Manulife : Bunga Acuan Bisa Turun Lagi, Fokus Pada Tujuan dan Alokasi Investasi

Perubahan aset alokasi di tengah kondisi pasar yang fluktuatif justru meningkatkan risiko salah market timing
Kamis, 12 September 2019 14:33:36 WIB Issa Almawadi
Image
Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan saat menyampaikan market update "Welcoming the Era of Lower Rate" di Kantor Manulife Aset, Jakarta (20/8/2019) (Bareksa/AM)

Bareksa.com – Langkah Bank Indonesia yang kembali memangkas suku bunga pada Agustus lalu masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini. Terutama, dengan kondisi melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Seperti penuturan Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan, dalam riset Manulife Investment Management edisi September yang diterima Bareksa, Rabu, 11 September 2019.

Menurut Katarina, BI masih akan tetap pada postur akomodatif dengan potensi penurunan suku bunga lebih lanjut. “Dalam pandangan kami BI masih memiliki ruang untuk kembali melakukan penurunan suku bunga,” tulis Katarina.

Kataraina memaparkan, beberapa faktor pendorong penurunan suku bunga BI antara lain, dengan suku bunga acuan di level 5,5 persen dan inflasi 3,5 persen, berarti suku bunga riil Indonesia masih cukup tinggi di kisaran 2 persen.

Kondisi menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan suku bunga riil tertinggi di kawasan sehingga masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga.  

Selain itu, inflasi domestik diekspektasi tetap stabil didukung oleh tren disinflasi global dan harga komoditas yang relatif menurun. Sementara, nilai tukar rupiah yang terjaga stabil, terutama setelah melewati kuartal II yang merupakan periode permintaan dolar AS tinggi.

“Dengan kondisi ini, kami memperkirakan setidaknya ada satu pemangkasan suku bunga BI hingga akhir tahun ini,” ujar Katarina.

Pilihan Aset Alokasi

Selanjutnya, Katarina memaparkan, tren makroekonomi domestik dan global saat ini seperti penurunan suku bunga, inflasi rendah, dan banyaknya obligasi yang sudah masuk zona imbal hasil negatif menjadi katalis langsung bagi pasar obligasi Indonesia.

Katarina mengatakan, MAMI memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun Indonesia bisa turun ke kisaran 6,5 persen hingga 7 persen tahun ini, sehingga dari level imbal hasil saat ini masih ada upside potential bagi pasar obligasi.

Sementara itu pasar saham juga menawarkan value yang menarik. Di paruh pertama tahun ini pasar finansial dan dunia usaha sempat dibayangi oleh ketidapastian pemilu yang menghambat belanja dan investasi perusahaan.

Di paruh kedua, dengan pemilu yang sudah berlalu dan kondisi politik sudah lebih kondusif, ekspektasi kami ekonomi Indonesia akan lebih berjalan dan ini akan tercermin di kinerja emiten yang lebih baik di paruh kedua nanti.

Menurut Katarina, di tengah kondisi pasar finansial yang berfluktuasi, dan arah pasar yang dapat berubah dengan cepat hanya karena komentar pejabat dari AS atau China. “Penting sekali bagi investor untuk tetap disiplin pada tujuan investasi dan aset alokasi yang telah ditentukan,” imbuh Katarina.

Dia menambahkan, terus melakukan perubahan aset alokasi di tengah kondisi pasar yang fluktuatif justru meningkatkan risiko salah market timing dan kehilangan peluang. Diversifikasi investasi dan disiplin aset alokasi merupakan kunci terpenting untuk meraih imbal hasil investasi yang optimal secara jangka panjang.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER