Begini Pandangan Panin AM Terhadap Penanganan Pandemi Corona di Indonesia

Diharapkan pemulihan pasca COVID-19 juga mendekati V-Shape
Selasa, 31 Maret 2020 20:13:24 WIB Martina Priyanti
Image
Kendaraan pemadam kebakaran yang diperbantukan untuk Polres Metro Tangerang melakukan penyemprotan cairan disinfektan di Jalan Sudirman, Tangerang, Banten (31/3/2020). Penyemprotan yang dilakukan serentak oleh Polri secara nasional tersebut bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona (COVID-19).ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj.

Bareksa.com - Direktur PT Panin Asset Management (Panin AM), Rudiyanto menyampaikan padangannya terhadap pandemi COVID-19 atau virus corona khususnya dalam konteks pasar modal, yakni yang akan menjadi perhatian utama dari investor adalah penanganan oleh Amerika Serikat (AS) karena masih merupakan ekonomi utama di dunia. Saat ini AS sudah menjadi negara dengan pasien COVID-19 terbanyak di dunia.

Menurut Panin AM, pesatnya tes dan pertambahan pasien dikarenakan AS memiliki sumber daya dan teknologi untuk melakukan uji secara massal. Hal ini menjadi pertanda yang bagus karena upaya pengendalian dalam bentuk isolasi diri dan perawatan dapat dilakukan dengan lebih baik jika datanya lengkap.

Saat ini jumlah pasien baru memang masih bertambah banyak, namun mulai terlihat tanda tanda melandai. "Untuk itu, Panin AM cukup optimistis bahwa puncak wabah di AS akan terjadi dalam waktu 2-4 pekan ini," kata Rudiyanto dalam Market Update Panin Asset Management – 31 Maret 2020 yang diterima Bareksa, Selasa (31/3/2020).

Untuk Indonesia, ia menyampaikan, Panin AM berharap dapat mengikuti tren di AS sehubungan dengan tindakan-tindakan yang sudah dan akan dilakukan pemerintah pusat dan daerah saat ini.

"Mana yang lebih menjadi acuan dalam konteks investasi pasar modal? Penanganan di AS atau Indonesia? Saat ini pergerakan harga saham di negara Asia dan Eropa cenderung mengikuti pergerakan saham AS. Untuk itu, dalam konteks pasar modal, keberhasilan AS dalam menangani pandemi COVID-19 akan menjadi sentimen positif bagi pasar modal di dunia," kata Rudiyanto.

Terkait itu, ia menyampaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada pekan lalu mengalami rally belasan persen dalam 2 hari (26-27 Maret 2020), jika dilihat dari data perkembangan penanganan wabah di AS dan stimulus yang sudah diluncurkan, kemungkinan IHSG turun dalam jangka pendek memang masih ada.

"Namun dalam pandangan kami, lHSG di level 4.000 merupakan level support yang sangat kuat. Karena pada level tersebut short seller cenderung berhati-hati, investor lokal baik institusi ataupun high net worth dengan dana besar sudah lebih berani untuk masuk," lanjutnya.

Pemulihan Ekonomi

Rudiyanto menyampaikan ada dua pandangan mengenai pemulihan ekonomi dan pasar modal pasca COVID-19 yakni V-Shape pemulihan secara cepat dan U-shape pemulihan secara perlahan. Menurut dia, untuk masing-masing negara memang tidak sama juga tergantung struktur perekonomian, kesiapan infrastruktur, tingkat keparahan akibat dampak pandemi dan sebagainya.

Dalam pandangan Panin AM, untuk pemulihan pasca COVID-19 untuk AS berpotensi berbentuk V-Shape. Dasar pemikirannya, krisis ekonomi kali ini berbeda dengan krisis ekonomi pada tahun 2008 lalu. Krisis 2008 disebabkan adalah adanya spekulasi yang berlebihan pada sektor properti sehingga terjadi krisis subprime mortgage. Apabila pemerintah mau melakukan bail out, masih ada pertentangan karena pertanyaan mengapa pihak yang bersalah karena melakukan spekulasi tersebut harus diselamatkan.

Sementara untuk 2020, krisis kali ini bersifat force majeure. Tidak ada pihak yang bisa disalahkan selain virus itu sendiri. Untuk itu, proses pemberian stimulus akan lebih mudah dan merata ke masyarakat dan perusahaan yang dianggap terdampak.

Rudiyanto melanjutkan hal tersebut membuat ekonomi tumbuh lebih cepat sehingga potensi kenaikan pada saat virus ini berakhir bisa lebih cepat sehingga cenderung berbentuk V-Shape daripada U-Shape.

Untuk pasar modal, diharapkan juga demikian. Sebagaimana dari pengamatan beberapa hari terakhir, mulai ada riset yang menyarankan untuk membeli saham-saham dengan valuasi murah. Selain itu, pergerakan saham AS juga tidak terlalu fluktuatif meskipun pertambahan pasien baru masih banyak. Ada kemungkinan investor sudah mulai memperkirakan akhir dari pandemi semakin dekat.

"Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia dan juga Negara Asia lainnya, cenderung akan mengikuti tren di Amerika Serikat. Jadi diharapkan pemulihan pasca COVID-19 juga mendekati V-Shape," kata Rudiyanto.

Ia menyampaikan muncul pertanyaan, dari mana negara memiliki dana untuk menyalurkan stimulus dalam jumlah besar tersebut mengingat pendapatan negara tentu sudah turun karena aktivitas ekonomi juga ikut menurun? Menurutnya, untuk AS, sebagaimana yang sudah dilakukan dari masa-masa sebelumnya, stimulus ini akan berasal dari utang. Sebab AS memiliki privilege sebagai negara adidaya sehingga kekurangan anggaran negara dapat diperoleh dengan cara pemerintah AS menerbitkan surat utang kemudian dibeli oleh Bank Sentral dengan mencetak uang.

"Privilege seperti itu, tentunya belum dimiliki oleh negara lain seperti Indonesia. Untuk itu, bisa melalui realokasi anggaran atau relaksaksi aturan di mana jika sebelumnya defisit adalah maksimal 3 persen dari APBN, maka dengan adanya kondisi ini bisa menjadi 5 persen-6 persen," ujarnya.

Menurut Rudiyanto, anggaran yang lebih longgar ini juga berpotensi membuat pemerintah lebih fleksibel di masa mendatang sehingga mempercepat tingkat pertumbuhan ekonomi.

Perkiraan IHSG

Rudiyanto juga menyingung soal harga minyak yang sangat rendah yakni level US$20 per barel, yang dinilai bisa menjadi risiko baru seperti perusahaan minyak di AS yang bangkrut sehingga harga saham ikut turun. Ia menyampaikan, stimulus di AS bernilai sangat besar dan ada kemungkinan juga akan masuk ke sektor energi seperti minyak juga. Makanya, risiko daripada kebangkrutan perusahaan minyak dapat dihindari.

Ia menambahkan untuk harga, jika nantinya kondisi sudah membaik dan permintaan meningkat, maka harga minyak berpotensi kembali naik. Di sisi lain Rudiyanto menjelaskan perkiraan harga wajar IHSG oleh Panin AM berdasarkan kondisi terbaru, yakni :

Pertama, skenario terbaik : IHSG di level 6400 dengan catatan puncak kurva pasien baru di AS terjadi dalam 2 pekan (pertengahan April) baru kemudian menunjukkan tren penurunan dan stimulus di AS berjalan (saat ini sudah disetujui).

Kedua, skenario dasar : IHSG di level 6000 dengan catatan puncak kurva pasien baru di AS terjadi dalam waktu 2-4 minggu (akhir April) baru kemudian menunjukkan tren penurunan dan stimulus di AS berjalan.

Ketiga, skenario terburuk : IHSG di level 5000 dengan catatan puncak kurva pasien baru di AS masih belum tercapai setelah 1 bulan (setelah Mei) dan stimulus di AS berjalan.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER