Tips Gunakan Strategi Lump Sum untuk Investasi dari THR Lebaran

Hanum Kusuma Dewi • 05 May 2021

an image
Ilustrasi tangan seseorang memegang amplop THR berisikan uang rupiah lembaran Rp100.000 untuk diinvestasikan di reksadana saham. (shutterstock)

Untuk jangka pendek, strategi ini baiknya digunakan dalam investasi berisiko rendah

Bareksa.com - Sudah menerima Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran? Jika iya, jangan lupa gunakan secara bijak dengan mengalokasikan sebagiannya untuk investasi demi kebaikan kondisi keuangan di masa depan ya.

Ada strategi investasi yang bisa digunakan oleh Anda dalam mengolah dana investasi dari uang THR. Salah satunya, strategi lump sum atau menyetor sekaligus. Investasi lump sum adalah menyetor sejumlah dana besar di awal investasi dan membiarkan uang investasi tersebut bergerak naik turun mengikuti perkembangan pasar, tanpa melakukan tambahan investasi (top up) sampai investor memutuskan untuk mencairkannya.

Pilihan strategi ini efektif memberikan hasil investasi yang baik, jika dilakukan dengan timing yang tepat yaitu saat harga-harga NAB (nilai aktiva bersih) sedang turun pada posisi terendah sehingga memungkinkan investor memperoleh lebih banyak unit investasi pada harga yang lebih murah. Nah, karena sedang turun, secara logika investasi akan naik kembali (swing) lagi ke posisi sebelumnya bahkan lebih tinggi sehingga memberi hasil yang lebih maksimal.

Akan tetapi, posisi terendah tidak selalu dapat diprediksi dengan baik. Selain itu, investasi dengan model lump sum memerlukan modal yang cukup besar sehingga bisa menyulitkan sebagian calon investor, terutama yang memiliki alokasi investasi pas-pasan. Juga, kelemahan investasi dengan cara ini adalah jika waktu yang digunakan untuk melakukan investasi kurang tepat dan investor tidak berorientasi jangka panjang.

Makanya, ketika harga reksadana mengalami penurunan, kerugian yang dialaminya bisa lebih besar. Karena sulitnya mengetahui waktu yang tepat itu, manajer investasi (MI) yang sudah berpengalaman puluhan tahun sekalipun sulit melakukannya secara konsisten.

Cara investasi ini sebaiknya dilakukan oleh investor yang berorientasi jangka menengah dan panjang serta siap menghadapi risiko penurunan harga.

Felicia Putri Tjiasaka, investment coach, dalam penjelasannya di investream Bareksa, mengatakan bahwa strategi lump sum sebaiknya digunakan untuk investasi yang memiliki pergerakan tren naik dalam jangka panjang. Untuk jangka pendek, baiknya digunakan dalam investasi berisiko rendah seperti reksadana pasar uang.

Adapun reksadana saham, yang mayoritas portofolionya adalah saham, bisa berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi potensinya tinggi dalam jangka panjang. Reksadana saham cocok untuk investor dengan profil risiko tinggi dan tujuan investasi jangka panjang.

Makanya, Prita Ghozie, financial planner dan investment coach, mengatakan jangan memilih reksadana saham jika merasa masih investor pemula. "Kalau mau coba reksadana saham, jangan beli lump sum atau sekali besar. Kita bisa gunakan strategi dollar cost averaging atau DCA. Bisa beli bertahap dua minggu sekali, atau sebulan sekali. Meski sudah ada uangnya, anggap saja uang kita seperti roti, kita belah-belah," ujar Prita.

Demi kenyamanan berinvestasi pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda ya, sebelum memilih strategi investasi pun jenis serta produk reksadana yang akan dipilih.

(Martina Priyanti/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.