Ingin Punya Dana Darurat Tapi Masih Harus Bayar Utang? Begini Solusinya

Dana darurat sebaiknya disimpan pada instrumen seperti tabungan, tabungan berjangka, deposito atau reksadana pasar uang
Senin, 13 Januari 2020 11:13:10 WIB Issa Almawadi
Image
EVP, Head of Wealth Management & Client Growth Commonwealth Bank Ivan Jaya (Bareksa/AM)

Bareksa.com – Jika Anda bertanya, apakah ada solusi ampuh untuk menggunakan penghasilan kita dengan porsi yang tepat untuk menyicil pembayaran utang, tapi juga ingin memiliki uang simpanan untuk dana darurat? Jawabannya, tentu saja ada.

Seperti penuturan Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya berikut ini. Menurut Ivan, salah satu caranya adalah melakukan cek kesehatan keuangan dengan merekapitulasi aset dan utang. Pisahkan utang produktif dan utang konsumtif. Fokuskan terlebih dahulu untuk membebaskan diri dari utang konsumtif.

Utang konsumtif adalah utang yang ditujukan untuk kebutuhan sehari-hari atau untuk belanja yang sifatnya impulsif seperti berlibur, nonton konser, ganti gadget terbaru, dan sebagainya. Sementara, utang konsumtif biasanya didapat dari kartu kredit, kredit tanpa agunan, dan pay later seperti tren yang ada akhir-akhir ini.

“Karena biasanya utang yang berasal dari channel tersebut memiliki tingkat bunga pinjaman yang lebih besar dan tidak menambah jumlah aset Anda,” jelas Ivan, seperti dikutip Senin, 13 Januari 2020.

Adapun, utang produktif adalah utang yang dapat membuat Anda menjadi lebih produktif atau menambah aset atau penghasilan Anda. Beberapa yang termasuk dalam utang produktif ini adalah kredit kepemilikan rumah atau apartemen, kredit kepemilikian kendaraan di mana kendaraan tersebut digunakan untuk memudahkan aktivitas sehari-hari dan juga kredit modal usaha.

Ivan menambahkan, setelah Anda mengetahui jumlah utang konsumtif, urutkan dari utang yang memiliki bunga tertinggi dilanjutkan dengan utang yang memiliki jatuh tempo yang panjang, karena semakin besar bunga dan semakin panjang waktu jatuh tempo utang akan menggerus penghasilan dan aset Anda. 

Setelah tahap itu, Ivan menyarankan Anda agar mengatur rasio membayar cicilan utang. Agar cicilan utang tidak mengganggu arus kas rutin Anda, hitunglah berapa jumlah cicilan utang yang Anda perlu bayar setiap bulannya. Aturan sederhana, total jumlah cicilan utang tidak boleh melebihi 30 persen penghasilan bersih Anda setiap bulan atau biasa disebut rasio kemampuan bayar utang.

Jika ternyata jumlahnya melebihi 30 persen penghasilan bersih, Anda harus merelakan sebagian aset Anda saat ini untuk melunasi utang yang memiliki bunga tertinggi hingga total cicilan tidak lebih dari 30 persen.

“Karena jika tidak segera menurunkan rasio kemampuan bayar utang maksimum 30 persen, ada kecenderungan untuk mencari utang baru untuk menutupi beban cicilan,” imbuh Ivan

Ivan melanjutkan, agar terhindar dari utang konsumtif, mulailah untuk evaluasi jumlah kepemilikan kartu kredit Anda. Mulailah dengan menutup kartu kredit yang memiliki tingkat bunga yang tinggi dan iuran tahunan yang paling besar.

Sisakan satu saja kartu kredit yang menurut Anda paling banyak memberikan benefit. Dan mulailah untuk menabung atau berinvestasi sebelum belanja yang bersifat konsumtif dengan nilai yang cukup besar. 

Kemudian, kata Ivan, jangan lupa menyisihkan 10 persen dari penghasilan tiap bulan untuk dana darurat. Sejalan dengan rencana untuk membebaskan diri dari utang, mulailah untuk membentuk dana darurat di dalam rencana keuangan Anda.

Ivan menerangkan, hitung berapa jumlah pengeluaran Anda setiap bulannya dan targetkan untuk menghimpun dana sebesar minimum 6 kali pengeluaran bulanan Anda pada tahun ini. Sisihkan minimum 10 persen dari penghasilan bersih untuk dialokasikan dalam pembentukan dana darurat.

Jika dari 10 persen penghasilan Anda dirasa belum cukup untuk membentuk dana darurat dalam setahun, tingkatkan hingga 20 persen dari penghasilan bulanan Anda hingga dalam 12 bulan dapat mencapai setidaknya 3 bulan pengeluaran bulanan.

Namun Anda harus berkomitmen untuk menambah dana darurat hingga mencapai 6 bulan pada tahun berikutnya. “Pembentukan dana darurat ini dapat dilakukan bersamaan dengan pelunasan utang,” kata Ivan. 

Ivan menambahkan, dana darurat sebaiknya disimpan pada instrumen yang likuid seperti tabungan, tabungan berjangka, deposito atau reksadana pasar uang.

Dalam pembentukan dana darurat untuk pertama kali lebih bijak jika disimpan pada instrumen tabungan. Pada prinsipnya pilihlah instrumen yang dapat Anda akses cepat jika terjadi keadaan darurat.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER