Bank Perlu Adopsi Digital Signature dan Electronic Certificate

Digital Signature dan Electronic Certificate terbukti bisa mendorong penetrasi di pasar modal
Kamis, 16 Januari 2020 17:29:11 WIB Issa Almawadi
Image
Co-Founder sekaligus CEO Bareksa yang juga menjabat sebagai Sekjen Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH), Karaniya Dharmasaputra pada "Workshop on Digital Signature and Electronic Certificate for Financial Services Industry in Indonesia, Kamis 16 Januai 2020. (Anggie/Bareksa)

Bareksa.com – Teknologi digital menjadi salah satu faktor pendorong penetrasi pasar modal dan keuangan di tanah air. Terutama dengan kehadiran financial technology (fintech) yang didukung digital signature dan electronic certificate.

Seperti yang disampaikan CEO sekaligus Co-Founder Bareksa Karaniya Dharmasaputra dalam seminar yang diselenggarakan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Perbanas dengan tema Workshop on Digital Signature and Electronic Certificate for Financial Services Industry in Indonesia di Jakarta, Kamis, 16 Januari 2020.

Melalui pemaparannya, Karaniya yang juga Sekjen Aftech menyampaikan, kehadiran fintech online investment yang didukung digital signature dan electronic certificate berhasil mendorong pertumbuhan jumlah investor di pasar modal meningkat hingga 600 persen dalam 4 tahun.

“Pada 4-5 tahun lalu, jumlah investor di Indonesia baru sekitar 250.000 selalu ketinggalan dari Thailand yang punya market size sama. Tapi melalui relaksasi regulasi dengan mengadopsi fintech di dunia investasi, saat ini sudah mencapai 1,7 juta investor,” terang Karaniya.

Dari data itu, Karaniya melihat ada pola investor yang shifting dengan sangat radikal. Bareksa sendiri, kata dia, menyumbang 43 persen dari jumlah investor tersebut. Belum lagi, dengan fintech lainnya.

“Artinya, kontribusi fintech untuk memasukkan masyarakat investor yang awam ke dunia investasi itu signifikan. Itu sudah terjadi dan akan semakin besar lagi,” jelasnya.

Kemudian terjadi lagi sebuah pergeseran yang lebih revolusioner. Karaniya bercerita, dulu bicara dunia investasi, profil investor reksadana maupun obligasi only on the top of our pyramid yang isinya orang-orang kaya, investor institusi hingga dana pensiun. Dari profil itu, nilai investasinya memang besar, tapi volumenya kecil.

“Lalu dengan OJK melalukan relaksasi regulasi mendorong fintech, terjadi pergeseran ke kutub yang lain. Kemudian terjadi fenomena di mana mulai turun ke bawah middle low, very young, ticket sizenya kecil,” tutur Karaniya.

Bahkan, lanjutnya, Bareksa yang membuka kerja sama dengan Tokopedia dan Bukalapak memungkinkan masyarakat bisa beli reksadana mulai Rp10.000.

“Volume transaksi jadi besar. No doubt, ini butuh digital signature membutuhkan electronic certificate,” ujar dia.

Karaniya yang juga merupakan Presiden Direktur OVO juga menjelaskan hal yang sama terjadi di OVO. Karaniya mengungkapkan, sebanyak 27 persen sampai 28 persen dari active user yang mencapai 11 juta lebih itu profilnya unbanked atau underserved by bank.

Sayang, sejauh ini masih banyak bank yang belum bisa menerapkan digital signature dan electronic certificate. Untuk itu dia berharap perbankan juga bisa mengadopsi digital signature. Menurut dia, beberapa bank masih menyaratkan harus tanda tangan basah dan datang secara fisik ke bank.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER