
Bareksa.com – Nilai tukar rupiah akhirnya kembali menyentuh diatas level Rp12.100 per dolar Amerika kemarin, imbas dari penguatan dolar akibat pemulihan ekonomi Amerika.
Saat ini kondisi Eropa dan Jepang kekurangan likuiditas akibat melemahnya ekonomi di Amerika. Seiring dengan pemulihan yang terjadi di Amerika, maka Pemerintah negara-negara di Eropa dan Jepang sengaja melemahkan nilai mata uang untuk mendorong likuiditas domestik kata Lana Soelistianingsih, Ekonom PT Samuel Aset Manajemen kepada Bareksa.com.
Perekonomian Eropa dan Jepang sedang dalam kondisi flat, dengan melemahkan nilai mata uang maka akan menambah supply currency domestik dan memacu masyarakat untuk meminjam uang sehingga jumlah uang beredar meningkat dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini memicu penguatan dollar index yang sempat menyentuh level tertinggi yakni 87,5. Berpindahnya investor ke pasar uang (money market) untuk membeli dolar Amerika juga berimbas dari penurunan harga komoditas akibat turunnya harga minyak dunia. Ini semakin memperkokoh posisi dolar Amerika.
Pelemahan rupiah sebenarnya sudah terjadi sejak awal Oktober. Namun, rupiah sempat menguat pada tanggal 20 Oktober imbas dari sentimen positif akan pelantikan Presiden. Tapi karena pengaruh eksternal lebih kuat maka saat ini nilai tukar rupiah kembali melemah.
Grafik Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika
Sumber : Bareksa.com
“Tapi sebenarnya kita senang-senang saja rupiah melemah, harapannya impor kita dapat berkurang. Namun untuk ekspor sendiri kita tidak berharap banyak,” kata Lana.
Melemahnya rupiah mungkin belum bisa menguntungkan ekspor karena sebagian ekspor kita adalah komoditas dimana harga komoditas saat ini sedang turun.
“Apalagi mayoritas ekspor kita ke China dan Uni Eropa yang perekonomiannya sedang melambat. Sementara ekspor nonmigas lainnya juga bahan bakunya impor dari luar,” tambah Lana.
Jadi bagi eksportir non migas, walaupun harga barang menjadi kompetitif akibat pelemahan nilai tukar rupiah tidak memberikan keuntungan lebih karena juga harus membayar kenaikan biaya bahan baku yang berasal dari impor.
Ekspor yang lemah berakibat pada masih bertahannya defisit transaksi berjalan Indonesia. Selain itu impor minyak dan gas (migas) tidak bisa direm walaupun terjadi pelemahan nilai tukar rupiah. Seperti diketahui bahwa impor migas kita besar untuk memenuhi BBM subsidi yang konsumsinya terus meningkat.
"Pemenuhan pembelian migas untuk BBM subsidi merupakan fixed cost bagi anggaran. Menyebabkan Indonesia tidak memperoleh benefit dari pelemahan rupiah. Ini yang menjadikan risiko investasi di Indonesia masih tinggi," ungkap salah satu manajer investasi asing.
Jika Pemerintah berani untuk meningkatkan harga BBM bersubsidi maka anggaran menjadi lebih sehat. Defisit pada transaksi berjalan juga tidak akan dikhawatirkan oleh investor karena pelemahan rupiah dapat diatasi dengan natural hedge. "Terjadi keseimbangan pasar, rupiah melemah mendorong penurunan impor dengan sendirinya dan terjadi peningkatan ekspor." (np)