Berita Hari Ini: Tarif Pajak Emiten Turun; Target Lelang SUN Rp40 Triliun

Prediksi harga emas global hingga US$10.000 per troy ounce; IMF perkirakan ekonomi Indonesia minus 3 persen 2020
Jumat, 26 Juni 2020 09:12:36 WIB Hanum Kusuma Dewi
Image
Pemerintah benar-benar mempercepat penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) bagi wajib pajak badan berbentuk perusahaan terbuka mulai tahun 2020 ini, dari 25 persen menjadi 22 persen.

Bareksa.com - Berikut sejumlah berita dan informasi terkait investasi dan ekonomi yang disarikan dari sejumlah media dan keterbukaan informasi Jumat (26/6/2020).

Penurunan Tarif Pajak

Ada kabar baik bagi korporasi. Pemerintah benar-benar mempercepat penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) bagi wajib pajak badan berbentuk perusahaan terbuka mulai tahun 2020 ini, dari 25 persen menjadi 22 persen.

Lewat Peraturan Pemerintah (PP) No. 30 Tahun 2020 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang Berbentuk Perseroan Terbuka. Aturan ini merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) No. 2 Tahun 2020 ini dan berlaku sejak tanggal diundangkan, yaitu pada 19 Juni 2020.

Ada beberapa poin penting dalam aturan itu, khususnya di pasal dua, yakni penyesuaian tariff atas PPh wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap menjadi 22 persen berlaku pada tahun pajak 2020 dan 2021.

Tarif akan kembali turun menjadi 20 persen dan mulai berlaku pada tahun pajak 2022.

Kemudian, tarif pajak 3 persen lebih rendah dari tarif PPh badan berlaku bagi wajib pajak dalam negeri berbentuk perseroan terbuka dengan jumlah keseluruhan saham yang disetor ke perdagangan pada bursa efek di Indonesia paling sedikit 40 persen dan memenuhi persyaratan tertentu.

Syarat ini sudah dipaparkan pemerintah dalam PP No 29/2020 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan dalam rangka Penanganan COVID-19. Aturan ini  memberikan fasilitas yang berkaitan dengan buyback saham, dengan empat persyaratan.

Lelang Surat Utang Negara

Pemerintah berencana menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa 30 Juni 2020. Pada lelang tersebut, pemerintah menetapkan target indikatif sebesar Rp 20 triliun - Rp 40 triliun dari tujuh seri yang ditawarkan.

Merujuk dari laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, ketujuh seri SUN yang akan dilelang adalah seri SPN (Surat Perbendaharaan Negara) dan FR (Fixed Rate). Lelang ini dilakukan guna memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2020.

Baca Juga: Seri-seri pendek akan diburu pada lelang SBSN, Selasa (23/6)

Berikut ketujuh seri SUN yang akan dilelang:
1. SPN03201001 yang jatuh tempo pada 1 Oktober 2020 dengan imbalan diskonto
2. SPN12210701 yang jatuh tempo pada 1 Juli 2021 dengan imbalan diskonto
3. FR0081 yang jatuh tempo pada 15 Juni 2025 dengan imbalan 6,5 persen
4. FR0082 yang jatuh tempo pada 15 September 2030 dengan imbalan 7 persen
5. FR0080 yang jatuh tempo pada 15 Juni 2035 dengan imbalan 7,5 persen
6. FR0083 yang jatuh tempo pada 15 April 2040 dengan imbalan 7,5 persen
7. FR0076 yang jatuh tempo pada 15 Mei 2048 dengan imbalan 7,375 persen

Lelang ini akan dibuka pada Selasa 30 Juni 2020 pukul 09.00 WIB dan ditutup pukul 11.00 WIB. Sedangkan tanggal setelmen jatuh pada Kamis 2 Juli 2020.

Penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price). SUN yang akan dilelang mempunyai nominal per unit sebesar Rp 1 juta.

Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian kompetitif (competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield yang diajukan. Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian non-kompetitif (non-competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield rata-rata tertimbang (weighted average yield) dari penawaran pembelian kompetitif yang dinyatakan menang.

Prediksi Harga Emas

Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2020) setelah terkoreksi pada perdagangan Rabu kemarin. Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 15:57 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.764,38/troy ons, menguat 0,17 persen di pasar spot.

Banyak analis yang memprediksi harga emas akan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Ada yang memprediksi emas akan mencapai US$ 2.000/troy ons, hingga yang paling tinggi US$ 4.000/troy ons dalam jangka panjang.

Kini, ada ramalan yang sangat ekstrim, dan sungguh gilak! Emas dunia diprediksi terbang hingga US$ 10.000/troy ons, oleh Dan Olivier, pendiri Myrmikan Capital.

Olivier melihat neraca (balance sheet) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sebagai faktor utama yang membawa harga emas terbang mengangkasa.

"The Fed, seperti yang ada ketahui, melakukan aksi pembelian aset uang masif akibat situasi yang disebabkan virus corona, oleh karena itu harga ekuilibrium emas juga naik dengan sepadan, harga emas yang seimbang dengan balance sheet The Fed kini sangat tinggi," kata Olivier, sebagaimana dilansir Kitco.

"Perkiraan saya sudah berubah, saya sekarang melihat harga emas bisa ke US$ 10.000/troy ons," tambahnya.

Sayangnya, Olivier tidak menyebutkan dalam rentang waktu berada lama emas akan mencapai level US$ 10.000/troy ons.

Pertumbuhan Ekonomi

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tumbuh minus 0,3 persen karena pandemi virus corona. Untuk 2021, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi tersebut meningkat ke 6,1 persen.

Menurut IMF, pemulihan ekonomi di tengah pandemi virus corona yang masih ada menjadi tidak pasti. Bahkan dalam World Economic Outlook (WEO), IMF kembali merevisi output global 2020 hingga 4,9 persen  atau lebih dalam dibandingkan prediksi April 2020 dengan kontraksi 3,0 persen. Demikian dikutip dari data IMF, Kamis (25/5/2020).

Bila melihat data terbaru IMF, hanya dua negara yang pertumbuhan ekonominya tidak minus, di antaranya China dan Mesir. China diperkirakan tumbuh 1,0 persen dan pada 2021 naik ke 8,2 persen, sedangkan Mesir tumbuh 2,0 persen tahun ini.

Meskipun sudah banyak kegiatan ekonomi yang kembali dibuka, karakteristik untuk tetap jaga jarak sosial berkonspirasi menekan investasi dan konsumsi.

"Mengingat ketidakpastian yang luar biasa ini, para pembuat kebijakan harus tetap waspada," Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath.

IMF memandang resesi saat ini yang terburuk sejak depresi hebat pada 1930-an, di mana PDB global saat itu menyusut hingga 10 persen.

Kendati demikian, Gopinath menilai upaya bahwa dukungan fiskal US$10 triliun dan pelonggaran besar-besaran oleh bank sentral dari berbagai negara telah mencegah kebangkrutan dalam skala besar. Guna menjaga semua itu pun dibutuhkan lagi lebih banyak stimulus.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER