Bareksa Insight: Wall Street Melemah, Cermati Reksadana Pasar Uang, Pendapatan Tetap & Emas

Abdul Malik • 07 Aug 2026

an image
Ilustrasi Wall Street, New York, lokasi kantor Bursa Saham Amerika Serikat (AS) . (Shutterstock)

Ketegangan Iran-Selat Hormuz memicu lonjakan minyak dan menekan Wall Street. Namun yield SBN Indonesia tetap stabil. Simak peluang reksadana pasar uang, pendapatan tetap dan emas.

Bareksa – Ketegangan geopolitik kembali mengguncang pasar keuangan global setelah Iran menyusun aturan baru yang memperketat lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu kembali menjadi sumber kekhawatiran investor sehingga harga minyak Brent melonjak 3,8% ke US$82,49 per barel pada perdagangan Kamis (6/8/2026). 

Bersamaan dengan itu, Wall Street melemah selama dua hari berturut-turut karena pasar kembali mengkhawatirkan tekanan inflasi apabila harga energi terus naik.

Di tengah sentimen tersebut, yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,68%, mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko maupun obligasi emerging market.

Namun menariknya, pasar obligasi Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang relatif baik. Yield SBN tenor 10 tahun bertahan di level 7,27%, tidak ikut melonjak mengikuti Treasury AS. Spread imbal hasil Indonesia terhadap Treasury AS masih berada di kisaran 266,7 basis poin, sehingga premi yield Indonesia tetap menarik bagi investor meski ketidakpastian global meningkat.

Investor Asing Masih Masuk ke Pasar Obligasi RI

Ketahanan pasar obligasi domestik juga tercermin dari arus dana investor asing. Sepanjang Juli 2026, investor asing membukukan net inflow Rp6,8 triliun ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Pada saat yang sama, Bank Indonesia tetap memilih menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen insentif dibanding menaikkan imbal hasil SRBI.

Di sisi lain, rupiah juga relatif stabil di kisaran Rp17.918 per dolar AS, meski tensi geopolitik meningkat. Stabilnya nilai tukar dan bertahannya yield SBN menunjukkan bahwa tekanan eksternal belum sepenuhnya mengganggu pasar obligasi domestik.

Apa Artinya Bagi Investor?

Kondisi pasar saat ini menunjukkan adanya perbedaan arah antara pasar global dan domestik. Di pasar global, lonjakan harga minyak dan kenaikan yield Treasury AS meningkatkan volatilitas sehingga investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

Sementara itu, di Indonesia, yield SBN yang relatif stabil memberi sinyal bahwa pasar obligasi masih cukup resilien. Kondisi ini membuat reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah tetap layak dicermati sebagai salah satu instrumen diversifikasi, terutama bagi investor yang ingin memanfaatkan potensi stabilnya pasar obligasi domestik.

Bagi investor yang mengutamakan fleksibilitas, reksadana pasar uang juga dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas hingga ketidakpastian global mulai mereda.

Reksadana Pasar Uang Masih Menarik untuk Parkir Dana

Di tengah volatilitas pasar global, reksadana pasar uang dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin menjaga likuiditas sekaligus memperoleh potensi imbal hasil yang relatif stabil.

Reksadana Pasar Uang (Return 1 Tahun)

Produk

Return

Insight Money Syariah

5,23%

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

4,51%

Sucorinvest Money Market USD

3,56%

BRI Seruni Liquid Dolar

3,35%

Sumber: Bareksa, kinerja per 6/8/2026

Reksadana Pendapatan Tetap Layak Dicermati 

Yield SBN acuan yang bertahan di 7,27% menjadi salah satu faktor yang dapat menopang prospek reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah apabila stabilitas pasar obligasi domestik tetap terjaga.

Reksadana Pendapatan Tetap Rupiah (Return 1 Tahun)

Produk

Return

Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A

0,82%

BNP Paribas Prima II Kelas RK1

0,60%

Reksadana Pendapatan Tetap USD (Return 6 Bulan)

Produk

Return

Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A

0,53%

STAR Fixed Income NEO AI Dollar

3,13%

Sumber: Bareksa, kinerja per 6/8/2026

Emas Masih Relevan Sebagai Diversifikasi

Harga emas spot dunia memang terkoreksi tipis 0,42% menjadi US$4.235 per ons, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam tujuh pekan di US$4.306 per ons. Koreksi tersebut lebih mencerminkan aksi ambil untung setelah reli kuat dibanding perubahan tren jangka panjang.

Bagi investor jangka panjang, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tetap dapat dipertimbangkan untuk membangun kepemilikan emas secara bertahap tanpa bergantung pada pergerakan harga jangka pendek.

Harga beli emas digital per gram pada Jumat (7/8/2026) pagi:

  • Treasury : Rp2.510.763

  • Pegadaian : Rp2.556.593

  • Indogold : Rp2.506.212

Kesimpulan

Pasar global kembali memasuki fase yang lebih menantang akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dan kenaikan yield Treasury AS memang meningkatkan volatilitas pasar.

Namun, stabilnya yield SBN Indonesia, tetap menariknya spread terhadap Treasury AS, serta masuknya dana asing ke pasar obligasi domestik menunjukkan bahwa pasar fixed income Indonesia masih memiliki fondasi yang relatif kuat. Dalam kondisi seperti ini, investor dapat mempertimbangkan strategi yang lebih defensif dengan memanfaatkan reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, reksadana pendapatan tetap sebagai instrumen diversifikasi, serta emas sebagai pelengkap portofolio jangka panjang sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa  membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

***​​​​​​​​​

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Mengapa Wall Street melemah?

Karena meningkatnya ketegangan Iran-Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi.

Mengapa yield SBN Indonesia tetap diperhatikan investor?

Karena yield SBN tenor 10 tahun bertahan di 7,27% meski yield Treasury AS naik, menunjukkan pasar obligasi domestik relatif stabil.

Mengapa reksadana pasar uang layak dicermati?

Karena dapat membantu menjaga likuiditas ketika volatilitas pasar global meningkat.

Mengapa reksadana pendapatan tetap masih menarik?

Stabilnya yield SBN dapat menjadi sentimen positif bagi portofolio berbasis obligasi pemerintah, terutama sebagai instrumen diversifikasi.

Apakah emas masih menarik setelah terkoreksi?

Bagi investor jangka panjang, strategi pembelian bertahap (DCA) dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.