Berita Hari Ini: Pertumbuhan Ekonomi RI Diramal Melambat, PPN Kayu Dipangkas

Rating Bank Permata ditetapkan idAAA, Bukalapak incar laba, Adaro kaji terbitkan obligasi
Rabu, 11 September 2019 08:22:18 WIB Hanum Kusuma Dewi
Image
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi di bawah 5 persen tahun depan, dan memperingatkan potensi aliran modal keluar yang besar akibat risiko global termasuk ketegangan perang dagang AS-China.(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 11 September 2019.

Rating PT Bank Permata Tbk (BNLI)

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengafirmasi peringkat kredit korporasi untuk PT Bank Permata Tbk (BNLI) di level “idAAA”. Pada saat yang sama, Pefindo juga mengafirmasi peringkat untuk Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Tahap I/2013 di "idAA+", Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Tahap II/2014 juga mendapatkan peringkat "idAA".

Pefindo menetapkan outlook untuk peringkat korporasi "stabil". Peringkat korporasi mencerminkan dukungan sangat kuat dari pemegang saham Bank Permata, posisi pasar yang menguntungkan, kapitalisasi yang kuat dan profil likuiditas kuat. Peringkat ini berlaku untuk 6 September 2019 hingga 1 September 2020.

Bukalapak

Marketplace online Bukalapak memangkas kurang dari 10 persen karyawan dalam rangka untuk meraih laba dalam waktu dekat, menurut Chief Strategy Officer Teddy Oetomo dalam pesan yang dikutip oleh Bloomberg.

Salah satu unicorn asal Indonesia ini telah memperkerjakan sekitar 2.500 karyawan. Bukalapak mencatat peningkatan tiga kali lipat laba kotor di semester pertama, seiring dengan peningkatan jumlah pengguna.

"Kami menargetkan untuk menjadi unicorn e-commerce pertama yang berkelanjutan, dan dengan bisnis kami yang berkinerja baik dan modal yang cukuk, kami menargetkan balik modal dan mengharapkan untuk meraih laba dalam waktu dekat," ujar Teddy Oetomo dalam siaran pers.

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi di bawah 5 persen tahun depan, dan memperingatkan potensi aliran modal keluar yang besar akibat risiko global termasuk ketegangan perang dagang AS-China.

Proyeksi pertumbuhan ini dipresentasikan pada Presiden RI Joko Widodo, menurut dua sumber yang mengetahui tetapi enggan disebutkan namanya karena diskusi tersebut tertutup.

Materi presentasi Bank Dunia, tertanggal September dan dilihat oleh Bloomberg, menunjukkan proyeksi pertumbuhan 4,9 persen tahun depan, yang merupakan tingkat paling lambat sejak 2015. Angka itu lebih lambat dibandingkan dengan proyeksi saat ini 5,1 persen tahun ini dan 5,2 persen untuk 2020, menurut laporan kuartalan Bank Dunia untuk Indonesia pada Juni. Sementara itu, pemerintah RI memperkirakan pertumbuhan 5,1 persen pada 2019 dan 5,3 persen pada 2020.

Menurut materi Bank Dunia, perang dagang AS-China dan risiko geopolitikal semakin meningkat, dengan berbagai faktor dari mana-mana, mulai dari Brexit, protes di Hong Kong hingga pemilu AS tahun depan. Disebutkan juga, risiko-risiko tersebut memiliki potensi untuk menjadi goncangan ekonomi negatif dengan aliran modal keluar yang besar, yang mungkin lebih besar daripada yang pernah terjadi dalam dekade terakhir.

Jokowi Pangkas PPN Kayu

Pemerintah menyiapkan berbagai macam kemudahan dan insentif fiskal bagi para pengusaha untuk meningkatkan ekspor produk kayu dan mebel furnitur, sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Keputusan ini merupakan hasil dari tindak lanjut rapat terbatas dengan topik peningkatan ekspor permebelan, rotan dan kayu di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10 September 2019).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pun menyebutkan sedikitnya dua macam kemudahan dan insentif fiskal yang bakal diterima para eksportir kayu maupun mebel agar ekspor komoditas ini bisa meningkat.

Pertama, adalah penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk penjualan kayu. Kedua, yakni menyederhanakan proses sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK), yang saat ini terbilang cukup banyak, dengan harga yang relatif mahal.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

Adaro dikabarkan bakal merilis surat utang untuk memperkuat struktur keuangan. Seperti dikutip Kontan, manajemen ADRO mengatakan, pihaknya mempertimbangkan semua opsi untuk lebih memperkuat struktur perusahaan. Namun saat ini Adaro masih menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut.

Berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) atau pelunasan utang, jatuh tempo utang terdekat baru terjadi pada 29 Mei 2020. Ini merupakan fasilitas pinjaman yang diterima anak usaha ADRO, PT Adaro Indonesia (AI), senilai US$380 juta.

Pinjaman tersebut diterima dari DBS Bank Ltd sebagai agen fasilitas pada 29 Mei 2013 lalu. Sejauh ini, AI telah melakukan beberapa pembayaran. Sehingga, pada saat jatuh tempo, jumlah yang dilunasi sebesar US$ 198 juta pada 2020.

 



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER