan mencapai Rp20,44 triliun.
Secara umum, bisnis Bank Mandiri bertumbuh jika dilihat dari sisi penyaluran kredit. Hingga kuartal kedua 2016, kredit Bank Mandiri naik 10,5 persen dari Rp552,8 triliun menjadi Rp610,9 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 5,56 persen dari Rp654,86 triliun menjadi Rp691,36 triliun.
Atas hasil kinerja ini, Bank Mandiri pun telah menetapkan target baru. Misalnya kredit yang awalnya ditargetkan tumbuh 12 persen - 14 persen menjadi 10 persen hingga 12 persen. Bahkan, Bank Mandiri pun menaikkan target NPLnya dari 2,5 persen sampai 3 persen menjadi 3,5 persen - 4 persen.
Rupanya, investor pun sudah memprediksi kinerja Bank Mandiri. Ini bisa terlihat dari pergerakan saham BBMRI yang turun 0,76 persen atau 75 poin ke level Rp9.850 per saham pada penutupan Selasa, 26 Juli 2016.