
Bareksa – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound 1,56% ke 6.186,36 pada perdagangan Kamis (30/7/2026) setelah pasar merespons positif keputusan The Fed mempertahankan Fed Rate di kisaran 3,5%-3,75% pada 29 Juli 2026.
Meski begitu, rupiah masih berada di Rp18.056,8 per dolar AS (31/7) dan yield SBN tenor 10 tahun bertahan di 7,34% (30/7).
Kombinasi peluang kenaikan pasar saham seiring rebound IHSG dan yield obligasi yang masih tinggi menciptakan kondisi yang menarik bagi reksadana campuran. Instrumen ini mengombinasikan investasi pada saham dan obligasi sehingga berpotensi memanfaatkan peluang dari kedua kelas aset sekaligus.
Di sisi lain, reksadana pendapatan tetap tetap menarik untuk memanfaatkan pasar obligasi, reksadana pasar uang berperan sebagai instrumen defensif, sedangkan emas melengkapi diversifikasi portofolio.
IHSG rebound 1,56% ke 6.186,36.
Yield SBN tenor 10 tahun bertahan di 7,34%.
Reksadana campuran menjadi pilihan utama di tengah peluang saham dan obligasi.
Reksadana pendapatan tetap tetap menarik, reksadana pasar uang defensif.
Koreksi tipis emas membuka peluang akumulasi bertahap.
Reksadana campuran mengalokasikan dana di saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Ketika pasar saham mulai menunjukkan pemulihan sementara yield obligasi masih tinggi, manajer investasi memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan komposisi portofolio sehingga berpotensi mengoptimalkan peluang dari kedua pasar.
Pilihan Reksadana Campuran
Produk | Return 1 Bulan |
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1,45% |
Sucorinvest Anak Pintar | 6,6% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 30/7/2026
Yield SBN tenor 10 tahun bertahan tinggi di 7,34% (30/7), naik tipis dibanding sehari sebelumnya dan masih menawarkan spread sekitar 2,67 poin persentase dibanding US Treasury tenor 10 tahun di kisaran 4,67%. Kondisi ini membuat reksadana pendapatan tetap tetap layak dicermati bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang di pasar obligasi.
Pilihan Reksadana Pendapatan Tetap
Produk | Return |
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A | 1,68% (1 Tahun) |
Mandiri Investa Dana Syariah Kelas A | 1,67% (1 Tahun) |
BNP Paribas Prima USD Kelas RK 1 | 0,34% (1 Tahun) |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 1,34% (6 Bulan) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 30/7/2026
Bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas portofolio, reksadana pasar uang tetap relevan di tengah volatilitas pasar.
Pilhan Reksadana Pasar Uang
Produk | Return |
Insight Money Syariah | 5,25% (1 Tahun) |
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia | 4,52% (1 Tahun) |
Mandiri Money Market USD | 2,63% (1 Tahun) |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,38% (1 Tahun) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 30/7/2026
Harga emas spot turun tipis dari US$4.105,72/oz (30/7) menjadi US$4.093/oz (31/7 pagi). Koreksi ini dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi bertahap, sementara emas tetap berperan sebagai instrumen diversifikasi.
Harga Emas Digita
Platform | Harga |
Treasury | Rp2.446.628 |
Pegadaian | Rp2.506.718 |
Indogold | Rp2.404.560 |
Sumber: fitur Bareksa Emas per 31 Juli 2026 pagi
Instrumen | Strategi | Alasan |
Reksa Dana Campuran | Dicermati | Peluang dari saham dan obligasi sekaligus |
Reksa Dana Pendapatan Tetap | Dipertimbangkan | Yield SBN masih tinggi |
Reksa Dana Pasar Uang | Dipertahankan | Menjaga likuiditas |
Emas | Akumulasi Bertahap | Diversifikasi jangka panjang |
IHSG rebound 1,56% memberi sinyal sentimen pasar mulai membaik.
Yield SBN tenor 10 tahun yang masih tinggi membuka peluang di pasar obligasi.
Reksadana campuran menjadi pilihan utama karena memanfaatkan peluang dari saham dan obligasi sekaligus.
Reksadana pasar uang tetap relevan untuk menjaga likuiditas.
Koreksi tipis harga emas dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk akumulasi bertahap.
Rebound IHSG dan yield SBN yang masih tinggi menciptakan kombinasi peluang di pasar saham dan obligasi. Dalam kondisi tersebut, reksa dana campuran layak menjadi perhatian utama karena memiliki fleksibilitas memanfaatkan kedua kelas aset, didukung reksadana pendapatan tetap untuk menangkap peluang di pasar obligasi, reksadana pasar uang sebagai instrumen defensif, serta emas sebagai pelengkap diversifikasi portofolio.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Karena dapat memanfaatkan peluang dari pasar saham yang mulai pulih sekaligus pasar obligasi yang masih menawarkan yield tinggi.
Yield SBN tenor 10 tahun yang masih tinggi mendukung prospek instrumen berbasis obligasi.
Investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas portofolio.
Ya. Koreksi tipis harga emas dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk akumulasi bertahap sekaligus menjaga diversifikasi portofolio.
Mengutamakan reksa dana campuran, melengkapi dengan reksa dana pendapatan tetap, mempertahankan reksa dana pasar uang, dan melakukan akumulasi emas secara bertahap sesuai profil risiko.