Pertumbuhan Jumlah Produk Reksadana Syariah Melonjak Lampaui Konvensional

Jumlah produk reksadana syariah tumbuh hingga 452,08 persen sejak 2010
Selasa, 21 Januari 2020 13:57:02 WIB Issa Almawadi
Image
Ilustrasi investor Muslimah sedang memantau kinerja investasinya di reksadana syariah (shutterstock)

Bareksa.com – Pertumbuhan jumlah produk reksadana syariah melampaui produk konvensional. Jumlah produk reksadana syariah sepanjang 2019 tumbuh 18,3 persen dari 224 produk menjadi 265 produk. Sementara produk reksadana konvensional hanya tumbuh 2,19 persen dari 1.875 produk menjadi 1.916 produk.

Alhasil, seluruh jumlah produk reksadana secara keseluruhan tumbuh 3,91 persen dari 2.099 produk di 2018 menjadi 2.181 produk.

Lebih jauh lagi, jumlah produk reksadana syariah tumbuh hingga 452,08 persen sejak 2010. Saat itu, jumlah reksadana syariah hanya mencapai 48 produk.

Sebagai perbandingan, jumlah reksadana konvensional yang pada 2010 mencapai 564 produk, naik 239,72 persen.

Reksadana konvensional adalah reksadana yang dapat berinvestasi di semua jenis efek keuangan, seperti saham, obligasi dan deposito dengan batasan-batasan investasi sebagaimana ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sementara itu, reksadana syariah ialah reksadana yang hanya dapat berinvestasi di efek keuangan yang sesuai dengan kaidah dan prinsip syariah atau dalam Daftar Efek Syariah (DES) dan tentunya masih terikat dengan batasan investasi yang ditetapkan oleh OJK.

Pertumbuhan Jumlah Produk Reksadana

Sumber: OJK, diolah Bareksa

Reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa: Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report Desember 2019. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi marketing@bareksa.com (cc: data@bareksa.com).

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER