
Bareksa - Pasar global mulai mencermati potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan Indonesia. Berdasarkan CME FedWatch per 18 Mei 2026, peluang kenaikan Fed Rate pada rapat Januari 2027 berada di kisaran 40%. Sementara itu, survei Bloomberg menunjukkan mayoritas analis memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan BI Rate 25 basis poin dari saat ini 4,75% menjadi 5% pada RDG 20 Mei 2026.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi muncul seiring kenaikan inflasi AS, kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,6%, serta harga minyak WTI yang berada di sekitar US$106 per barel. Kondisi tersebut membuat pasar mulai mengantisipasi sikap bank sentral yang lebih hawkish dalam beberapa bulan mendatang.
Di pasar domestik, potensi kenaikan BI Rate dinilai dapat memengaruhi saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah. Obligasi dan reksadana pendapatan tetap berpotensi mengalami fluktuasi lebih tinggi ketika yield naik. Sementara itu, reksadana pasar uang dan instrumen berbasis dolar AS mulai dilirik sebagian investor sebagai alternatif diversifikasi di tengah ketidakpastian pasar.
Instrumen Sukuk Tabungan seri ST016 juga bisa dicermati karena memiliki skema kupon floating with floor. Artinya, kupon ST016 berpotensi naik mengikuti kenaikan BI Rate, namun tidak akan turun di bawah batas minimal yang telah ditetapkan pemerintah. ST016T2 memiliki kupon minimal 6,05% dan ST016T4 sebesar 6,25% per tahun.
Dalam simulasi Kemenkeu, jika BI Rate naik dari 4,75% menjadi 5%, maka kupon ST016T2 berpotensi naik menjadi 6,3% dan ST016T4 menjadi 6,5% pada periode penyesuaian berikutnya, yakni 11 Agustus 2026. Sebaliknya, jika BI Rate turun ke 4,5%, kupon ST016 tidak ikut turun karena tetap mengacu pada batas minimal atau floor, yakni 6,05% untuk ST016T2 dan 6,25% untuk ST016T4.
Selain ST016, investor juga mulai mencermati produk reksadana yang dinilai lebih defensif di tengah potensi kenaikan suku bunga. Namun investor tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan jangka waktu investasi sebelum mengambil keputusan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan.
Indikator Pasar
Indikator | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
Peluang Kenaikan Fed Rate | 40% | CME FedWatch |
Konsensus BI Rate | 5% | Bloomberg |
US Treasury 10Y Yield | 4,6% | Reuters |
Harga Minyak WTI | US$106/barel | Investing.com |
Sumber data diolah Bareksa per 18 Mei 2026.
Simulasi Imbal Hasil ST016
Keterangan | ST016T2 | ST016T4 |
|---|---|---|
BI Rate Naik ke 5% | 6,3% | 6,5% |
BI Rate Turun ke 4,5% | 6,05% | 6,25% |
Kupon Minimal (Floor) | 6,05% | 6,25% |
Sumber: Kemenkeu, diolah Bareksa
Reksadana Pasar Uang
Produk | Return 1 Tahun |
|---|---|
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia | 4,99% |
KIM Money Market Fund | 5,12% |
Insight Money Syariah | 5,78% |
Reksadana Pendapatan Tetap
Produk | Return 1 Tahun |
|---|---|
KIM Fixed Income Fund Plus | 9,80% |
STAR Stable Amanah Sukuk | 7,69% |
STAR Stable Income Fund Kls Utama | 7,54% |
Reksadana USD
Produk | Return |
|---|---|
STAR Fixed Income Dollar | 4,25% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 3,35% (1 bulan) |
Mandiri Money Market USD | 2,81% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 13 Mei 2026.
Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan.
Pasar mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga global dan domestik. Dalam kondisi ini, investor cenderung lebih selektif memilih instrumen yang dinilai lebih defensif dan sesuai dengan profil risiko masing-masing.
1. Apa itu skema floating with floor pada ST016?
Kupon dapat menyesuaikan BI Rate namun tidak turun di bawah batas minimal yang ditetapkan pemerintah.
2. Kapan penyesuaian kupon ST016 dilakukan?
Penyesuaian dilakukan setiap tiga bulan sesuai ketentuan pemerintah.
3. Mengapa reksadana pasar uang mulai dilirik?
Karena dinilai relatif lebih stabil di tengah volatilitas pasar.
4. Apakah kenaikan suku bunga selalu negatif untuk investasi?
Tidak selalu, karena beberapa instrumen dapat memperoleh manfaat dari kenaikan suku bunga sesuai karakteristik produknya.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.