
Bareksa – Pasar keuangan global memasuki pekan ini dengan sentimen yang lebih kondusif setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat jauh lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih cepat memangkas suku bunga, sehingga mendorong kenaikan harga emas sekaligus menopang aset berisiko seperti saham.
Di Indonesia, sentimen positif ikut tercermin pada penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks naik 1,04% ke 6.409,65 pada Jumat (7/8) dan telah menguat 2,78% dalam sepekan, didukung arus dana asing yang kembali mencatat net buy sekitar Rp1,2 triliun. Rupiah juga menguat ke kisaran Rp17.890 per dolar AS.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko eksternal. Harga minyak Brent kembali naik ke US$84,46 per barel di tengah ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara yield SBN Indonesia tenor 10 tahun naik ke 7,31%. Kondisi ini membuat strategi diversifikasi portofolio tetap menjadi pilihan yang relevan.
Data nonfarm payroll Amerika Serikat pada Juli justru mencatat penurunan 23.000 tenaga kerja, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 80 ribu pekerjaan. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga lagi.
Dampaknya langsung terlihat di berbagai kelas aset.
Yield US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,66%.
Harga emas sempat melonjak hingga US$4.372 per ons pada 7 Agustus sebelum bergerak di kisaran US$4.340 per ons pada Senin (10/8).
Bursa saham global memperoleh sentimen positif karena prospek biaya pinjaman yang lebih rendah.
Namun di sisi lain, ketidakpastian geopolitik masih membayangi setelah harga minyak Brent kembali naik akibat belum pastinya pembukaan Selat Hormuz.
IHSG berhasil melanjutkan penguatan setelah investor asing kembali melakukan akumulasi saham. Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia, IHSG ditutup naik 1,04% ke level 6.410 dengan sektor Infrastruktur, Basic Materials, dan Teknologi menjadi motor utama kenaikan.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.324–6.454 dengan bias positif, meski area 6.454 masih menjadi resistance penting yang perlu ditembus agar membuka ruang kenaikan lebih lanjut.
Sentimen global mulai membaik berkat meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga AS. Namun kenaikan harga minyak serta masih tingginya ketidakpastian geopolitik menunjukkan volatilitas belum sepenuhnya mereda.
Dalam kondisi seperti ini, diversifikasi tetap menjadi strategi yang relevan. Investor dengan profil risiko agresif dapat mencermati reksadana saham untuk memanfaatkan momentum penguatan IHSG. Investor moderat dapat mempertimbangkan reksadana campuran karena memiliki fleksibilitas mengalokasikan aset pada saham maupun obligasi. Sementara itu, reksadana pasar uang tetap dapat dimanfaatkan sebagai instrumen menjaga likuiditas.
Produk | Return 1 Bulan | Return 1 Tahun |
Sucorinvest Maxi Fund | 6,87% | 54,64% |
TRAM Consumption Plus Kelas A | 9,61% | 4,20% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 7 Agustus 2026.
Produk | Return 1 Bulan | Return 1 Tahun |
Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A | 6,86% | 27,19% |
Danapathi Balance Fund | 8,2% | 22,44% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 7 Agustus 2026
Produk | Return 1 Tahun |
Insight Money | 5,21% |
Syailendra Dana Kas | 4,67% |
Sucorinvest Money Market USD | 3,56% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,34% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 7 Agustus 2026
Harga emas dunia tetap bertahan di level tinggi setelah lonjakan tajam pada akhir pekan lalu. Walaupun sempat terkoreksi tipis pada perdagangan Senin pagi, logam mulia masih memperoleh dukungan dari turunnya yield Treasury AS serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga.
Bagi investor jangka panjang, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) masih layak dipertimbangkan untuk membangun kepemilikan emas secara bertahap tanpa bergantung pada fluktuasi harga harian.
Harga beli emas digital per gram (10 Agustus 2026 pagi):
Treasury : Rp2.545.600
Pegadaian : Rp2.573.550
Indogold : Rp2.544.396
Melemahnya data ketenagakerjaan AS menjadi katalis positif bagi pasar karena meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut mendorong penguatan IHSG dan harga emas, meski ketidakpastian geopolitik serta kenaikan harga minyak masih berpotensi memicu volatilitas. Dalam situasi seperti ini, investor dapat mempertimbangkan diversifikasi melalui reksadana saham untuk menangkap momentum pasar, reksadana campuran untuk keseimbangan portofolio, reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, serta emas sebagai pelengkap portofolio jangka panjang.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
IHSG didukung kembali masuknya dana asing serta membaiknya sentimen global setelah data tenaga kerja AS lebih lemah dari perkiraan.
Data yang lemah meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed sehingga menurunkan yield obligasi AS dan membuat emas lebih menarik.
Pasar masih mencermati ketidakpastian pembukaan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Momentum penguatan IHSG dan kembalinya arus dana asing dapat menjadi sentimen positif bagi reksadana berbasis saham.
Instrumen ini dapat membantu menjaga likuiditas portofolio ketika volatilitas pasar global masih tinggi.