AUM Industri Reksadana Naik Tipis Jadi Rp477,67 T April 2020, Begini Kinerjanya

Bulan lalu, industri reksadana nasional membukukan net subscription Rp837,89 miliar
Rabu, 06 Mei 2020 13:20:50 WIB Abdul Malik
Image
Ilustrasi manajer investasi sedang menghitung dana kelolaan reksadananya. (Shuttertock)

Bareksa.com - Setelah anjlok signifikan pada Maret 2020 terdampak sentimen negatif penyebaran wabah corona, industri reksadana nasional mulai bangkit pada April 2020. Dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) industri reksadana tercatat naik tipis 1 persen sepanjang April 2020.  

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per 30 April 2020, sepanjang April dana kelolaan industri investasi kolektif mencapai Rp477,67 triliun, naik tipis dibandingkan dengan posisi Maret sebesar Rp472,77 triliun. Dilansir Bisnis.com, pada bulan yang sama, jumlah subscription atau pembelian reksadana maupun penjualan atau redemption reksadana tercatat turun lebih dari 20 persen secara bulanan.

Sepanjang April, jumlah pembelian reksadana hanya mencapai Rp36,91 triliun, turun 20,21 persen secara bulanan. Begitu pula dengan aksi penarikan reksadana yang susut 46,71 persen menjadi Rp36,07 triliun. Bulan lalu, industri reksadana nasional membukukan net subscription Rp837,89 miliar.

Dana kelolaan reksadana yang naik tipis pada April 2020, bagaimana kinerja per jenis produknya? Berikut ulasannya :

Kinerja Reksadana

Reksadana saham syariah berhasil mencatatkan kinerja terbaik atau paling cemerlang sepanjang bulan April 2020 di tengah sentimen penyebaran wabah virus corona (Covid-19) dan pekan pertama pelaksanaan Ramadan. Jenis reksadana yang halal dan sesuai hukum syariat Islam tersebut kinerjanya melampaui jenis konvensional maupun reksadana lainnya.

Indeks reksadana saham syariah di Bareksa sepanjang bulan lalu (per 30 April 2020), membukukan return 6,74 persen, melampaui indeks reksadana saham yang mencatatkan return 5,57 persen.

Kinerja cemerlang juga dicatatkan indeks reksadana campuran syariah yang membukukan return 4,77 persen sebulan per 30 April 2020, hampir dua kali lipat dari indeks reksadana campuran yang mencatat return 2,74 persen.

Indeks reksadana pasar uang syariah mencetak return 0,35 persen sebulan, juga hampir dua kali lipat dari indeks reksadana pasar uang 0,18 persen.

Sedikit berbeda indeks reksadana pendapatan tetap syariah, mencetak return 0,34 persen sebulan terakhir. Nilai return itu di bawah indeks reksadana pendapatan tetap yang mencatat return 0,84 persen sebulan.

Kinerja Indeks Reksadana di Bareksa Sebulan (per 30 April 2020)


Sumber : Bareksa

Dalam daftar 10 reksadana return tertinggi sepanjang bulan April 2020 atau per 30 April bertepatan dengan sepekan pertama pelaksanaan Ramadan, enam di antaranya ditempati oleh reksadana saham syariah. Tidak tanggung-tanggung imbal hasilnya mencapai 24,27 persen sebulan, setelah sebelumnya sempat anjlok dalam sejak awal 2020 akibat sentimen wabah corona.

Empat reksadana lainnya ditempati oleh 3 reksadana saham dan 1 reksadana campuran konvensional. Imbal hasil top 10 reksadana pada April 2020 ialah di kisaran 13,56 persen hingga 24,27 persen sebulan. 

Juara pertama ditempati oleh reksadana saham HPAM Syariah Ekuitas dengan imbal hasil 24,27 persen sebulan, kemudian hingga posisi kelima oleh Manulife Greater Indonesia Fund (19,3 persen), Avrist Equity - Amar Syariah (18,77 persen), Manulife Saham SMC Plus (18,36 persen) dan reksadana campuran HPAM Flexi Plus (17,61 persen).

Top 10 Reksadana Return Tertinggi Sebulan per 30 April 2020


Sumber : Bareksa

Reksadana ialah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Reksadana juga diartikan, sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi.

Sebagaimana dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI), reksadana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksadana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Reksadana memberikan imbal hasil (return) dari pertumbuhan nilai aset-aset yang ada dalam portofolionya. Imbal hasil ini potensinya lebih tinggi dibandingkan dengan deposito atau tabungan bank.

Sebaiknya, jenis reksadana yang dipilih bisa disesuaikan dengan karakter kita apakah seorang high-risk taker, medium-risk taker atau low-risk taker. Jika kita kurang berani untuk mengambil risiko rugi, bisa memilih reksadana pasar uang.

Namun, jika kita cukup berani tapi masih jaga-jaga untuk tidak terlalu rugi, bisa coba fixed income (reksadana pendapatan tetap) atau balanced (reksadana campuran). Sementara jika kita cukup berani ambil risiko, bisa berinvestasi di reksadana saham (equity).

Selalu sesuaikan instrumen investasi dengan profil risiko dan target investasi kamu.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER