Pasar Positif, Mana Lebih Baik Antara Obligasi Pemerintah dan Korporasi?

Makroekonomi Indonesia yang stabil dan tingkat imbal hasil obligasi yang menarik menjadi daya tarik utama bagi investor
Kamis, 12 Desember 2019 14:13:53 WIB Issa Almawadi
Image
inerja pasar obligasi didukung oleh tren penurunan suku bunga yang dilakukan berbagai bank sentral global untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bank Indonesia juga menurunkan suku bunga acuan dari 6 persen menjadi 5 persen.

Bareksa.com – Pasar obligasi Indonesia mencatatkan kinerja positif sepanjang 2019 (indeks BINDO +13,45 persen YTD per akhir Oktober). Kinerja pasar obligasi didukung oleh tren penurunan suku bunga yang dilakukan berbagai bank sentral global untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bank Indonesia juga menurunkan suku bunga acuan dari 6 persen menjadi 5 persen.

Selain itu, adanya tren global penurunan suku bunga ini menyebabkan banyak obligasi pemerintah global memberikan imbal hasil negatif seperti di Jerman, Jepang, Swiss, Swedia, yang mendorong investor global untuk mencari obligasi dengan imbal hasil yang lebih atraktif, terutama di negara-negara dengan kondisi makroekonomi yang stabil. Pasar obligasi Indonesia diuntungkan oleh kondisi ini.

Makroekonomi Indonesia yang stabil dan tingkat imbal hasil obligasi yang menarik menjadi daya tarik utama bagi investor asing. Hal ini terlihat dari pembelian bersih investor asing hingga akhir Oktober  2019 mencapai US$11 miliar.

Kinerja positif ini didukung juga oleh respon pasar terutama investor asing yang sangat positif setelah pelantikan Presiden yang berlangsung aman dan lancar. Pasar juga menyambut positif susunan Kabinet yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo.

Senior Portofolio Manager - Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Syuhada Arief menyampaikan pandangannya yang tetap konstruktif untuk potensi pasar obligasi ke depannya didukung oleh faktor global dan domestik yang suportif. “Era suku bunga rendah di pasar global berpotensi memicu global yield hunt. Sementara itu, dari sisi domestik, stabilitas makroekonomi Indonesia dan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik akan tetap menjadi daya tarik utama,” tulis Syuhada dalam risetnya yang dikutip Bareksa.

Syuhada menuturkan, MAMI optimis pemerintah dapat melanjutkan kebijakannya yang sukses menjaga daya tarik pasar obligasi Indonesia di tengah gejolak pasar global yang terjadi melalui pengelolaan makroekonomi secara pruden. Selain itu, daya tarik pasar obligasi Indonesia dapat lebih meningkat lagi apabila pemerintah sukses mengimplementasikan berbagai reformasi kebijakan yang direncanakan untuk menarik investasi ke sektor riil Indonesia yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekonomi Indonesia.

Secara umum, lanjut Syuhada, potensi pasar obligasi masih menjanjikan karena dalam pandangan MAMI obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun imbal hasilnya berpotensi turun dari posisi sekarang di 7,05 persen ke kisaran 6,5 persen - 7 persen dengan mid-target 6,75 persen.

Obligasi Korporasi

Sementara itu kondisi berbeda dialami obligasi korporasi. Di tahun ini ada beberapa kasus gagal bayar obligasi korporasi yang terjadi di pasar.

Namun Syuhada menuturkan, gagal bayar obligasi yang terjadi karena faktor mismanagement internal perusahaan, bukan karena faktor makroekonomi dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan. “Sebagai indikasi tingat kredit bermasalah (NPL) perbankan tetap rendah pada level 2,6 persen, lebih baik dari level di tahun 2016 yang sempat mencapai 3,2 persen. Secara makroekonomi, tingkat utang Indonesia saat ini tetap pada level yang sehat, baik dari sisi pemerintah maupun swasta,” ungkap Syuhada.

Syuhada memaparkan, tingkat utang pemerintah ada di level 30 persen dari PDB, lebih rendah dari level 37 persen yang merupakan median debt to GDP negara dengan rating BBB dari Fitch. Dari sisi perusahaan swasta, tingkat utangnya juga tetap sehat pada level 23 persen dari PDB, lebih rendah dari rata-rata negara berkembang di level 55 persen dari PDB.

Dengan kondisi yang ada, obligasi korporasi masih memiliki imbal hasil lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi pemerintah dengan tenor sama. Sebagai gambaran, obligasi korporasi dengan rating AAA dapat memberikan imbal hasil rata-rata 70 – 120 bps lebih tinggi dari obligasi pemerintah tenor yang sama.

“Imbal hasil itu akan lebih tinggi untuk rating yang lebih rendah dimana untuk obligasi korporasi dengan rating investment grade dapat memberikan imbal hasil sampai 250 bps lebih tinggi dari obligasi pemerintah tenor yang sama,” imbuh dia.

Oleh karena itu obligasi korporasi dapat menjadi kicker bagi kinerja portofolio. Di sisi lain risiko yang harus diperhatikan adalah risiko gagal bayar dan likuiditas. “Untuk meminimalisir risiko tersebut kami memiliki tim pengelola portofolio yang bertugas untuk menganalisa obligasi korporasi dengan standar penilaian obligasi yang ketat. Dengan ini kami dapat menggunakan obligasi korporasi dalam portofolio untuk mendapatkan kinerja yang lebih optimal dan pengelolaan yang tetap pruden,” jelas Syuhada. (hm)

***

Ingin berinvestasi obligasi?

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.

Surat Berharga Negara ritel hanya bisa dipesan selama masa penawaran. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN di seri berikutnya? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

 



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER