Berita Hari Ini: Muncul Lagi Rencana Akuisisi BNLI; JK Minta Bunga Kredit Turun

Imbalan ST004 tetap 7,95 persen; DGS Bank Indonesia buka peluang pelonggaran kebijakan
Kamis, 08 Agustus 2019 10:11:58 WIB Issa Almawadi
Image
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan arahan saat membuka perdagangan saham 2018 di BEI, Jakarta, Selasa (2/1). Wapres berharap pasar modal Indonesia dapat menghasilkan efek berganda (multiplier effect) yang lebih besar ke perekonomian nasional guna menjaga momentum perekonomian di tahun 2018. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis, 8 Agustus 2019.

PT Bank Permata Tbk

Dominasi investor Asia Timur semakin mencengkeram perbankan Indonesia. Paling tidak ada tiga negara yang agresif berinvestasi di perbankan Tanah Air, yakni Jepang, Korea Selatan dan China. Tapi dari negara Asia Timur tersebut, Jepang paling agresif. Terbaru, lembaga keuangan asal Jepang yaitu Mizuho Financial Group dan Sumitomo Mitsui Finansial Group dikabarkan berminat mengakuisisi Bank Permata. Hasil uji tuntas atau due dilligence Bank Permata sendiri menurut rencana diumumkan akhir Agustus mendatang.

Seperti diberitakan Kontan, Sumitomo membidik 44,56 persen saham Permata yang masing-masing dimiliki PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered Bank. Sementara Mizuho hanya mengambil saham Standard Chartered. Sekadar mengingatkan, ASII memegang sejumlah merek mobil Jepang. Jika akuisisi ini terjadi, Jepang akan menguasai jalur keuangan dan sektor riil di Astra. Sayang, Direktur Astra Suparno Djasmin dan Direktur Bank Permata Lea Setianti Kusumawijaya tak membalas pertanyaan Kontan melalui pesan singkat. “Jawaban saya tidak berubah, no comment,” kata Head of Investor Relations Astra International Tira Ardianti dikutip Kontan.

Bunga Kredit

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta perbankan untuk menyesuaikan suku bunga kredit setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Days (Reverse) Repo Rate sebesar 25 basis poin pada Juli 2019. Dengan pemangkasan suku bunga acuan, saat ini, BI 7 Days (Reverse) Repo Rate (7DRRR) berada di level 5,75 persen.

"Dengan pertumbuhan inflasi 3,32 persen, bunga deposito harusnya tidak lebih dari 5 persen, maka bunga pinjaman juga tidak boleh lebih dari 7 persen. Lebih dari itu tentu ekonomi tidak akan jalan," ujarnya seperti dikutip Bisnis Indonesia. JK menilai berjalannya bisnis bank tidak hanya bergantung dari besarnya suku bunga, melainkan dari juga pendapatan komisi yang ikut dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan ekonomi.

Imbalan ST004

Sehubungan dengan keputusan tingkat suku bunga BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sebesar 5,75 persen yang berlaku mulai 18 Juli 2019, dengan ini diberitahukan bahwa tingkat imbalan Sukuk Tabungan untuk Seri ST004 periode 11 Agustus 2019 sampai 10 November 2019 adalah sebesar 7,95 persen. Tingkat imbalan tersebut merupakan tingkat imbalan minimal (floor) mengingat hasil hasil penjumlahan dari tingkat suku bunga BI 7-Day (Reverse) Repo Rate dan spread tetap menghasilkan angka yang lebih rendah dari tingkat imbalan minimal (floor). Adapun spread tetap untuk seri ST004 adalah sebesar 195 bps (1,95 persen).

Kebijakan Moneter

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti kembali memberi sinyal kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter akibat perang dagang dan pers kurs. "Kalau kita lihat kebijakan ke depan secara domestik dan global dari global dengan adanya ketidakpastian maka akan membuat pelonggaran ekonomi," jelasnya usai pelantikan di Mahkamah Agung, seperti dikutip Bisnis Indonesia. Apalagi dengan sentimen dovish The Fed sebelumnya, BI juga mengkaji lagi kemungkinan melakukan pelonggaran kebijakan moneter yang akomodatif.

"Tren dari ekonomi global adalah pelambatan dan kebijakan easy," paparnya. Sejauh ini, kata Destry, inflasi nasional masih terkendali. Apalagi kelompok yang rentan inflasi yakni volatile food juga cenderung masih aman. Kondisi ini menjadi harapan bagi stabilitas keuangan.

Cadangan Devisa

Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Juli 2019 sebesar US$125,9 miliar, naik US$2,1 miliar dibandingkan dengan Juni 2019 US$123,8 miliar. Posisi cadangan devisa ini setara pembiayaan 7,3 bulan impor atau 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Artinya di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI memperkirakan tren peningkatan cadangan devisa masih berlanjut hingga memasuki awal semester kedua tahun 2019.

Kenaikan cadangan devisa akan semakin besar pada, meskipun ada potensi risiko dari currency war dan meluasnya perang dagang Amerika Serikat (AS)-China. "Ke depan, BI meyakini cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam pernyataan tertulis. Ia menjelaskan peningkatan cadangan devisa pada terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan valas lainnya, serta penarikan utang luar negeri pemerintah. (hm)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER