Berita Hari Ini: Cadangan Devisa Turun, Indonesia Dominasi Ekonomi Digital SEA

OJK belum terima laporan Bank Artos dan Gojek, IMF prediksi perlambatan global, HBA Oktober turun
Rabu, 09 Oktober 2019 09:06:50 WIB Hanum Kusuma Dewi
Image
penurunan cadangan devisa pada September terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di bank sentral. Sepanjang Januari-Agustus, pemerintah membayar bunga utang sebesar Rp 172,42 triliun, naik 6,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu 9 Oktober 2019.

Cadangan Devisa

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia per akhir September sebesar US$ 124,32 miliar. Turun lumayan dalam, yaitu US$ 2,12 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menjadi penurunan pertama dalam tiga bulan terakhir.

BI menyebut dalam keterangan resminya, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau tujuh bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Penurunan cadangan devisa pada September terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di bank sentral. Sepanjang Januari-Agustus, pemerintah membayar bunga utang sebesar Rp 172,42 triliun, naik 6,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Prediksi IMF

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) yang baru Kristalina Georgieva mengeluarkan peringatan tegas tentang keadaan pertumbuhan global, Selasa (8/10/19). Georgieva mengatakan konflik perdagangan telah membuat pertumbuhan terjerumus ke dalam "perlambatan yang tersinkronkan" dan harus ditanggulangi.

"Pada 2019, kami memperkirakan pertumbuhan yang lebih lambat di hampir 90 persen dunia. Ekonomi global sekarang berada dalam perlambatan yang tersinkronkan. Ini berarti bahwa pertumbuhan tahun ini akan turun ke tingkat terendah sejak awal dekade," kata Georgieva.

Dalam pidato pengukuhannya setelah mengambil alih lembaga pemberi pinjaman krisis global itu pada 1 Oktober, Georgieva meluncurkan riset IMF baru yang menunjukkan bahwa efek kumulatif dari perang dagang dapat mengurangi output produk domestik bruto (PDB) global sebesar US$ 700 miliar atau sekitar 0,8 persen pada tahun 2020.

Harga Batu Bara

Memasuki bulan Oktober, harga acuan batu bara RI kembali merosot. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat HBA saat ini di level US$ 64,8 per metrik ton.

Harga ini kian turun dibanding HBA bulan lalu yang masih di kisaran US$ 65,79 per metrik ton. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan turunnya harga batu bara acuan bulan Oktober bakal berdampak ke penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Kementerian menargetkan PNBP minerba tahun ini Rp 43,27 triliun. Realisasinya sampai saat ini baru mencapai 75,78% atau sekitar Rp 32,79 triliun. Selain berdampak pada PNBP, turunnya harga batu bara juga dikhawatirkan akan menurunkan produksi dari tambang-tambang kecil yang sulit berkompetisi dengan kondisi harga sekarang.

Rumor Gojek dan Bank Artos

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, hingga saat ini pihak PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) dan Gojek belum menyampaikan informasi kepada OJK terkait rumor yang beredar di pasar mengenai rencana Bank Artos akan bertransformasi menjadi Gojek Bank (GoBank).

"Belum ada yang mengajukan, " kata Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital, Sukarela Batunanggar, di Jakarta, Senin (7/10/2019) saat diminta tanggapannya.

Sebelumnya, harga saham ARTO melonjak 12 kali lipat sejak awal tahun seiring dengan rumor yang beredar bahwa bank tersebut akan bertransformasi jadi Gojek Bank. Hal ini seiring dengan rencana bankir senior Jerry Ng dan pengusaha Patrick Walujo berkongsi akan mencaplok 51 persen saham Bank Artos.

Akuisisi tersebut dilakukan oleh perusahaan milik Jerry Ng bernama MEI, dan entitas milik Patrick Walujo, yakni Wealth Track Technology Limited yang berbasis di Hong Kong.

Ekonomi Digital

Google menobatkan Indonesia sebagai negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan valuasi mencapai US$40 miliar Rp566,28 triliun (dengan asumsi Rp14.157 per US$). Dari jumlah tersebut, Indonesia menyumbang 40 persen dari total nilai ekonomi internet di Asia Tenggara yang mencapai US$100 miliar.

Managing Director Google Southeast Asia Randy Jusuf menjelaskan jumlah ekonomi digital Indonesia didorong oleh perkembangan signifikan dari sektor ride-hailing dan sektor e-commerce. Sektor e-commerce diperkirakan akan mencapai US$21 miliar dan sektor ride-hailing akan mencapai US$6 miliar pada 2019. Angka ini berdasarkan laporan e-Economy SEA 2019 dari Google, Temasek, dan Bain & Co.

"Sektor e-commerce tumbuh 12 kali lipat dari 2015 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 88 persen. Sektor ride-hailing tumbuh 6 kali lipat dari 2015 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 57 persen," kata Randy dikutip CNN Indonesia Senin (7/10).

Pada 2025, sektor e-commerce diprediksi akan mencapai angka US$82 miliar. Sementara sektor ride-hailing akan mencapai angka US$18 miliar pada 2025.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER