Pasar Fluktuatif Dampak Wabah Corona, Reksadana Pasar Uang Alternatif Investasi

Hingga kini, sebanyak 80 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus corona
Selasa, 28 Januari 2020 11:01:55 WIB Arief Budiman
Image
Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020).ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Bareksa.com - Mengawali perdagangan pekan terakhir di bulan Januari 2020, Bursa Saham Tanah Air terpantau mengalami tekanan berat hingga harus ditutup di zona merah. Pada perdagangan Senin (27/01/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,77 persen ke level 6.133,208.

Untuk diketahui, mayoritas perdagangan di bursa saham utama kawasan Asia diliburkan pada perdagangan kemarin seiring dengan peringatan Tahun Baru China. Tercatat, hanya bursa saham Jepang yang melangsungkan perdagangan. Pada penutupan perdagangan, Indeks Nikkei selaku indeks saham acuan di Jepang terkoreksi 2,03 persen.

Aksi jual menerpa Bursa Saham Asia seiring dengan meluasnya infeksi virus corona. Virus corona merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus serangan virus corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Hingga kini, sebanyak 11 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi serangan virus Corona di wilayah mereka.

China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Nepal dan Kanada masuk dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus corona.

Hingga kini, sebanyak 80 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus corona. Padahal hingga Ahad (26/01/2020), jumlahnya baru mencapai 56 orang. Kini, pemerintah China telah resmi memperpanjang libur Tahun Baru China guna meminimalisir penyebaran virus corona.

Meluasnya infeksi virus corona hingga ke negara-negara lain berpotensi membuat World Health Organziation (WHO) mendeklarasikan darurat kesehatan publik internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Sebagai catatan, PHEIC merupakan deklarasi formal dari WHO terkait kejadian luar biasa yang ditetapkan sebagai risiko kesehatan bagi masyarakat negara lain dan berpotensi memerlukan respons internasional yang terkoordinasi untuk menanggulanginya.

Jika benar virus corona menjadi wabah seperti SARS, perekonomian China bisa kian tertekan. Sebab kini masyarakat China merayakan hari raya Tahun Baru China atau yang dikenal dengan istilah Imlek di Indonesia.

Di China, perdagangan di bursa sahamnya diliburkan mulai dari tanggal 24 Januari hingga 30 Januari guna memperingati Tahun Baru China.

Selama libur Tahun Baru China, masyarakat China biasanya kembali ke kampung halamannya, sama seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada Hari Raya Idul Fitri. Dalam periode itu, konsumsi masyarakat China biasanya akan meningkat drastis.

Pemerintah China sendiri memperkirakan akan ada sebanyak 3 miliar perjalanan pada Tahun Baru China kali ini, naik dibandingkan tahun lalu yaitu 2,99 miliar perjalanan. Dari 3 miliar perjalanan itu, 2,43 miliar diperkirakan ditempuh dengan mobil, 440 juta dengan kereta api, 79 juta dengan pesawat terbang dan 45 juta dengan kapal laut.

Pasar Melemah Bukan Berarti Berhenti Investasi

Meski pergerakan pasar saat ini cenderung menunjukkan pelemahan, bukan berarti tidak ada instrumen investasi yang bisa menjadi alternatif. Dengan kondisi seperti ini, investor perlu mencari produk yang aman dari risiko pasar yang berfluktuasi atau high risk.

Seperti diketahui produk reksadana di Indonesia terdiri dari empat jenis yang dapat dipilih oleh investor, yakni jenis reksadana saham, campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang.

Dalam kondisi pasar berfluktuasi, reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan paling sesuai karena memiliki pergerakan nilai aktiva bersih (NAB) cenderung stabil.


Sumber: Bareksa

Dengan tingkat fluktuasi risiko paling rendah dibanding jenis lainnya, reksadana pasar uang tidak hanya mampu meminimalisir risiko, tetapi juga dengan risiko yang minim setidaknya mampu memberikan imbal hasil (return) lebih tinggi dibandingkan hanya dengan menabung di bank.

Sehingga untuk saat ini, potensi keuntungan reksadana bisa lebih tinggi daripada bunga deposito di tengah penurunan pasar saham.

Pada marketplace Bareksa, lima besar reksadana pasar uang telah memberikan imbal hasil di atas 6,5 persen dalam setahun terakhir (per 27 Januari 2020).


Sumber : Bareksa

Berdasarkan fund fact sheet periode Desember 2019, mayoritas reksadana itu mengalokasikan dana pada deposito berjangka bank BUMN, swasta, BPD, hingga surat utang yang jatuh tempo kurang dari satu tahun. Seperti diketahui, risiko pada deposito berjangka ini sangatlah kecil.

Sementara itu, kelima produk tersebut memiliki kemampuan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih optimal dibandingkan dengan deposito langsung di bank, sehingga reksadana pasar uang dapat menjadi alternatif investasi untuk investor pemula yang cenderung ingin aman dan belum siap menerima fluktuasi pasar keuangan yang tinggi.

Perlu diketahui, reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER