IHSG Anjlok Tertekan Emiten Rokok, Reksadana Saham Syariah Tetap Melesat

Kemarin IHSG ditutup anjlok 1,82 persen ke level 6.219,435
Selasa, 17 September 2019 10:51:01 WIB Arief Budiman
Image
Ilustrasi perempuan investor berinvestasi di reksadana syariah (shutterstock)

Bareksa.com - Mengawali pekan ketiga di September 2019, pasar saham Indonesia langsung mengalami pergerakan negatif yang cukup parah pada perdagangan kemarin. Senin, 16 September 2019 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,82 persen ke level 6.219,435.

Dua saham emiten produsen rokok mengambil peran terbesar bagi anjloknya IHSG pada perdagangan kemarin. Seperti diketahui, saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) kompak terjun bebas pada perdagangan kemarin dengan penurunan masing-masing 20,63 persen dan 18,21 persen.

Bahkan keduanya menempati jajaran teratas saham dengan nilai transaksi perdagangan tertinggi, di mana GGRM ditransaksikan Rp825,52 miliar dan HMSP ditransaksikan Rp712,03 miliar. Di sisi lain, keduanya juga kompak menjadi “bulan-bulanan” investor asing di mana GGRM dilego investor asing Rp346,92 miliar dan HMSP dilego investor asing Rp191,70 miliar.

Sikap yang diambil investor asing terhadap dua emiten rokok tersebut dikarenakan adanya sentimen negatif yang menghampiri industrinya. Sebagai informasi, pada Jumat kemarin (13/09/2019) dalam rapat tertutup di Istana Kepresidenan, Presiden Joko Widodo menyetujui untuk menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23 persen mulai 1 Januari 2020. Adapun harga jual eceran (HJE) pada periode yang sama akan mengalami kenaikan hingga 35 persen.

"Kami sudah sampaikan kepada Pak Presiden, dan mendapat pandangan dari Menko Perekonomian, Menko PMK, Menperin, Mentan, dan Pak Wapres, dan Menaker," kata Sri Mulyani seperti dilansir CNBC Indonesia.

Turut Pengaruhi Reksadana Saham

Anjloknya IHSG pada perdagangan kemarin jelas memberikan pengaruh pada kinerja reksadana saham secara umum. Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham anjlok 1,46 persen, sementara indeks reksadana saham syariah sedikit lebih baik dengan hanya turun 0,62 persen.

Menurut analisis Bareksa, reksadana saham syariah bisa menghasilkan kinerja yang lebih baik pada perdagangan kemarin dikarenakan bahwa reksadana saham syariah tidak memiliki saham rokok pada portofolionya, mengingat bahwa saham rokok tidak termasuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) sehingga produknya tidak mengalami penurunan lebih dalam separah reksadana saham konvensional.

Berdasarkan data reksadana saham yang dijual di Bareksa, pada perdagagan kemarin sepuluh besar imbal hasil harian tertinggi didominasi oleh mayoritas produk reksadana saham syariah.


Sumber : Bareksa

Seperti dilihat berdasarkan tabel di atas, Dari sepuluh produk reksadana saham dengan imbal hasil harian tertinggi tersebut, hanya ada satu produk reksadana saham konvensional.

Perlu diketahui, reksadana saham adalah reksadana yang meminta 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek ekuitas atau saham. Karena melibatkan portofolionya ada di saham, maka sifat dan pergerakan reksadana ini mirip dengan sifat dan pergerakan saham.

Reksadana saham ini memiliki fluktuasi tinggi, berarti bisa naik dan turun dalam jangka waktu cepat. Akan tetapi, dalam jangka waktu yang lama, reksadana jenis ini tumbuh lebih tinggi dari jenis produk lain.

Tujuan investasi reksadana saham untuk pertumbuhan harga saham atau unit dalam jangka panjang. Risikonya relatif lebih tinggi dari reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap, tetapi memiliki potensi tingkat pengembalian yang paling tinggi (risiko tinggi, pengembalian tinggi).

Maka itu, investasi di reksadana saham cocok untuk investasi jangka panjang, di atas 5 tahun. Contoh tujuan keuangan jangka panjang untuk pendidikan anak, liburan ke luar negeri, atau persiapan dana pensiun.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang. Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER