Berita / / Artikel

Kisah Sandiaga Uno dan Kinerja Saratoga

• 28 Apr 2015

an image
Direktur Utama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Sandiaga S. Uno (kanan), Komisaris Utama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Edwin Soeryadjaya (kiri) dan Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia Hoesen saat pencatatan perdana saham SRTG di bursa efek. (dok. perseroan)

Setelah 17 tahun memimpin Saratoga, Sandi ingin fokus ke hal lain. Bagaimana pencapaiannya di Saratoga?

Bareksa.com - Sandiaga Salahudin Uno akan segera meninggalkan jabatannya sebagai direktur utama perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Eksekutif yang juga pendiri private equity firm tersebut akan masuk ke ranah politik setelah bergabung sebagai Wakil Dewan Pembina Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindra).

Sandi, begitu pria 44 tahun ini disapa, telah mengajukan pengunduran diri pada akhir pekan lalu sebagai pemimpin puncak Saratoga, perusahaan yang telah dibangunnya sejak 1998 bersama dengan mitranya Edwin Soeryadjaya. Bagaimana rekam jejak Sandi selama memimpin perusahaan investasi tersebut? 

Mengukur kinerja Saratoga sebenarnya tidak mudah, karena bisnis sebuah private equity firm tidak bisa dilihat dari nilai penjualannya karena secara alami tidak ada produk yang diproduksi atau pun diperdagangankan oleh perusahaan ini. Perseroan mendapatkan untung dari pertumbuhan nilai pada perusahaan investasinya (investee). 

Berdasarkan informasi perseroan per Desember 2014, kepemilikan Saratoga dipegang oleh Sandiaga Uno 29,2 persen, Edwin Soeryadjaya 29,2 persen, PT Unitras Pertama 31,5 persen, dan publik 10,2 persen. 

Saratoga berinvestasi dalam 20 investee  di tiga sektor bisnis utama, yaitu konsumen, infrastruktur, dan sumber daya alam. Sejumlah perusahaan investasi yang sudah matang termasuk produsen batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan sawit PT Provident Agro Tbk (PALM), PT Mitra Pinasthika Mistika Tbk (MPMX) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). 

Saratoga menjadi satu-satunya private equity firm yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dan menawarkan saham perdana (IPO) pada Juni 2013 dengan raihan dana Rp1,42 triliun. Sejak tercatat di bursa saham, pertumbuhan nilai aset bersih (NAV) per saham bertumbuh 46 persen. Harga saham SRTG juga tumbuh 13 persen, dibanding pertumbuhan IHSG hanya 9 persen. 

Grafik Pertumbuhan NAV Saratoga Sejak Tercatat di BEI

Sumber: Perseroan

Total aset konsolidasi perseroan juga memiliki pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 15 persen selama empat tahun terakhir menjadi Rp16 triliun per 2014. Selain itu, total ekuitas perseroan juga memiliki CAGR sebesar 13 persen menjadi Rp11,58 triliun per akhir 2014. 

Grafik Pertumbuhan Aset dan Ekuitas Saratoga

Sumber: Perseroan

Meskipun dia meninggalkan jabatan pimpinan tertinggi di perusahaan yang sudah dibangunnya sejak 17 tahun lalu, Sandiaga tidak menyebutkan akan melepas kepemilikan sahamnya. Dia pun mengatakan bahwa keputusan tersebut merupakan hal yang berat

Pada 2013, Forbes memasukkan Sandiaga sebagai orang terkaya Indonesia nomor 47 dengan harta senilai US$ 460 juta.  Namun, sayangnya pada 2014, pria kelahiran 28 Juni 1969 ini terdepak dari daftar 50 orang terkaya di Tanah Air. (Baca juga: Siapa Sebenarnya Sandiaga Uno?)

Tags: