Reksadana Beraset Obligasi Bisa Jadi Pilihan Investasi Hingga Semester I 2020

Reksadana saham masih tertekan karena earning growth masih single digit
Rabu, 30 Oktober 2019 15:34:09 WIB Issa Almawadi
Image
Chief Executive Officer PT Principal Asset Management Agung Budiono berbincang dengan wartawan di Jakarta, Rabu (30/10/2019). (Issa A/Bareksa)

Bareksa.com – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 23-24 Oktober 2019 telah memutuskan untuk menurunkan kembali BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 25 basis points (bps) menjadi 5 persen. Dengan keputusan itu, BI7DRR telah turun 100 bps sepanjang tahun ini.

Bagi sebagian kalangan, langkah BI menurunkan bunga acuan bisa menjadi katalis positif bagi perekonomian Indonesia. Terutama dalam hal penguatan mata uang, pertumbuhan kredit, hingga perbaikan kegiatan investasi.

Dampak positif juga bisa dirasakan di instrumen investasi reksadana, terutama yang memiliki aset dasar obligasi. Penurunan suku bunga menjadi acuan yield obligasi tanah air semakin membaik dan menarik minat investor.

Seperti disampaikan Chief Executive Officer PT Principal Asset Management Agung Budiono, Rabu, 30 Oktober 2019. Agung menerangkan, fenomena penurunan suku bunga acuan terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Terlebih, kata Agung, sepertiga obligasi di dunia mencatat yield negatif. “Jadi tidak ada pertumbuhan. Maka untuk memacunya perlu memangkas suku bunga,” terang Agung.

Di Indonesia pun seperti itu. Tapi, Agung memberi catatan. Penurunan suku bunga, katanya, akan semakin positif jika dibarengi kebijakan-kebijakan pemerintah dalam hal kemudahan berinvestasi.

Untuk itu, Agung melihat, investasi reksadana dengan aset dasar obligasi bisa menjadi pilihan hingga semester I tahun 2020. “Lebih baik ketimbang saham. Karena saham masih butuh earning growth. Saat ini, earning growth saham masih single digit,” tutur Agung.

Agung menyampaikan, tim investasi Principal AM memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyentuh 6.450 pada tahun ini.

Sementara itu, meski tren investasi reksadana cenderung ke aset dasar obligasi, Agung mengatakan, Principal AM tidak serta merta akan rajin merilis produk reksadana pendapatan tetap.

“Kami hadirkan solusi. Lihat apa yang dibutuhkan nasabah,” imbuh dia.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER