BI Rate Turun Lagi, Tidak Pengaruhi Saham Properti & Perbankan?

Bareksa • 18 Mar 2016

an image
Sejumlah pengunjung melihat pameran properti di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (17/9). Pameran yang bertajuk "Jakarta Property Week 2015" ini merupakan cara untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan akan properti dan digelar pada 17 September-20 September 2015. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Harga saham telah mengalami kenaikan sebelum BI memutuskan menaikan BI Rate

Bareksa.com- Keputusan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan kali ini ternyata tidak memberikan impak yang besar terhadap pergerakan saham properti hari ini. Apa sebabnya?

Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) kemarin, 17 Maret 2015 menurunkan BI Rate 25 basis poin menjadi 6,75 persen. Penurunan suku bunga BI ini tentunya akan membuat perbankan semakin agresif menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR).

Tapi sayangnya, sentiment positif ini tidak membuat harga saham dari sektor properti dan perbankan naik signifikan. Hingga pukul 15.10 Indeks sektor property hanya naik 0,4 persen, sedangkan sektor perbankan mengalami penurunan 0,14 persen.

Sementara harga saham dari sektor properti yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan kenaikan tipis sebesar 1,9 persen menjadi Rp1.910 per saham.

Dari sektor perbankan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang mengalami kenaikan, itupun masing-masing hanya sebesar 1 persen.

Grafik: Pergerakan Harga Saham Properti dan Perbankan Secara Intraday


Sumber: Bareksa.com

Kenaikan harga saham yang kecil, diperkirakan karena sejumlah investor telah merespon sentimen positif ini sejak awal bulan Maret ini. Hal ini ditunjukan dari kenaikan indeks properti dan keuangan pada grafik di bawah ini.


Sumber: Bareksa.com

Proyeksi ekonom menjadi salah satu dasar keputusan investor tersebut. Berdasarkan survei Bloomberg, dari 24 ekonom, 15 ekonom telah memperkirakan BI Rate akan kembali dipangkas 25 bps menjadi 6,75 persen. Inflasi yang rendah pada bulan Februari lalu serta neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah yang terus membaik menjadi latar belakang proyeksi ini. (np)