Ekonomi Mulai Bangkit, Sekarang Waktu Tepat Investasi Reksadana Saham?

Catatannya hanya untuk investor berprofil agresif dengan horison investasi jangka panjang
Jumat, 03 Juli 2020 09:48:21 WIB Martina Priyanti
Image
Seorang karyawan menunjukkan laman pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (5/6/2020). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Bareksa.com - Pandemi Covid 19 memberikan dampak pada perekonomian dunia termasuk Indonesia. Tak ayal, kegiatan perekonomian dan pasar finansial, dilakukan terbatas.

Selama masa pandemi, instrumen investasi dengan risiko dan volatilitas rendah seperti pasar uang menjadi pilihan investor. Namun, apakah sekarang ini sudah saatnya melirik instrumen saham, termasuk reksadana saham?

Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) seperti dilansir Detik Finance menyampaikan bagi investor berprofil agresif dengan horison investasi jangka panjang, saat ini bisa jadi saat yang tepat untuk secara bertahap berinvestasi kembali di reksadana saham. Hal itu didorong berbagai alasan.

Menurutnya, pergerakan pasar finansial Indonesia mulai menggeliat. Bersamaan dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan upaya penurunan kasus Covid 19, mendorong harapan bangkitnya ekonomi secara bertahap.

Tercatat, sejak akhir 2019 sampai dengan akhir Juni 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot dari level 6.299 ke level 4.905, atau melemah 22,1 persen. Level terendahnya pada 24 Maret, di mana IHSG sempat di level 3.937 atau melemah 37,5 persen, hanya dalam tiga bulan sejak akhir 2019.

Namun, dengan dukungan stimulus fiskal dan moneter dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI), harapan kembali terangkat. Langkah BI yang memangkas suku bunga 25 basis poin ke level 4,25 persen menjadi kabar positif bagi pasar finansial. Penurunan suku bunga diharapkan menjadi kabar baik bagi roda ekonomi, menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan ekonomi di era Covid-19.

Jika IHSG membaik, apakah ini saat yang tepat untuk investasi saham? Freddy mengatakan ke depannya, IHSG tentu masih akan berubah-ubah karena masih banyak faktor ketidakpastian mengenai pandemi Covid-19. Namun yang perlu diingat, IHSG adalah salah satu indikator yang bergerak berdasarkan ekspektasi atau harapan di masa depan.

Makanya, dengan harapan bangkitnya perekonomian secara bertahap, dukungan stimulus dan cukup banyaknya kawasan di dunia yang sudah berhasil menekan penyebaran wabah Covid-19, IHSG pun dapat meningkat.

Meski begitu, baiknya tetap diingat akan masih adanya risiko peningkatan kasus positif Covid-19 semakin tinggi dari hari ke hari, yang berpotensi menyebabkan diberlakukannya kembali kebijakan pembatasan skala besar yang bisa menekan ekonomi. Maka itu, profil risiko investor tetap harus dikedepankan.

Menurutnya, investasi di saham termasuk di reksadana saham adalah investasi jangka panjang. Jangan karena kondisi sesaat yang menyebabkan investasi terkoreksi, langsung memutuskan untuk menarik investasinya.

Ada baiknya, memikirkan kembali tujuan investasinya dan jangka waktu. Ia menyarankan, kita bisa kembali melihat pergerakan IHSG sepanjang tahun berjalan sebagai referensi, bagaimana keputusan untuk tetap bertahan atau mencairkan investasi dapat membuat perbedaan kinerja yang sangat signifikan.

Konservatif Moderat

Di sisi lain bagi investor dengan profil konservatif moderat, bukan berarti tidak ada peluang. Reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap dapat menjadi pilihan.

Alasannya, di tengah era suku bunga rendah, reksadana pasar uang dan pendapatan tepat atau obligasi Indonesia masih menawarkan imbal hasil yang tetap atraktif.

(AM)

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER