Lulus CPNS, Ini Strategi Agar Punya Modal Usaha Rp1,5 Miliar Saat Pensiun

Strateginya bisa dengan berinvestasi di reksadana
Rabu, 30 Oktober 2019 15:26:15 WIB Abdul Malik
Image
CPNS sedang melakukan tes di Kantor Walikota Jakarta Selatan. (The Jakarta Post Images/ Seto Wardhana./adi/18)

Bareksa.com - Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) resmi mengumumkan pembukaan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2019.

Menurut Pengumuman No: B/1069 /M.SM.01.00/2019 tentang Informasi Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Pusat dan Daerah yang ditandatangani oleh Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo, pendaftaran CPNS dimulai pada 11 November 2019 mendatang.

"Rekrutmen kali ini dibuka pada 68 kementerian/lembaga dan 462 pemerintah daerah," ujar Tjahjo dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Seperti pada rekrutmen sebelumnya, pendaftaran rekrutmen CPNS dilakukan pada website SSCASN BKN (sscasn.bkn.go.id). Satu orang pelamar hanya boleh mendaftar di satu instansi dan satu formasi jabatan di kementerian/lembaga/Pemda.

Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) pada rekrutmen CPNS menggunakan Computer Assisted Test (CAT) yang telah terbukti menekan angka kecurangan dan percaloan. Rencananya, SKD akan dilakukan pada Februari 2020 dan dilanjutkan dengan Seleksi Kompetisi Bidang (SKB) pada Maret 2020.

Untuk selanjutnya, pengumuman terkait syarat pendaftaran dan lain-lain akan diumumkan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan instansi masing-masing. Formasi penerimaan CPNS kali ini sebanyak 37.425 orang untuk instansi pemerintah pusat dan 114.861 untuk instansi pemerintah daerah.

Untuk pemerintah pusat, instansi yang membuka lowongan terbanyak adalah Kementerian Agama sebanyak 5.815 lowongan, Kejaksaan Agung 5.203 lowongan, dan Kementerian Hukum & HAM 4.598.

Dilansir Detik Finance (29/10/2019), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang dikepalai Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak ketinggalan juga membuka penerimaan CPNS 2019 untuk 202 formasi. Setelah lolos seleksi, para peserta akan bekerja dengan status CPNS selama setahun dan gaji yang diterima adalah 80 persen dari gaji PNS.

Lantas, berapa gaji PNS di Kementerian Keuangan? Berikut rinciannya :

1. Golongan IA (masa kerja 0 tahun) Rp1.560.800.
2. Golongan IIA (masa kerja 0 tahun) Rp2.022.200, Golongan IIB (masa kerja 3 tahun) Rp2.208.400, Golongan IIC (masa kerja 3 tahun) Rp2.301.800.
3. Golongan IIIA (masa kerja 0 tahun) Rp2.579.400, Golongan IIIB Rp2.688.500, Golongan IIIC Rp2.802.300.

Besaran gaji pokok pegawai bendahara negara ini memang tidak berbeda dengan pegawai negeri sipil dari instansi lainnya, yakni mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2019.

Nominal gaji yang diterima PNS memang tampak kecil, namun tunjangan kinerja, terutama per kelas jabatan para PNS memang harus diakui jauh lebih besar, terutama di Kementerian Keuangan. Pegawai Kemenkeu tercatat memperoleh tunjangan khusus pembinaan keuangan negara (TKPKN) di mana bagi rekrutmen lulusan S1 akan diberikan tunjangan kurang lebih Rp3 juta sampai Rp10 juta per bulan.

Tak hanya itu, dalam beleid Peraturan Presiden (Perpres) 156/2014 tentang tunjangan kinerja pegawai di lingkungan Kemenkeu, tunjangan kinerja untuk PNS dengan masa kerja golongan 27 tahun mencapai Rp46,95 juta.

Perlu diingat, mendaftar sebagai PNS tidaklah murni untuk mencari gaji tinggi, melainkan juga ada misi untuk mengabdi kepada negara. Sehingga berapapun gaji yang kamu terima sebagai PNS, nilai pengabdianmu kepada negara tak ternilai harganya. 

Andaikan kamu tertarik ingin mengikuti tes CPNS dan lolos, ada baiknya kamu memikirkan tabungan masa depanmu sejak dini. Agar ketika pensiun nanti, kamu punya cukup bekal untuk menikmati masa tua bersama cucu kesayangan atau bahkan untuk modal usaha, jika kamu masih ingin tetap berkarya pasca pensiun.

Semakin dini kamu mempersiapkan dana pensiunmu, maka akan semakin baik dan optimal hasilnya, serta kamupun ringan mempersiapkannya. Salah satu cara untuk mempersiapkan tabungan pensiun adalah dengan berinvestasi di reksadana. Sebab selain imbal hasilnya maksimal juga berpotensi mengalahkan angka inflasi.

Berdasarkan data Bareksa, top 5 reksadana return tertinggi dalam 10 tahun terakhir mampu memberikan imbal hasil 161,64 persen hingga 269,47 persen. Artinya jika dirata-ratakan per tahun, imbal hasil lima produk reksadana itu antara 16,1 persen hingga 26,9 persen per tahun.

Secara rerata lima produk reksadana tersebut mencatat keuntungan 194,4 persen dalam 10 tahun terakhir atau 19,44 persen per tahun. Nilai imbal hasil tersebut jauh melampaui angka inflasi nasional yang berkisar 5 persen, atau inflasi biaya pendidikan dan harga properti yang berkisar 10-15 persen per tahun.

Top 5 Reksadana Return Tertinggi 10 Tahun (per 29 Oktober 2019)


Sumber : Bareksa

Namun harus dicatat, nilai imbal hasil tersebut merupakan realisasi kinerja historikal 10 tahun terakhir. Sehingga tidak menjamin kinerjanya akan sama pada 10-20 tahun mendatang. Nilai return top 5 reksadana tersebut di masa depan bisa lebih tinggi atau lebih rendah, tergantung kondisi perekonomian, kinerja pasar modal maupun produk reksadana bersangkutan. 

Simulasi Dana Pensiun dengan Investasi Reksadana

Katakan jika kamu lulusan S1 yang lolos tes CPNS di Kemenkeu, maka penghasilan yang akan kamu terima ialah gaji untuk golongan III A Rp2.579.400 ditambah tunjangan Rp3 juta. Artinya per bulannya kamu bisa menerima gaji dan tunjangan sekitar Rp5,57 juta.

Misalkan saat pensiun kamu menargetkan ingin punya dana tabungan Rp1,5 miliar. Berapa nilai investasimu yang mesti kamu siapkan setiap bulannya?

Mari kita gunakan tools Kalkulator Investasi Bareksa, kemudian kita masukkan perencanaan tabungan pensiun Rp1,5 miliar dengan jangka waktu investasi misalnya 20 tahun atau 240 bulan.

Di kolom return yang diharapkan kita masukkan angka 19,44 persen yang merupakan rerata imbal hasil top 5 reksadana return tertinggi dalam 10 tahun tadi.


Sumber : Bareksa

Dari hasil kalkulasi Kalkulator Investasi Bareksa, maka dana yang harus kita investasikan per bulannya senilai Rp524.659 per bulan atau sekitar Rp525 ribuan.

Nilai tersebut masih sesuai dengan estimasi pendapatan fresh graduate PNS Gol IIIA di Kemenkeu yang diperkirakan Rp5,57 juta per bulan, atau nilai investasinya hanya 9,39 persen dari total gaji bulanan.

Jika kamu memang berniat investasi untuk kebutuhan masa depanmu, maka sangat disarankan untuk selalu menyisihkan, bukan menyisakan, penghasilan kamu sedikitnya 10 persen dari total pendapatan per bulan. 


Sumber : Bareksa

Dengan rutin berinvestasi Rp525 ribuan per bulan atau setara Rp17.500 per hari selama 20 tahun, maka kita akan mampu mengumpulkan dana pokok investasi Rp125,91 juta. Karena kita menempatkan dana tersebut di instrumen investasi yakni reksadana, maka berpotensi meraih imbal hasil dan tumbuh berlipat hingga menjadi Rp1,5 miliar.

Ternyata untuk bisa memiliki dana pensiun Rp1,5 miliar tidaklah berat jika kita mempersiapkannya sejak dini. Sebab nilai investasi yang sekitar Rp17.500 tersebut setara dengan harga sebungkus rokok atau mungkin hanya setengah biaya kita minum kopi.

Dengan dana Rp1,5 miliar, kamu bisa gunakan untuk banyak hal, termasuk untuk modal usaha, menikmati masa tua atau kebutuhan-kebutuhan lainnya. Tertarik untuk mencoba?

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER