Bahana TCW : Ekonomi Melambat dan Kabinet Baru, Ini Strategi Investasinya

Terbentuknya Kabinet Indonesia Maju diharapkan memberi harapan baru kondisi ekonomi dan politik yang lebih stabil
Selasa, 29 Oktober 2019 13:54:02 WIB Abdul Malik
Image
Kepala Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat (Bareksa)

Bareksa.com - Sentimen eksternal dan internal saat ini membayangi kinerja pasar modal. Di antaranya perlambatan ekonomi global, kebijakan moneter ultra longgar, hingga tantangan domestik yang lebih berat, utamanya soal rendahnya penerimaan pajak yang membatasi ruang ekspansi fiskal pemerintah guna menopang pertumbuhan. 

Meski begitu, dengan diumumkannya nama-nama kabinet Indonesia Maju yang diisi sejumlah nama dari berbagai latar belakang, diharapkan bisa memberikan keyakinan akan kondisi politik dan ekonomi yang lebih stabil.

Bagaimana seharusnya strategi investasi bagi investor saat ini? Kepala Ekonom PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat dan Economist Associate Bahana TCW, Emil Muhamad mengulasnya dalam laporan "Navigating Through Rough Seas" yang dipublikasi Senin (28/10/2019).

Perlambatan Ekonomi Global

Menurut Budi, Dana Moneter Internasional (IMF) bulan ini kembali memangkas proyeksi pertumbuhan global pada 2019 dari 3,2 persen jadi 3 persen.

IMF menggarisbawahi pelemahan serentak sektor manufaktur dan meningkatnya hambatan perdagangan yang jadi pemberat laju pertumbuhan global. IMF juga memproyeksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5 persen tahun ini. Angka itu sama dengan proyeksi Bank Dunia.

"Kami memperkirakan pertumbuhan Indonesia 2019 akan melambat seiring turunnya harga sejumlah komoditas utama yang menahan laju daya beli masyarakat," ungkap Budi.


Sumber : Riset Bahana TCW Investment

Merespons perlambatan global, bank sentral seluruh dunia kompak menjalankan kebijakan moneter akomodatif. Tren perlambatan pertumbuhan diperkirakan akan berlangsung hingga 2020.

"Indonesia dan Paraguay merupakan dua negara yang paling aktif pada kuartal III 2019 dengan total 3 kali pemangkasan suku bunga," kata Budi. 

Kebijakan Moneter Ultra Longgar

Budi menyatakan telah mengamati faktor demografi kini berperan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter. Penduduk yang mulai menua di Jepang dan Eropa menyebabkan tingkat rasio ketergantungan meningkat. Kondisi itu juga mengindikasikan beban yang dipikul oleh angkatan kerja semakin berat.

Kelompok masyarakat usia tua bukan hanya tidak lagi produktif bekerja, namun juga mulai mengurangi konsumsi. Kedua hal ini berdampak negatif bagi laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi. "Perlambatan ekonomi dan rendahnya inflasi yang berkepanjangan ini mendorong bank sentral untuk lebih aktif mendorong laju perekonomian. 

Bank Sentral Eropa (ECB) kembali memilih langkah non-konvensional sebagai tambahan daya dorong moneternya. Menurut Budi, ECB memutuskan untuk menjalankan kembali kebijakan quantitative easing (QE) senilai 20 miliar euro per bulan, untuk jangka waktu yang tidak ditetapkan. Sedangkan Bank Sentral Eropa kembali menumbuhkan balance sheetnya melalui pembelian t-bill di bawah 1 tahun senilai US$60 miliar per bulan hingga 6 bulan ke depan. 

Sumber : Riset Bahana TCW Investment

Langkah tersebut, kata Budi, merupakan kebijakan teknis yang bersifat temporer untuk menstabilkan pasar yang mengalami likuiditas jangka pendek yang ketat. Dampak yang diciptakan pada pasar juga diperkirakan akan terbatas dan tidak menyerupai QE pada 2008-2015 lalu.

Hingga Oktober 2019, balace sheet to GDP ratio Bank Sentral Jepang (BoJ), ECB, dan The Fed masing-masing 103 persen, 23 persen dan 18 persen dari produk domestik bruto.

"Kami melihat likuiditas berlebih ini dapat menurunkan yield obligasi di tingkat global yang telah negatif menjadi lebih dalam lagi. Dengan begitu, yield seeker berpeluang mencari alternatif aset obligasi yang masih memiliki yield menarik seperti Indonesia,"  ungkap Budi.

Tantangan Domestik

Meskipun kondisi global penuh ketidakpastian, namun Budi menilai ekonomi Indonesia berpotensi relatif lebih stabil karena struktur ekonomi yang didominasi konsumsi domestik ketimbang ekspor. Tekanan justru datang dari tren penurunan harga komoditas utama yang merupakan sumber pendapatan sebagian masyarakat. 

"Dengan rendahnya daya konsumsi masyarakat, ekonomi domestik juga tak terhindarkan dari perlambatan tahun ini," ungkapnya.

