Berita Hari Ini: Nilai Dana Asing di SBN Turun, Fintech Dominasi NextICorn

PNM terbitkan obligasi Rp1,35 triliun, Sejumlah investor lirik Bank Muamalat, OVO bantah pisah dari Lippo
Jumat, 15 November 2019 08:59:28 WIB Hanum Kusuma Dewi
Image

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat, 15 November 2019.

Obligasi PNM

PT Permodalan Nasional Madani menerbitkan obligasi Rp 1,35 triliun. Obligasi Berkelanjutan III PNM Tahap II Tahun 2019 ini terdiri dari dua seri.

Berdasarkan pengumuman Kustodian Sentral Efek Indonesia, Kamis (14/11), Obligasi seri A PNM memiliki nilai pokok Rp 586,5 miliar. Obligasi yang bertenor tiga tahun ini menawarkan bunga tetap 8,4 persen per tahun.

Sedangkan obligasi seri B memiliki nilai pokok Rp 763,5 miliar. Obligasi dengan tenor lima tahun ini menawarkan suku bunga tetap 8,75 persen per tahun.

Masa penawaran umum obligasi ini akan berlangsung pada 22-25 November 2019 dengan penjatahan pada 26 November dan distribusi obligasi secara elektronik pada 28 November. PNM akan mencatatkan obligasi ini di Bursa Efek Indonesia pada 29 November 2019.

Asing di SBN

Kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) terkoreksi setelah pasar obligasi rally.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, setelah dana asing di SBN mengalir deras Rp 9 triliun sejak 5 November hingga 8 November, sejak awal pekan (11/11) inflow asing ke SBN mulai terkoreksi Rp 2 triliun hingga Selasa (12/11) di posisi Rp 1.608 triliun.  

Jika ditarik lebih jauh, sejak awal tahun hingga Selasa (12/11) dana asing yang masuk ke pasar SBN capai Rp 175 triliun. Sementara, porsi kepemilikan asing di SBN bergerak stabil cenderung meningkat dari 37 persen hingga 39 persen.

Nexticorn

Perhelatan program Next Indonesia Unicorn (NextICorn) Summit yang kedua digelar di Jimbaran, Bali, 14 sampai 15 November 2019.

Tahun ini, NextICorn mengumpulkan total 103 perusahaan rintisan atau start up lokal dan 126 investor dari beberapa negara untuk bertemu dan menghasilkan kerjasama bisnis.

Daniel Tumiwa, Ketua Umum dari Yayasan NextICorn, mengatakan, tahun ini startup lokal yang berpartisipasi masih didominasi dari sektor financial technology (fintech) yakni sebanyak 36 start up.

Populasi lainnya ditempati sektor e-commerce sebanyak 13 start up, 12 start up otomotif, lalu lima adtech, tiga edutech, tiga data research tech, empat entertainment, dua medical tech start up, delapan emerging tech, dua marketplace, empat human resources start up, dan lain-lain.

OVO Bantah Pisah dari Lippo

Beredar rumor bahwa Lippo Group akan hengkang sebagai investor strategis PT Visionet Internasional (OVO). Namun rumor tersebut langsung dibantah oleh Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra karena rumor itu dinilai merugikan eksistensi kedua perusahaan.

“Mengenai rumor tersebut, saya justru baru saja bertemu dan berdiskusi panjang lebar dengan Direktur Lippo Group Pak John Riady. Kami berdiskusi mengenai pengembangan OVO ke depan,” kata Karaniya.

Dari pertemuan tersebut, John Riady memberikan banyak masukan serta dukungan pengembangan bisnis OVO. Misalnya saja, dalam bentuk promosi berbentuk potongan harga (cashback) serta pemberian fasilitas lain yang merupakan hal biasa dalam dunia startup saat dan merupakan bagian edukasi kepada masyarakat.

Sebagai perusahaan keuangan digital, kata Karaniya, OVO dinilai memiliki peta jalan yang jelas untuk menuju profitabilitas sebagai entitas bisnis yang berkelanjutan. Mengingat, kondisi pasar uang elektronik di Indonesia baru berkembang dan diperkirakan tumbuh signifikan dalam satu tahun hingga dua tahun ke depan.

Bank Muamalat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan pernyataan ihwal nasib Bank Muamalat. Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo mengatakan saat ini terdapat beberapa calon investor yang berminat dan sedang berproses untuk memperkuat pemodalan Bank Muamalat melalui strategic investor dan langkah-langkah perbaikan lainnya.

"OJK memberikan kesempatan kepada calon investor yang sudah melakukan langkah-langkah strategic investasi baik dari konsorsium lokal maupun asing, BUMN dan atau Non BUMN," kata Slamet dalam keterangan tertulis, Kamis, 14 November 2019.

Menurut dia, calon investor harus memenuhi persyaratan dan persetujuan dari Pemegang Saham Bank, menunjukkan keseriusan dengan menempatkan dana escrow account, dan menjamin  sustainable bisnis bank.

 



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER