Potensi Besar, 744 Penyelenggara Umroh Arab Saudi Bidik Pasar Indonesia

Bareksa • 31 Oct 2019

an image
Jamaah melakukan shalat Jumat di Masjidil Haram dibawah suhu lebih dari 40 derajat celcius di Mekkah, Arab Saudi, Jumat (12/7/2019). Jamaah mulai berdatangan dari berbagai negara untuk melaksanakan ibadah Haji 1440 Hijriah. ANTARA FOTO/Hanni Sofia

Jumlah PPIU lokal yang terdaftar resmi Kemenag mencapai 1.016 PPIU

Bareksa.com - Besarnya potensi pasar umroh di Indonesia mulai dilirik Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) asal Arab Saudi. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Nizar menyebut kini ada 744 PPIU asal Arab Saudi yang ingin malayani jemaah umroh asal Indonesia.

“744 PPIU ini tergabung dalam syarikah PPIU Arab Saudi,” kata Nizar saat membuka Koordinasi Penyelenggaraa Ibadah Haji Khusus (PIHK) Wilayah Timur di Malang. Rabu (30/10) dilansir kemenag.go.id.

Minat penyelenggara umroh asal Arab Saudi terhadap pasar Indonesia bukan tanpa alasan. Sebab Indonesia memiliki pangsa pasar menjanjikan untuk calon jemaah yang berminat melaksanakan haji dan umroh di Tanah Suci.

Tercatat jumlah penduduk Muslim dunia pada 2017 mencapai 1,8 miliar jiwa atau mencapai 24 persen dari populasi global. Adapun penduduk muslim di Indonesia mencapai 87 persen (215 juta jiwa) dari total penduduk Indonesia atau 13 persen dari penduduk dunia. Kini ibadah umrah menjadi ladang bisnis bagi sebagian pelaku usaha di bidang biro perjalanan wisata.

Di Indonesia sendiri sejumlah PPIU sudah memasarkan bisnis perjalanan umroh kepada calon jemaah umrah dengan menawarkan berbagai macam paket. Nizar berharap dengan kehadiran PPIU Arab Saudi ini, PPIU lokal bisa bersaing séhat untuk melayani jemaah umroh Indonesia.

“Ini akan menjadi persaingan, bersainglah yang sehat, kalau tidak dapat bersaing akan ditinggalkan (konsumen),” tutur Nizar.

Untuk menghadapi kedatangan PPIU dari Arab Saudi tersebut, Nizar menyatakan akan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia. Sebab kehadiran mereka akan menciptakan iklim yang kompetitif dalam menawarkan paket-paket umroh.

“Kita akan berbicara dengan Kedutaan Besar Arab Saudi, nanti kalau ada syarikah yang masuk ke Indonesia agar bisa masuk ke aplikasi Siskopatuh (Sistem Komputerisasi Pengawasan Terpadu Umrah dan Haji Khusus),” ujarnya.

Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus M. Arfi Hatim dalam laporannya mengatakan dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji khusus sekaligus untuk memberikan pemahaman terkait regulasi penyelenggaraan ibadah haji khusus, Kementerian Agama mengundang para penyelenggara ibadah haji khusus untuk mengikuti Koordinasi Penyelenggara Ibadah Haji Khusus Wilayah Timur Tahun 2019.

Dengan adanya kegiatan ini, kata Arfi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap regulasi penyelenggaraan ibadah haji khusus.

“Untuk meningkatkan pemahaman terhadap regulasi penyelenggaraan ibadah haji khusus bagi para penyelenggara ibadah haji khusus serta untuk meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji khusus,” kata Arfi

Saat ini jumlah PIHK yang terdaftar resmi di Kemenag berjumlah 328 PIHK, sedangkan jumlah PPIU lokal yang terdaftar resmi Kemenag mencapai 1.016 PPIU.

Sebagai informasi, total jemaah haji di Tanah Suci pada 2018 mencapai 2.371.675 jiwa, dengan 612.964 (25,85 persen) jemaah berasal dari Arab Saudi dan 1.758.711 (74,15 persen) berasal dari luar Arab Saudi.

Jemaah Haji yang berasal dari Asia mendominasi dengan jumlah 1.059.496 jiwa (59,67 persen dari total jemaah haji). Sebanyak 203.351 di antaranya (19,38 persen) ialah jemaah asal Indonesia. Jemaah haji asal Indonesia mencapai 11,56 persen dari total jemaah haji dunia pada 2018, dan merupakan negara dengan jamaah haji terbanyak di dunia.

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, sebelumnya menyatakan jumlah jemaah haji Indonesia yang cukup banyak tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Hal itu terlihat dari waiting list keberangkatan calon jemaah haji yang diproyeksikan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019 dan diperkirakan mencapai 5,24 juta jiwa pada 2022. Sementara dana haji di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp119,55 triliun pada 2019 dan dapat mencapai Rp147,65 triliun pada 2022.

Besarnya jumlah jemaah haji senada dengan jumlah jemaah umroh yang berasal dari Indonesia. Pada 2018, total jemaah Ibadah umroh asal Indonesia mencapai 1,1 juta jiwa.

Cara Siapkan Tabungan Umroh

Punya cita-cita untuk menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci? Di platform Bareksa Umroh  tersedia beberapa paket perjalanan umroh yang bisa dipilih, antara lain paket Barokah, Karomah, Kamilah, Milad, Ramadhan, hingga paket Hemat 12 Hari.

Untuk paket Hemat yang senilai Rp21,5 juta, fasilitas yang akan didapatkan :

-Tiket Pesawat Ekonomi Jakarta-Jeddah (PP)
 - Visa Umrah
- Manasik
- Akomodasi (Hotel) dan Transportasi (Bis) Sesuai Paket Selama Program
- Ziarah (Makkah, Madinah dan Jeddah)
- Pembimbing Ibadah (Muthawif)
- Air Zam-Zam 5 (Lima) Liter
- Makan 3X Sehari
- Umrah 2X
- City Tour
- Asuransi Perjalanan
- Handling & Perlengkapan


Sumber : Bareksa

Kita coba lakukan simulasi investasi di reksadana syariah dengan menggunakan kalkulator investasi Bareksa. Untuk menyiapkan dana pokok investasi Rp21,5 juta dalam jangka waktu 24 bulan misalnya, kita mesti menabung Rp895.834 per bulan atau setara Rp29.861 per hari.

Angka itu setara dengan harga sebungkus rokok yang mencapai Rp25.000 hingga Rp29.000. Dana itu kemudian kita tempatkan di reksadana syariah yang berpotensi memperoleh imbal hasil di atas 5 persen per tahun.

Saat ini di Bareksa Umroh tersedia tiga produk reksadana pasar uang syariah yang bisa dipilih. Yakni Mandiri Pasar Uang Syariah Ekstra, Cipta Dana Kas Syariah dan Syailendra Sharia Money Market Fund.

Ketiga reksadana tersebut dalam sebulan terakhir memberikan imbal hasil 0,43-0,5 persen dalam sebulan terakhir (per 9 Oktober 2019). Artinya jika disetahunkan, maka ketiga reksadana tersebut berpeluang memberikan imbal hasil antara 5,16 persen hingga 6 persen.


Sumber : Bareksa

Dalam jangka 2 tahun, maka dana pokok investasi di reksadana syariah yang senilai Rp21,5 juta sudah mencukupi biaya kita untuk umroh dengan paket Hemat 12 hari.

Tidak hanya itu, karena kita menempatkan dana di reksadana pasar uang syariah, maka berpotensi memperoleh imbal hasil. Misalkan kita masukkan potensi imbal hasil yang diharapkan 5 persen tahun, yang merupakan angka median rata-rata imbal hasil reksadana pasar uang syariah.

Dana pokok Anda selama 2 tahun di reksadana pasar uang syariah telah bertumbuh menjadi Rp22,562.403. Artinya tabungan umroh  tersebut berpotensi meraih imbal hasil Rp1,06 juta yang bisa digunakan untuk tambahan uang saku untuk membiayai perjalanan umroh kita. Nilai itu jauh lebih baik jika hanya di tabungan syariah biasa atau bahkan deposito. 

Tidak terasa bukan, hanya dengan Rp29 ribuan per hari yang setara dengan harga sebungkus rokok, kita bisa menabung untuk biaya umrah. Menabung di reksadana syariah juga halal dan bebas riba sesuai fatwa MUI.

Tertarik untuk mencoba?

Untuk diketahui, PT Bareksa Portal Investasi (Bareksa), yang mengoperasikan marketplace investasi terintegrasi Bareksa.com, pada 10 Juli 2019 secara resmi telah meluncurkan Bareksa Umroh, platform yang menawarkan layanan rencana simpanan di reksa dana syariah untuk membiayai perjalanan ibadah umrah. Informasi selengkapnya mengenai Bareksa Umroh klik tautan ini

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.