Ini Strategi OVO Memperluas Bisnis Keuangan

Produk yang akan hadir di OVO seperti pembayaran, pinjaman, asuransi dan wealth management
Senin, 21 Oktober 2019 12:23:19 WIB Abdul Malik
Image
Pegawai OVO sedang menjelaskan fitur-fitur OVO kepada pelanggan pada acara Indonesia FinTech Summit & Expo 2019 di JCC, Jakarta (23/09/2019). (Bareksa/AM)

Bareksa.com - Platform penyedia layanan pembayaran, rewards, dan layangan keuangan terbesar, PT Visionet Internasional (OVO), semakin memperluas bisnis keuangannya. Setelah menorehkan catatan gemilang di bisnis uang digital, perseroan menargetkan semakin memperluas dan memperkuat bisnis asuransi dan wealth management.

Diansir Kontan (20/10/2019), perseroan optimistis bisnis uang digital akan terus berkembang. Hal itu mengingat OVO membukukan lonjakan monthly active user mencapai 400 persen pada 2018. Managing Director OVO Harianto Gunawan menyatakan lonjakan ini berpotensi terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

“Hal ini sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang mengutamakan kecepatan dan sesuatu yang praktis, termasuk dalam hal bertransaksi. Juga didorong oleh usaha pemerintah dalam mewujudkan percepatan inklusi keuangan melalui Gerakan Nasional Non Tunai(GNNT)," ujar Harianto.

Karena itu OVO hadir untuk mempercepat inklusi keuangan melalui platform pembayarannya dan menghadirkan layanan keuangan yang dapat mempermudah transaksi seluruh masyarakat.

Menurut Harianto, sekitar lima tahun mendatang, OVO ingin melayani seluruh masyarakat Indonesia, termasuk bagi yang unbanked dan underserved. Sehingga, OVO akan fokus dalam pengembangan produk dan layanan finansial untuk memastikan pemerataan akses keuangan.

Ia mencontohkan produk yang akan hadir di OVO seperti pembayaran, pinjaman, asuransi, dan wealth management untuk seluruh masyarakat Indonesia.

“Agar dapat bersaing dengan pemain lainnya, kami membangun ekosistem pembayaran terbuka untuk memastikan konsumen dapat menggunakan OVO di berbagai tempat, baik di mal, warung, situs e-commerce, dan lainnya," jelas Harianto.

Strategi ini menjadikan produk dan layanan OVO harus lebih fleksibel dan tangkas agar bisa memberikan layanan yang terbaik kepada para mitra OVO. Semua ini dilakukan dengan tujuan untuk menghadirkan ekosistem pembayaran digital yang lebih inklusif,” jelas Harianto.

OVO juga akan terus berinovasi demi memberikan pelayanan baru seperti OVO PayLater dan OVO SmartCube guna meningkatkan kualitas pelayanan. Harianto juga menyatakan fokus utama OVO saat ini ialah memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat Indonesia. OVO akan bekerja sama dengan digital payment lainnya dalam mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia.

Harianto menambahkan OVO memahami risiko keamanan yang mungkin terjadi dalam bisnis digital payment. Maka itu, OVO akan meningkatkan kualitas sistem guna meningkatkan pengalaman pelanggan dalam bertransaksi menggunakan OVO.

Upaya yang dilakukan OVO berupa menerapkan sistem layered security atau keamanan berlapis dalam proses pengisian data di aplikasi OVO yang dapat melindungi perusahaan dan data pelanggan dari aksi cyber-attacks.

Ia menjamin setiap data pelanggan dilindungi dan tidak dapat diretas dengan mudah. OVO juga akan terus meningkatkan standar keamanan dan layanan dengan mengikuti standar industri global.

Terkait persaingan dengan perbankan yang juga menggarap bisnis uang elektronik, Harianto menilai bisnis digital payment akan terus berkembang seiring beralihnya masyarakat ke menggunakan uang digital.

Begitupun dengan maraknya pemain asing yang juga ingin memasuki pasar Indonesia, Ia menilai hal ini menunjukkan pasar Indonesia memiliki potensi yang tinggi.

Tiga transaksi paling besar dan menjadi fokus OVO adalah transportasi, e-commerce, dan ritel termasuk food and beverage. Untuk menggenjot transaksi, OVO menggandeng nama-nama besar. Misalnya untuk e-commerce, OVO berkongsi dengan Tokopedia menjadi dompet digital startup berstatus unicorn itu.

Di sektor transportasi, OVO bekerja sama dengan Grab yang sudah menyandang status decacorn di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, tahun lalu, OVO mencatat volume transaksi tumbuh 75 kali lipat menjadi satu miliar kali transaksi.

Dalam laporan CB Insights bertajuk The Global Unicorn Club disebutkan OVO memiliki valuasi US$2,9 miliar atau setara Rp40,6 triliun. Unicorn merupakan julukan bagi startup yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar atau Rp14 triliun.

CB Insights menyatakan OVO menyandang status unicorn sejak 14 Maret 2019. Pertumbuhan valuasi OVO dinilai cukup cepat bahkan melampaui valuasi Traveloka dan Bukalapak yang sudah lebih dahulu menyandang status unicorn. Adapun GO-JEK sudah berstatus decacorn karena diestimasi memiliki valuasi US$10 miliar atau setara Rp140 triliun. CB Insights tidak menjelaskan dengan detail tentang metode yang mereka gunakan untuk melakukan penilaian terhadap valuasi startup.

Daftar Unicorn RI

1. GO-JEK dengan valuasi US$10 miliar (Rp140 triliun)
2. Tokopedia dengan valuasi US$7 miliar (Rp98 triliun)
3. OVO dengan valuasi US$2,9 miliar (Rp40,6 triliun)
4. Traveloka dengan valuasi US$2 miliar (Rp28 triliun)
5. Bukalapak dengan valuasi US$1 miliar (Rp14 triliun).

(*)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER