Bareksa Insight : Harga Minyak Turun di Bawah US$100 per Barel, Berkah Buat Reksadana Ini

Abdul Malik • 16 Mar 2022

an image
Ilustrasi kenaikan dan penurunan harga minyak yang berdampak terhadap kinerja pasar keuangan, termasuk IHSG, reksadana, SBN dan emas. (Shutterstock)

Penurunan harga emas hitam justru dinilai investor sebagai sinyal cukup baik di tengah kekhawatiran potensi lonjakan inflasi global

Bareksa.com - Penurunan harga minyak yang pagi ini anjlok hingga 0,7 persen ke level di bawah US$100 per barel atau tepatnya US$99,13 per barel untuk Brent dan US$95,57 per barel untuk West Texas Intermediate (WTI) justru direspons positif oleh investor. 

Sebab, menurut analisis Bareksa,  penurunan harga emas hitam itu justru dinilai investor sebagai sinyal cukup baik di tengah kekhawatiran potensi lonjakan inflasi global saat ini. 

Sebelumnya harga minyak dunia terus meroket hingga menyentuh US$127,9 per barel pada 8 Maret 2022 untuk jenis Brent, akibat sentimen konflik Rusia - Ukraina.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa​

Dari pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat ke level 2,13 persen pada perdagangan kemarin. 

Sedangkan yield Obligasi Pemerintah Indonesia bertahan pada level 6,73 persen di tengah sentimen pengumuman kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) pada Kamis dini hari besok.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin (15/3) ditutup melemah 0,49 persen ke level 6.918. 

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Apa yang bisa dilakukan investor?

Analisis Bareksa melihat reksadana berbasis sahammasih akan bergerak terbatas dengan investor mulai beralih ke saham berkapitalisasi besar dan sektor properti. 

Investor global masih menunggu hasil diskusi antara Rusia dan Ukraina yang terjadi pada Selasa Waktu setempat. Investor mulai melihat harga komoditas akan kembali relatif stabil hingga ada sebuah keputusan besar dari Rusia dan negara lain untuk mencabut sanksi kepada Negara Beruang Merah tersebut.

Analisis Bareksa memperkirakan reksadana pendapatan tetap berpotensi menguat di tengah peluang yield obligasi akan naik menjadi di area 6,8 persen, guna menjaga yield spread dengan obligasi AS tetap atraktif yang saat ini mencapai 2,1 persen. 

Dengan kepemilikan asing pada obligasi negara di bawah 19 persen, analisis Bareksa melihat fluktuasi yield obligasi Indonesia dapat lebih stabil, meskipun kenaikan suku bunga acuan The Fed pada tahun ini diwacanakan akan naik 5 kali.

Baca : Cara Dapat Passive Income Rp7,4 Juta per Bulan

Di tengah sentimen penurunan harga minyak, kenaikan suku bunga acuan The Fed dan perkembangan terkini konflik Rusia - Ukraina, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa membertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 15 Maret 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 31,7 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 21,02 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 15 Maret 2022)

Reksadana Saham

Eastspring Investment Value Discovery Kelas A : 12,18 persen
Trim Kapital : 12,32 persen

Reksadana Indeks

BNP Paribas SriKehati : 20,01 persen
RHB SRI KEHATI Index Fund : 19,8 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.