Menurut Budi, tantangan semakin berat akibat rendahnya penerimaan pajak hingga kuartal III 2019 yang membatasi ruang ekspansi fiskal pemerintah untuk menopang pertumbuhan. Selain itu, agenda menjaga keberlanjutan fiskal dengan pengendalian defisit fiskal terus berjalan.

"Akibatnya beberapa pos belanja perlu dihemat seperti belanja modal yang baru terealisasi 45 persen dari target APBN," katanya.

Di sisi lain, tantangan struktural produktivitas masih belum bisa diatasi. Ketergantungan terhadap komoditas masih sangat tinggi dan inovasi masih sangat rendah. Dalam laporan Global Competitivess Index, Indonesia masih sangat tertinggal pada komponen inovasi, adopsi teknologi dan ketenagkerjaan. Transformasi struktural harus dilakukan jika ingin meninggalkan ketergantungan terhadap komoditas dan melangkah jadi negara maju.

"Kami mengamati postur APBN 2020 lebih bertemakan stabilitas ketimbang pertumbuhan. Nampak pemerintah menyerap uang lebih banyak dengan belanja yang tumbuh lebih lambat. Hal ini kami amati sebagai upaya menjaga kredibilitas," ujar Budi.

Kabinet Baru dan Harapan Baru

Budi menjelaskan Kabinet Indonesia Maju yang telah diumumkan diisi sejumlah nama dari berbagai latar belakang. Masuknya figur muda, pesaing utama di masa Pilpres, hingga penguasaan mayoritas parlemen membawa keyakian akan kondisi politik dan ekonomi yang lebih stabil. Agenda-agenda utama pemerintah periode 2019-2024 dimulai dari reformasi ketenagakerjaan hingga reformasi struktural ekonomi diharapkan dapat berjalan lancar tanpa adanya hambatan politik berarti dari sisi parlemen.

"Kami menilai agenda reformasi ini sangat krusial terutama bagi pasar saham mengingat daya beli masyarakat saat ini masih sangat dikendalikan oleh harga komoditas. Dengan adanya peningkatan produktivitas dan kemudahan berinvestasi diharapkan arus investasi asing akan masuk baik dalam bentuk FDI maupun portfolio investment," ungkapnya.

Strategi Investasi Tetap Defensif

Menurut Budi, faktor fundamental ekonomi yang belum kuat mendasari strategi investasi pada kuartal IV 2019 ini.

"Kami melihat lemahnya penerimaan pajak mencerminkan perlambatan ekonomi domestik kian nyata. Selain itu, terbatasnya ruang fiskal pemerintah dan kebijakan sosial yang telah difront load pada semester I 2019 membatasi daya dorong fiskal pada kuartal III dan kuartal IV. Kami melihat penyaluran bantuan sosial akan melambat hingga akhir tahun, sehingga penciptaan stimulus daya beli akan terbatas. Harga komoditas kembali akan mejadi faktor utama pembentuk daya beli masyarakat Indonesia," Budi menjelaskan.

Dia menilai peluang rupiah akan membaik di kuartal IV 2019. Rupiah telah menguat 2,6 persen sejak awal tahun. Rasio harga komoditas sempat naik 20 persen sepanjang tahun, namun memasuki kuartal IV hanya menyisakan kenaikan 0,8 persen seiring kembali turunnya harga minyak dunia.

"Proyeksi model kami mengindikasikan kurs rupiah akhir tahun di rentang Rp13.300 hingga Rp14.200 per dolar AS dengan nilai tengah Rp13.750," Budi menambahkan,.  

Budi melihat ada peluang penguatan lanjutan di pasar obligasi. Lingkungan global dengan yield rendah menjadi peluang bagi penguatan lanjutan obligasi domestik hingga akhir tahun.

Dia memperkirakan yield seeker akan membawa arus masuk dana asing ke pasar obligasi Indonesia karena memiliki yield lebih tinggi. Secara relatif, yield obligasi Indonesia sudah murah jika dibandingkan negara peers. Prospek inflasi yang stabil hingga akhir tahun juga mendukung penguatan obligasi lebih lanjut.

"Proyeksi model kami mengindikasikan yield obligasi 10 tahun pada akhir 2019 berada di rentang 6,4 persen hingga 7,4 persen, dengan nilai tengah 6,9 persen," kata Budi.

Adapun di pasar saham, Budi memperkirakan akan menguat terbatas. Pertumbuhan daya beli yang terbatas masih membatasi pertumbuhan laba perusahaan. Pertumbuhan uang beredar M1 riil yang mencerminkan daya beli efektif hanya tumbuh 3 persen pada September, di bawah rata-rata 8 tahun yang sebesar 7 persen.

"Kami merevisi proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan akhir tahun berdasarkan perkembangan kondisi fundamental ekonomi domestik dan global terkini. IHSG pada akhir 2019, kami perkirakan di rentang 5.800 hingga 6.800 dengan nilai tengah 6.315," ujar Budi.

(*)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER