Rupiah Menguat, Reksadana Pasar Uang Jadi Pilihan Utama Investasi Jangka Pendek

Sebenarnya penguatan rupiah dalam seminggu terakhir paling banyak berpengaruh pada reksadana saham dan obligasi
Jumat, 05 Juni 2020 16:02:21 WIB Martina Priyanti
Image
Karyawan menunjukkan tumpukan uang rupiah dan dolar AS di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (20/4/2020). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Bareksa.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada hari ini, Jumat (5/6/2020) baik pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) maupun pada perdagangan di pasar spot. Penguatan rupiah, dinilai menjadi sinyal baik untuk memilih reksadana pasar uang untuk tujuan investasi jangka pendek.

Kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) menyebutkan nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp14.100 per dolar AS, menguat sekitar 0,4 persen dibanding posisi kemarin.


Sumber : BI

Pada penutupan perdagangan di pasar spot seperti dikutip CNBC Indonesia, nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp13.850 per dolar AS. Rupiah tercatat menguat 1,49 persen, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin. Sementara itu Bisnis.com mencatat nilai tukar rupiah pada hari menurut data BI diperdagangan pada bid Rp13.885 per dolar AS dan offer Rp13.660 per dolar AS.

"Ini menunjukkan penguatan dengan pandangan kami bahwa nilai tukar hari ini masih undervalue sehingga ke depan masih berpotensi menguat," tegas Gubernur BI Perry Warjiyo seperti dikutip Bisnis, Jumat (5/6/2020).

Menurutnya, rupiah masih undervalue karena beberapa faktor antara lain inflasi domestik yang rendah, defisit transaksi berjalan yang rendah, perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri, dan premi risiko yang turun. Untuk perbedaan suku bunga, interest rate differential Surat Berharga Negara (SBN) dan US treasury 10 tahun telah mencapai 6,2 persen.

Yield atau imbal hasil SBN mencapai 7,06 persen, sementara US treasury hanya sebesar 0,8 persen. "6,2 persen ini tinggi salah satu yang sering imbal hasil aset keuangan RI khususnya SBN masih tinggi," lanjut Perry.

BI melihat rupiah masih akan menguat ke depannya. Hal ini tampak dari indikator premi risiko credit default swap (CDS) yang sekarang kurang lebih 126.

Reksadana Pasar Uang

Head of Investment Avrist Asset Management (Avrist AM), Farash Farich mengatakan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sebenarnya dalam sepekan terakhir paling banyak berpengaruh pada reksadana saham dan obligasi.

"Reksadana pasar uang cenderung stabil dari sisi rate deposito perbankan. Untuk investasi jangka pendek, tidak ada pilihan selain pasar uang yang utama," kata Farash kepada Bareksa, Jumat (5/6/2020).

Sementara itu, ia melanjutkan jika kembali tren penguatan nilai tukar rupiah, untuk tujuan investasi jangka menengah dan panjang, maka dapat memilih reksadana saham dan obligasi. Alasannya untuk saham, karena valuasi saham masih under value sedangkan obligasi sedikit di bawah fair value jika untuk investasi jangka pendek.

"Tapi bisa juga ETF obligasi yang jangka pendek 5 tahun," ujar Farash.

(AM)

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER