
Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,88% ke 6.031,28 pada Kamis (8/10/2026) dan masih turun 9,8% sebulan. Investor asing mencatat jual bersih Rp867,27 miliar. Harga minyak Brent naik 3,92% ke US$104,13 per barel, sementara imbal hasil SBN 10 tahun naik ke 7,236%.
Yang terjadi: IHSG turun 1,88% ke 6.031,28, rupiah melemah tipis 0,08% ke Rp17.888 per dolar AS, emas dunia naik 0,60% ke US$4.133,10 per ons, dan imbal hasil SBN 10 tahun naik ke 7,236%.
Penyebab utama: bursa Asia melemah setelah risalah rapat The Fed (bank sentral AS) membuka peluang bunga naik lagi, dan asing jual bersih Rp867 miliar; harga minyak yang naik dapat mendorong inflasi, sehingga bunga bisa bertahan tinggi lebih lama.
Yang perlu dicermati: data inflasi AS September (14/10 waktu AS), rapat The Fed 28 Oktober (peluang naik bunga 17,7% menurut CME FedWatch), pemilu sela AS 3 November, keputusan MSCI soal pasar Indonesia pada November, serta ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz.
Yang dapat dipertimbangkan: SBR015 (sampai 22 Oktober), reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap secara bertahap, reksadana campuran dicicil untuk jangka panjang, dan emas, sesuai profil risiko.
Ringkasan Data Pasar
Indikator | Posisi 8 Okt 2026 | Perubahan |
|---|---|---|
IHSG | 6.031,28 | Turun 1,88% harian; naik 0,36% sepekan; turun 9,80% sejak 8/9 |
Rupiah (USD/IDR) | Rp17.888 | Melemah 0,08% harian; menguat 0,32% sepekan; melemah 1,46% sejak 8/9 |
Emas dunia | US$4.133,10 per ons | Naik 0,60% harian; turun 1,10% sepekan; turun 5,11% sejak 8/9 |
Minyak Brent (patokan harga minyak dunia) | US$104,13 per barel | Naik 3,92% harian; naik 1,78% sepekan; naik 6,34% sejak 8/9 |
Imbal hasil SBN 10 tahun (obligasi pemerintah RI) | 7,236% | Naik dari 7,168% sehari sebelumnya; naik dari 7,159% sepekan lalu; naik dari 7,088% pada 8/9 |
Imbal hasil obligasi AS 10 tahun | 5,225% | Turun dari 5,277% sehari sebelumnya; turun dari 5,234% sepekan lalu; naik dari 4,804% pada 8/9 |
Peluang The Fed naikkan bunga (28 Okt) | 17,7% (ditahan 82,3%) | Sama dengan sehari sebelumnya; turun dari 24,4% sepekan lalu; naik dari 15,8% pada 8/9 |
Sumber: Investing, Financial Times, CME FedWatch, diolah Bareksa
IHSG mencatat penurunan harian terbesar di antara aset utama Indonesia. Tekanannya searah: saham turun, imbal hasil SBN naik 6,8 basis poin (0,068 poin persen), dan rupiah melemah tipis. Artinya, investor sedang menghindari risiko.
Penurunan terjadi luas: 518 saham turun dan hanya 187 naik, dipimpin sektor infrastruktur, energi, dan material dasar. Asing jual bersih Rp867,27 miliar, terbesar di saham BBRI dan BMRI. Bursa Asia juga melemah karena imbal hasil obligasi AS yang tinggi, setelah risalah The Fed menunjukkan mayoritas pejabat melihat kenaikan bunga lagi mungkin terjadi hingga akhir tahun.
Sinyal berikutnya datang dari minyak. Brent naik 3,92% ke US$104,13 per barel setelah serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Minyak mahal dapat menaikkan inflasi, sehingga bunga bisa bertahan tinggi lebih lama. Emas justru naik 0,60% karena dicari sebagai aset aman (Kitco News).
Sumber: Investing.com, Financial Times.
SBR015 dapat dicermati investor untuk mengamankan dananya di tengah gejolak pasar. SBR015 hanya bisa dibeli selama masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026. Kupon bersifat mengambang dengan batas minimal. SBR015 menawarkan kupon tertinggi untuk seri SBR sejak 2020.
Seri | Tenor | Kupon minimal per tahun |
|---|---|---|
SBR015T2 | 2 tahun | 6,75% |
SBR015T4 | 4 tahun | 6,85% |
Sumber: DJPPR Kemenkeu
Reksadana pasar uang berinvestasi di instrumen jangka pendek yang relatif mudah dicairkan, sehingga dapat dicermati untuk dana jangka pendek saat pasar bergejolak.
Reksadana | Return 1 tahun |
|---|---|
Setiabudi Dana Pasar Uang | 5,23% |
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,8% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 8/10/2026
Reksadana ini dapat dicermati untuk masuk bertahap dengan tujuan jangka menengah. Nilainya dapat naik-turun mengikuti imbal hasil obligasi.
Reksadana | Return 1 tahun |
|---|---|
Syailendra Sharia Fixed Income A | 6,3% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 5,91% |
Sumber: Bareksa, per 8/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Reksadana campuran berisi saham, obligasi, dan pasar uang sehingga lebih fluktuatif. Pada 8/10 keduanya turun lebih dari 1% mengikuti saham, sehingga dapat dicermati dengan dicicil bertahap untuk tujuan 3 tahun ke atas.
Reksadana | Return 1 hari | Return 1 tahun |
|---|---|---|
Syailendra Balanced Opportunity | -1,31% | 6,14% |
Danapathi Balance Fund | -1,17% | 14,48% |
Sumber: Bareksa, per 8/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Emas dunia ditutup naik 0,60% ke US$4.133,10 per ons (8/10), tetapi masih turun 5,11% sejak 8 September. Membeli sedikit demi sedikit secara rutin (dollar cost averaging) dapat dicermati untuk jangka panjang.
Platform | Harga beli per gram |
|---|---|
Treasury | Rp2.434.432 |
Pegadaian | Rp2.435.000 |
Indogold | Rp2.395.272 |
Sumber: Bareksa Emas, 9/10/2026 pagi.
IHSG turun 1,88% saat asing jual bersih, imbal hasil SBN naik, dan harga minyak menembus US$104. Risiko bunga tinggi lebih lama masih membayangi. Produk yang dapat dicermati sesuai profil risiko: SBR015, pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan emas.
Bunga AS bisa naik lagi. Risalah The Fed membuka peluang kenaikan hingga akhir tahun, sehingga rupiah, saham, dan emas dapat kembali tertekan.
Harga minyak bisa terus naik. Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz dapat mendorong inflasi dan menahan bunga tetap tinggi.
Nilai reksadana bisa naik-turun. Reksadana campuran mengikuti saham dan obligasi; reksadana pendapatan tetap turun saat imbal hasil obligasi naik.
Agenda November menambah ketidakpastian. Pemilu sela AS dan keputusan MSCI dapat memicu gejolak pasar.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Kondisi saat investor asing menjual saham lebih banyak daripada membeli dalam satu hari. Jual bersih besar dapat menekan IHSG dan rupiah.
Imbal hasil adalah keuntungan pemegang obligasi. Saat investor menjual obligasi, harganya turun dan imbal hasilnya naik.