Dana Segar Keluar dari China Melonjak Jadi US$1 Triliun pada 2015

Bareksa • 26 Jan 2016

an image
Karyawati menunjukkan mata uang Yuan di salah satu tempat penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (30/11). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

arus dana yang keluar dari Negeri Tembok Besar itu meningkat sebesar US$158,7 miliar pada Desember tahun lalu

Bareksa.com - Arus dana keluar dari China melonjak pada Desember 2015. Berdasarkan estimasi yang dikompilasi Bloomberg Intelligence arus dana yang keluar dari Negeri Tembok Besar itu meningkat sebesar US$158,7 miliar pada Desember tahun lalu, kenaikan terbesar kedua secara bulanan setelah periode September sebesar US$194,3 miliar.

Secara keseluruhan, dana segar yang mengalir ke luar dari Tiongkok sepanjang 2015 mencapai US$ 1 triliun (sekitar Rp13.900 triliun) atau melonjak tujuh kali lipat dari sebelumnya US$134,3 miliar pada 2014.

Arus dana keluar pada akhir 2015 itu terjadi setelah bank sentral China mengejutkan pasar dengan menyatakan akan kembali berfokus pada pergerakan Yuan terhadap mata uang lain ketimbang terhadap dolar Amerika Serikat. Selain arus dana keluar, masalah lain di China adalah para eksportir memegang dolar dan tidak mengkonversinya ke dalam Yuan, kata Tom Orlik, Ekonom Kepala Asia Bloomberg di Beijing.

“Pemicu langsung dari derasnya arus dana keluar pada akhir tahun lalu adalah ketidakmampuan Bank Sentral China (PoBC) mengkomunikasikan kebijakan mata uangnya,” kata Mark Williams, Ekonom Kepala Asia dari Capital Economics Ltd. di London, yang pernah bekerja di Kementerian Keuangan Inggris untuk urusan China.

“Arus dana keluar tetap besar karena PoBC tidak mampu meningkatkan kepercayaan para investor bahwa sesungguhnya mereka mampu mencapai tujuan dari kebijakannya,”  Williams menambahkan.

Pemerintah China dalam pernyataan pada 21 Januari 2016 menyebutkan risiko arus dana keluar masih bisa dikendalikan dan cadangan devisa negara mampu meredam guncangan yang ada. Cadangan devisa China diperkirakan sudah turun U$300 miliar pada tahun ini menjadi US$ 3 triliun.