Heboh Beli Saham Pakai Uang Panas! Ini Pentingnya Investasi dengan Dana Dingin

Abdul Malik • 19 Jan 2021

an image
Ilustrasi investor pusing dan stress karena bangkrut akibat salah strategi investasi. (Shutterstock)

Uang panas yang digunakan untuk investasi tersebut berasal dari utang hingga menggadaikan aset

Bareksa.com - Pasar keuangan Indonesia kembali dihebohkan dengan munculnya fenomena investasi saham oleh investor baru dengan menggunakan “uang panas”, baik dengan utang hingga menggadaikan aset yang sudah ada. Hal ini telah muncul di platform media sosial dan ramai diperbincangkan oleh netizen.

Namun bukannya untung, para investor yang membeli saham dengan “uang panas” ini malah ketiban apes. Saham-saham yang tadinya dinilai menggiurkan karena harganya meroket, lambat laun malah turun dan membuat para investor baru ini “nyangkut” besar dan tak bisa mengembalikan utang-utangnya.

Dikutip dari akun Instagram @ngertisaham, dalam postingannya yang diunggah kemarin, terdapat tiga pengakuan dari investor “nyangkut” ini.

Sumber: Instagram @ngertisaham

Melihat pengakuan tersebut, tentu cukup membuat kita miris melihat bagaimana ada beberapa orang yang sangat nekat untuk berinvestasi ke dalam aset yang sangat berisiko, bahkan sampai rela berutang serta menggadaikan aset lainnya.

Hal seperti itu tentu menyalahi kaidah dasar dalam berinvestasi yang harus menggunakan idle money alias uang dingin. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan uang dingin?

Uang dingin bukanlah uang yang disimpan di kulkas atau dibekukan dalam jangka waktu yang lama. Uang dingin merupakan istilah dari uang yang tidak akan dipakai dalam jangka waktu tertentu.

Di dalam berinvestasi, seseorang harus menggunakan uang dingin agar ketika terjadi suatu risiko di mana aset yang dibelinya megalami penurunan, maka kehidupannya tidak terganggu karena memang uang yang dialokasikan untuk investasi ini adalah uang menganggur.

Bayangkan jika seseorang berinvestasi dengan menggunakan uang panas seperti untuk makan sehari-hari atau lebih parahnya lagi dengan berutang, maka ketika terjadi penurunan nilai asetnya, tentu ia akan sangat stres memikirkan bagaimana nanti untuk makan sehari-hari atau untuk mengembalikan uang pinjaman yang digunakannya!

Karena itu, penting bagi apalagi pemula mengenal dunia investasi untuk memikirkan matang-matang instrumen yang akan dibelinya serta meyiapkan dana khusus untuk berinvestasi dengan uang yang benar-benar tidak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, investor juga perlu berhati-hati dalam menghadapi fenomena kenaikan harga saham yang signifikan, terlebih dalam waktu yang relatif singkat. Jangan sampai tergiur keuntungan besar dalam waktu singkat, hingga akhirnya tidak berpikir secara rasional yang nantinya bisa berujung pada kerugian.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.