Gaya Investasi Dua Sahabat Bill Gates & Warren Buffett, Begini Kisahnya

Awalnya Gates tidak tertarik untuk bertemu dengan Buffett
Jumat, 08 November 2019 13:36:19 WIB Abdul Malik
Image
Ilustrasi karikatur Bill Gates dan Warren Buffett (Shutterstock)

Bareksa.com - Dua konglomerat dunia yakni Pendiri Microsoft, Bill Gates dan CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffett punya kisah unik dalam gaya investasi masing-masing. Dilansir Fox Business (8/11/2019), dua orang terkaya dunia ini telah menjalin persahabatan selama hampir tiga dekade, meskipun awalnya Gates tidak tertarik untuk bertemu dengan Buffett, sang investor legendaris itu.

Dalam Konferensi New York Times/DealBook Rabu lalu, Gates berbicara tentang kisah persahabatannya dengan Buffet yang terkenal tersebut. Gates menyatakan awalnya dia tidak terlalu memikirkan gaya investasinya. 

"Saya bahkan tidak ingin bertemu dengan Warren karena saya pikir : 'Hei orang ini membeli dan menjual barang-barang, jadi dia bisa menemukan ketidaksempurnaan pasar, bagi saya itu tidak memberikan nilai lebih bagi masyarakat. Bagi saya itu hanya permainan zero-sum yang hampir mirip parasit' Itu pendapat saya sebelum bertemu dengannya. Dulu dia tidak memberitahu saya tentang menciptakan sesuatu," kisah Gates dalam konferensi itu.

Setelah bertemu dengan Buffett pada 1991, Gates menyatakan ternyata CEO dan Chairman Berkshire Hathaway itu adalah satu-satunya orang yang bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang jelas dan menantang.

"Saya menyadari semua yang dia lakukan didasarkan pada kerangka berfikir tentang dia menilai, yakni menilai orang, pasar, tentang cara kerja berbagai hal, dengan cara yang sangat dalam," ujar Gates. "Saya menyadari meskipun kami berasal dari dua tempat yang berbeda, namun kami berdua sama-sama mencoba untuk memodelkan dunia dan mengetahui tentang apa yang terjadi."

Gates bercerita akhirnya bisa belajar dari Buffett tentang surat kabar, pengecer, investasi bagus dan investasi buruk. Dua orang ini memang selalu masuk dalam daftar lima besar orang terkaya dunia. Mereka juga memiliki kerja sama dalam kegiatan amal atau filantropi, termasuk memulai Giving Pledge, yayasan filantropi yang mendorong orang kaya agar berkomitmen menyumbangkan lebih dari separuh kekayaannya untuk amal. 

Buffett juga mendonasikan miliaran dolar AS kekayaannya kepada yayasan amal milik Gates yakni Bill and Melinda Gates Foundation. Adalah hanya kebetulan bahwa dua sahabat ini sama-sama miliarder, namun kata Gates, sebenarnya kesamaan pola pikirlah yang menuruntun nasib mereka dan memiliki persahabatan yang langgeng. 

Pendiri Microsoft itu menyatakan kini dunia telah banyak berubah sejak keduanya bersahabat. Dengan begitu mereka punya banyak hal yang bisa dibicarakan.

Awal Oktober lalu, Forbes merilis daftar orang terkaya dunia. Gates berada di posisi kedua dengan nilai kekayaan US$106 miliar atau sekitar Rp1.486 triliun dan Buffett berada di posisi ketiga dengan nilai kekayaan US$80,8 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs hari ini, Rp14.025 per dolar AS).

Gates disebut menyumbangkan lebih dari US$35 miliar atau setara dengan Rp492 triliun dari kekayaannya untuk amal tahun ini. Adapun Buffet, menurut Value Walk, menyumbangkan 55,48 persen hartanya pada tahun 2018. Total uang yang disumbangkannya mencapai US$46,6 miliar atau setara Rp656,3 triliun. Kekayaan bersih Warren Buffett pada 2018 mencapai US$84 miliar (setara Rp1.183 triliun). Ia menyumbangkan uangnya ke badan-badan amal, baik yang diurus anaknya sendiri, maupun Gates Foundation.

Untuk diketahui, Warren Buffett yang merupakan orang terkaya nomor tiga dunia versi Forbes itu sebelumnya sudah menulis surat wasiat untuk keluarganya jika dia meninggal. Surat tersebut berisi mengenai rencana alokasi kekayaan Buffett. Seperti dilansir Yahoofinance, pada 2013 silam Buffet bercerita kepada investor bahwa dirinya menulis surat wasiat kepada istrinya untuk mengalokasikan 90 persen kakayaannya pada instrumen reksadana indeks berbiaya rendah. Sementara sisanya 10 persen diinvestasikan pada obligasi pemerintah jangka pendek.

Dalam suratnya tahun 1987 kepada pemegang saham Berkshire Hathaway (NYSE: BRK.A) (NYSE: BRK.B), Buffett menjelaskan pemikirannya, yang tampaknya telah berubah sedikit selama 30 tahun terakhir.

Keluhan utama Buffett dengan obligasi jangka panjang karena tidak lebih baik dari mata uang  dolar AS. Terlebih, Buffet kurang percaya pada kemampuan dolar AS untuk mempertahankan nilainya dalam jangka panjang.

Memang, dolar membuat inflasi yang sangat tinggi dalam 10 tahun sebelum penulisan surat itu, sehingga wajar jika Buffett skeptis. Dia percaya bahwa inflasi yang signifikan tidak dapat dihindari karena besarnya utang luar negeri AS.

Buffett berpendapat, inflasi tidak bisa dihindari karena prospek jangka pendek pemerintah. Pada 30 tahun berikutnya, inflasi menurun secara persisten bahkan ketika utang luar negeri AS membengkak.

Di sisi lain, inflasi yang diukur oleh Indeks Harga Konsumen turun ke level terendah sejak awal 2000an. Sementara, inflasi harga aset selama periode sama justru meningkat, diiringi harga saham, properti dan hampir semua aset meningkat drastis.

Jadi, dengan kondisi-kondisi itu, berinvestasi pada S&P 500 selama beberapa dekade terakhir jelas lebih menguntungkan daripada mengalokasikan ke obligasi pemerintah. Dengan begitu, resep Buffett pada 1987 benar, jika tidak dalam diagnosis masalah inti.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER