
Bareksa - Data tenaga kerja AS mengejutkan pasar. Nonfarm payrolls Juni hanya 57.000 — separuh dari proyeksi 114.000 — dan probabilitas The Fed menahan suku bunga di 3,5–3,75% pada FOMC 29 Juli kini mencapai 75,6% (CME FedWatch).
IHSG naik empat sesi berturut-turut ke 5.916 pada Senin (6/7). Rupiah masih tertekan di Rp18.011 per dolar AS, yield SBN 10 tahun di 7,15%.
Di tengah sinyal pasar yang bercampur itu, ORI030 resmi dibuka masa penawarannya.
Obligasi Negara Ritel seri ORI030 ditawarkan DJPPR Kemenkeu mulai 6–30 Juli 2026, target penerbitan Rp20 triliun. Dua tenor tersedia:
Tenor | Jatuh Tempo | Kupon | Kupon Bersih (pajak 10%) |
|---|---|---|---|
ORI030-T3 | 15 Juli 2029 | 6,9% p.a. | 6,21% p.a. |
ORI030-T6 | 15 Juli 2032 | 7,0% p.a. | 6,3% p.a. |
Sumber: DJPPR Kemenkeu, diolah
Kupon fixed rate, tidak berubah hingga jatuh tempo. Dibayar bulanan mulai 15 September 2026. Deposito kena pajak 20%, sedangkan ORI030 hanya 10%. Pokok dan kupon dijamin negara. Minimum Rp1 juta, maksimum Rp5 miliar (T3) dan Rp10 miliar (T6).
BI Rate kini di 5,75% setelah naik 100 bps dalam dua bulan. Secara historis kupon ORI selalu di atas BI Rate dengan selisih rata-rata 133 bps — ORI030 mencerminkan pola itu. Jika BI memangkas suku bunga ke depan, pemegang ORI030 berpotensi menikmati capital gain di pasar sekunder, di atas kupon yang sudah berjalan. ORI030-T6 juga berstatus SDG Bond Ritel.
Parkir dana di reksadana pasar uang sambil mengumpulkan modal untuk ORI030 (penawaran tutup 30 Juli). BI Rate 5,75% membuat return RDPU tetap kompetitif dengan risiko minimal.
Reksadana | Return 1 Bulan |
|---|---|
Insight Money | 0,37% |
STAR Money Market Kelas Utama | 0,32% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 6/7/2026
Yield SBN 10 tahun turun dari 7,44% (11 Juni) ke 7,15% (6 Juli), mencerminkan pasar obligasi mulai menyerap sentimen positif. Reksadana pendapatan tetap yang mengakumulasi obligasi di level yield tinggi berpotensi capital gain ketika BI mulai memangkas. Pantau data cadangan devisa Juni dan RDG BI berikutnya sebagai katalis jangka pendek.
Reksadana | Return 1 Bulan |
|---|---|
Trimegah Dana Tetap Syariah Kelas A | 1,13% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 0,95% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 6/7/2026
Rupiah melemah 8% YTD. Reksadana USD menawarkan eksposur dolar tanpa perlu rekening valas. Return bulanannya memang lebih kecil dari RDPU rupiah.
Reksadana Pasar uang USD
Reksadana | Manajer Investasi | Return 1 Bulan |
|---|---|---|
BRI Seruni Likuid Dolar | BRI Manajemen Investasi | 0,26% |
Bahana Liquid USD | Bahana TCW Investment Management | 0,23% |
Mandiri Money Market USD | Mandiri Manajemen Investasi | 0,22% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 6/7/2026
Mandiri Money Market USD misalnya, dengan AUM US$748,69 juta, portofolio seluruhnya instrumen pasar uang dan deposito bank BUMN serta surat utang Pemerintah RI bertenor di bawah satu tahun.
Eksposur obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar (INDON) dengan booster saham teknologi AS berbasis AI:
Reksadana | Return 3 Bulan |
|---|---|
STAR Fixed Income Neo AI Dollar | 4,72% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 6/7/2026
Emas rebound ke US$4.149/troy ons seiring data NFP yang lemah menekan ekspektasi suku bunga AS. Strategi akumulasi bertahap saat harga melemah bisa dipertimbangkan investor, sembari menanti arah kebijakan The Fed.
Platform | Harga Beli (7/7/2026) |
|---|---|
Treasury | Rp2.482.469/gram |
Indogold | Rp2.458.740/gram |
Pegadaian | Rp2.564.573/gram |
Sumber: fitur Bareksa Emas
ORI030 adalah titik masuk yang jarang: imbal hasil tetap terkunci di puncak siklus suku bunga, dijamin negara, pajak lebih rendah dari deposito. RDPU sebagai basis likuiditas. Reksadana pendapatan tetap untuk antisipasi pemangkasan BI Rate. Reksadana USD untuk lindung nilai kurs. Emas sebagai pelengkap defensif.
Investor selalu disarankan mengelola portofolio investasinya sesuai dengan profil risiko dan horizon investasi masing-masing.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
ORI030 memberikan kupon fixed yang tidak berubah — investor tahu persis berapa yang masuk setiap bulan. Reksadana pendapatan tetap lebih fleksibel (bisa dicairkan kapan saja) tapi NAB-nya naik-turun mengikuti harga pasar obligasi. ORI030 untuk kepastian arus kas; reksadana pendapatan tetap untuk potensi apresiasi dan likuiditas tinggi.
Daftar sebagai nasabah Bareksa SBN, pesan minimal Rp1 juta melalui aplikasi Bareksa sebelum 30 Juli 2026 pukul 10.00 WIB. Settlement 5 Agustus 2026, kupon pertama 15 September 2026.
Bisa, mulai 16 September 2026 di pasar sekunder. Harga jual mengikuti pasar — capital gain jika yield turun, capital loss jika yield naik. Pegang hingga jatuh tempo untuk menghindari risiko harga.
Mengikuti Fed rate (3,5–3,75%), lebih rendah dari BI Rate (5,75%). Selisihnya dikompensasi oleh potensi apresiasi dolar terhadap rupiah, keduanya pelengkap, bukan kompetitor.
Sistem penilaian independen Tim Analis Bareksa berdasarkan konsistensi kinerja jangka panjang, kualitas manajer investasi, dan risk-adjusted return — bukan sekadar return tertinggi satu periode, serta GCG atau tata kelola yang baik.