IHSG Anjlok Lagi, Reksadana Pendapatan Tetap Dominasi Juara Return Harian

IHSG sempat dihentikan sementara 30 menit (trading halt) sejak pukul 10:20 WIB setelah ambles 5,01 persen
Selasa, 31 Maret 2020 09:48:53 WIB Arief Budiman
Image
Karyawan bekerja di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/3/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau turun melemah di zona merah. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Bareksa.com - Mengawali perdagangan pekan terakhir di Maret 2020, bursa saham Tanah Air kembali harus mengalami tekanan. Setelah menikmati rally tajam di akhir pekan lalu, bursa saham domestik harus rela kembali berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin.

Pada Senin (30/03/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 2,88 persen ke level 4.414.5. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat dihentikan sementara 30 menit (trading halt) sejak pukul 10:20 WIB setelah IHSG ambles 5,01 persen.

Sekadar informasi, mulai kemarin perdagangan di BEI dipersingkat hingga pukul 15:00 WIB. Jam perdagangan secara total dipangkas 90 menit dari jam perdagangan reguler dan berlaku untuk perdagangan efek bersifat ekuitas (saham), ETF (exchange traded fund), DIRE (dana investasi real estate) dan DINFRA (dana infrastruktur).

Penyesuaian waktu perdagangan ini didasarkan atas perintah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna mendukung kebijakan pemerintah untuk menerapkan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dalam rangka meminimalisir penyebaran pandemi virus corona (COVID-19).

Untuk itu, dalam jam perdagangan baru ini, tak ada perubahan untuk jam pembukaan bursa, namun untuk perdagangan sesi I dikurangi 30 menit sehingga akan ditutup pada pukul 11.30 waktu JATS (Jakarta Automated Trading System).

Sementara untuk perdagangan sesi II tetap akan dimulai pukul 13.30 waktu JATS, namun hanya akan berlangsung hingga pukul 15.00 waktu JATS.

Koreksi yang terjadi pada IHSG kemarin disebabkan oleh pelaku pasar yang kembali dibuat cemas akan penyebaran pandemi COVID-19.


Sumber: Johns Hopkins CSSE

Berdasarkan data dari Johns Hopkins CSSE, hingga saat ini 178 negara sudah terpapar COVID-19 dan menjangkiti 777.286 orang, dengan korban meninggal sebanyak 37.140 orang dan 164.446 dinyatakan sembuh.

Sementara di Indonesia sendiri hingga kemarin, sudah ada 1.414 kasus positif COVID-19, dengan 122 orang korban jiwa dan 75 orang berhasil sembuh.

Guna meredam penyebaran COVID-19 semakin luas, sebelumnya sempat beredar kabar jika pemerintah berencana membatasi akses ke Jabodetabek alias lockdown. Kendaraan pribadi dan angkutan orang dilarang masuk, sementara angkutan logistik masih diperbolehkan.

Hal itu juga berlaku untuk kereta api yang memiliki rute perjalanan dari dan menuju Jabodetabek. Untuk penutupan ruas jalan, secara teknis, besar kemungkinan akan dilakukan blokade di sejumlah titik.

Namun kebijakan tersebut tampakya tidak diambil. Sekitar 30 menit sebelum perdagangan kemarin berakhir, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan pembatasan sosial sekala besar dan darurat sipil.

"Saya minta pembatasan sosial berskala besar, physical distancing dilakukan lebih tegas, lebih disiplin dan lebih efektif lagi sehingga tadi juga sudah saya sampaikan perlu didampingi kebijakan darurat sipil," kata Jokowi, Senin (30/03/2020).

Namun, Jokowi bakal meminta seluruh apotek dan toko-toko sembako tetap buka untuk layani kebutuhan warga. Hal tersebut dilakukan juga dengan protokol untuk menghindari jarak dekat.

"Kemudian bagi UMKM, pelaku usaha dan pekerja informal tadi sudah kita bicarakan bahwa pemerintah segera menyiapkan program perlindungan sosial dan stimulus ekonomi, ini yang akan segera kita umumkan kepada masyarakat, saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini," kata Jokowi dalam rapat terbadat kemarin.

Jokowi meminta kebijakan pembatasan sosial berskala besar ini segera disiapkan aturan pelaksanaannya yang lebih jelas kepada Provinsi, Kabupaten dan Kota.

"Saya ingatkan kebijakan kekarantinaan kesehatan termasuk karantina wilayah adalah kewenangan pemerintah pusat bukan kewenangan pemerintah daerah," tuturnya

Reksadana Pendapatan Tetap Dominasi Return Harian

Di tengah kondisi bursa saham yang anjlok pada perdagangan kemarin, hal itu tentu membuat kinerja reksadana secara umum turut mengalami tekanan serupa.

Namun di sisi lain, ternyata reksadana pendapatan tetap justru masih mampu mencatatkan kinerja positif pada perdagangan kemarin.

Reksadana Return Tertinggi Harian per 30 Maret 2020


Sumber: Bareksa

Berdasarkan daftar reksadana yang dijual di Bareksa, 8 dari 10 besar reksadana dengan return harian tertinggi ditempati oleh produk reksadana pendapatan tetap, sementara dua produk lainnya dihuni oleh produk reksadana pasar uang dan reksadana campuran.

Kondisi itu menandakan jenis reksadana pendapatan tetap cenderung lebih stabil di tengah sentimen negatif yang ada, meskipun memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan dengan reksadana pasar uang.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Adapun reksadana pendapatan tetap wajib menempatkan minimal 80 persen portofolionya dalam efek surat utang atau obligasi. Maka dari itu, reksadana ini sangat terpengaruh dengan pasar obligasi.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER