Return Tertinggi, AUM Reksadana Pendapatan Tetap Naik 2,5 Persen pada Oktober

Indeks reksadana pendapatan tetap mencatatkan return tertinggi yakni 8,82 persen YtD
Selasa, 12 November 2019 10:22:07 WIB Arief Budiman
Image
Ilustrasi investasi di reksadana pendapatan tetap (shutterstock)

Bareksa.com - Industri reksadana di Indonesia kembali mencatatkan pertumbuhan pada Oktober 2019. Hal itu tercermin dari meningkatnya nilai dana keloaan (asset under management/AUM).

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), AUM industri reksadana tercatat Rp553,21 triliun per Oktober 2019, atau meningkat 2,27 persen dibandingkan bulan September 2019 yang sebesar Rp540,91 triliun.

Total Dana Kelolaan Industri Reksadana (Rp)


Sumber : Bareksa : Mutual Fund Industry Data Market – Monthly Report October 2019

Pertumbuhan dana kelolaan yang dicatatkan pada Oktober 2019, merupakan kenaikan yang kelima kali secara beruntun setelah pada Maret hingga Mei 2019 sempat menurun.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp507,09 triliun, maka hingga Oktober 2019 AUM industri reksadana tanah air telah tumbuh 9,06 persen.


Sumber: OJK, diolah Bareksa

Jika dilihat berdasarkan jenisnya, per Oktober 2019 reksadana pendapatan tetap menjadi jenis reksadana dengan AUM terbesar ketiga yakni Rp118,81 triliun atau setara 21,48 persen dari total keseluruhan AUM. Tidak hanya itu, hingga Oktober 2019 reksadana pendapatan tetap mencatatkan pertumbuhan Rp2,94 triliun atau 2,54 persen.

Pertumbuhan yang dicatatkan reksadana yang berbasiskan instrumen surat utang tersebut memang cukup wajar, mengingat kinerjanya yang sangat moncer sepanjang tahun ini.

Mengacu data indeks reksadana Bareksa, sejak awal tahun hingga penutupan Senin (11/11/2019), indeks reksadana pendapatan tetap memberikan return tertinggi yakni 8,82 persen YtD, disusul oleh reksadana pasar uang (4,53 persen YtD), kemudian reksadana campuran (1,83 persen YtD) dan reksadana saham (-11,6 persen YtD).

Performa yang sangat mengesankan dari reksadana pendapatan tetap disebabkan adanya ekspektasi penurunan suku bunga acuan di bank sentral global dan domestik. Selain itu, kondisi makroekonomi di Tanah Air juga relatif masih stabil.

Kemudian sentimen global berupa perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China serta perkembangan rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) atau dikenal Brexit juga menjadi faktor ketidakpastian yang cukup meresahkan pelaku pasar sehingga memutuskan untuk melirik instrumen investasi yang risikonya lebih rendah seperti reksadana pendapatan tetap.

Sebagai informasi, reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Sementara itu, reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari asetnya dalam bentuk efek utang atau obligasi. Obligasi atau surat utang ini bisa yang diterbitkan oleh perusahaan (korporasi) maupun obligasi pemerintah.

Tujuannya untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Risikonya relatif lebih besar daripada reksadana pasar uang tetapi lebih moderat dibandingkan saham sehingga cocok untuk jangka waktu 1 sampai 3 tahun.

Karena itu, reksadana ini cocok untuk investor bertipe konservatif (risk averse), yaitu tipikal investor yang lebih menyukai instrumen investasi yang aman dan takut jika pokok investasi (modal awal) akan berkurang. Selain itu, tipe investor ini juga merasa nyaman dengan instrumen investasi yang imbal hasilnya tidak terlalu besar tetapi bergerak stabil.

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report October 2019. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi marketing@bareksa.com (cc: data@bareksa.com).

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER