Berita Hari Ini : Jiwasraya dan AJB Kena SP1, Bunga Simpanan Bank Mulai Turun

BNGA rilis sukuk mudharabah, OJK cari terobosan cegah fintech ilegal, emisi obligasi capai Rp74,27 triliun
Senin, 05 Agustus 2019 01:51:18 WIB Issa Almawadi
Image
Perbankan ikut menurunkan suku bunga simpanan pascapenurunan bunga acuan Bank Indonesia (BI) serta penurunan bunga penjaminan simpanan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) belum lama ini.

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin, 5 Agustus 2019 :

Jiwasraya dan AJB

Otoritas Jasa Keuangan telah melayangkan surat peringatan kepada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan Asuransi Jiwa Bersama atau AJB Bumiputera 1912 karena belum kunjung menyampaikan laporan keuangan 2018.

Deputi Komisioner Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) II OJK, Mochammad Ihsanuddin, menyatakan pihaknya telah melayangkan surat peringatan pertama (SP 1) bagi kedua perusahaan asuransi tersebut.

"[Jiwasraya dan AJB Bumiputera] dikasih sanksi, SP 1," ujar Ihsanuddin, seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Dia tidak menjabarkan kapan waktu pasti surat tersebut disampaikan kepada kedua perusahaan. Meski begitu, dia memastikan perusahaan yang belum menyampaikan laporan keuangan telah diberikan sanksi.

Menurut Ihsanuddin, Jiwasraya dan AJB Bumiputera memiliki waktu 1 bulan untuk memenuhi kewajibannya. Apabila laporan keuangan tak kunjung disampaikan, keduanya akan mendapatkan surat peringatan kedua.

Bunga Simpanan Bank

Perbankan ikut menurunkan suku bunga simpanan pascapenurunan bunga acuan Bank Indonesia (BI) serta penurunan bunga penjaminan simpanan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) belum lama ini.

Menurunkan bunga deposito menjadi langkah awal. Sebab, dana mahal ini yang membuat biaya dana (cost of fund) meningkat dan ujungnya, profitabilitas bank sepanjang semester I 2019 tertekan. Maklum, sepanjang 2018 lalu, BI mengerek lima kali bunga acuan hingga 175 bps.

Berdasarkan catatan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sejak awal Juli, bunga deposito rupiah turun sekitar 0,01 persen hingga 0,05 persen. Beberapa bankir mengaku telah menurunkan bunga deposito sejak awal Juli lalu.

“Didorong penurunan suku bunga acuan, untuk simpanan deposito yang menggunakan suku bunga maksimal sudah kami turunkan 25 bps hingga 30 bps,” kata Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Bambang Tri Baroto seperti dikutip Kontan.

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)

Perseroan akan melakukan penghimpunan dana nonkonvensional melalui penerbitan sukuk mudharabah untuk mendukung pertumbuhan bisnis unit usaha syariah (UUS) perseroan.

Berdasarkan informasi prospektus yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, penerbitan sukuk tersebut merupakan penawaran umum berkelanjutan (PUB) I Bank CIMB Niaga tahap II dengan jumlah pokok Rp2 triliun.

Pada tahun lalu, perseroan telah menerbitkan sukuk mudharabah berkelanjutan I Bank CIMB Niaga tahap I tahun 2018 senilai Rp1 triliun. Adapun, Bank CIMB menargetkan Rp4 triliun melalui PUB I Bank CIMB Niaga.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan dana himpunan melalui penawaran sukuk mudharabah akan digunakan untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan UUS perseroan.

"Penghimpunan dana nonkenvensional tersebut untuk pendanaan sehubungan dengan ekspansi pertumbuhan financing," katanya seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Fintech Ilegal

Otoritas Jasa Keuangan mencoba terobosan untuk memberantas fintech ilegal yang semakin menjamur. Strategi terobosan ini diperlukan karena fintech ilegal yang tercatat beroperasi di Indonesia mencapai lebih dari 1.200 entitas, jauh lebih tinggi dibandingkan yang resmi.

Kepala Group Inovasi Keuangan Digital OJK Triyono mengatakan fintech bermasalah tersebut dapat ditake out dari server dengan berkoordinasi pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

"Pada dasarnya, Kemenkominfo sangat koordinatif. Kita bisa take out. Masalahnya ini bisnis besar antar negara. Keberadaan mereka di luar negeri, di luar yurisprudensi kita. Yang bisa kita lakukan adalah mencegahnya masuk ke Indonesia," kata Triyono seperti dikutip CNBCIndonesia.

Dengan cara ini, maka setiap fintech ilegal akan mudah diblokir alias ditutup ruang operasionalnya di Indonesia. Hal ini diperlukan, karena banyak fintech ilegal yang ditutup tetapi kemudian membuka layanan yang sama lagi dalam kuran waktu yang tak lama.

Emisi Obligasi

Total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2019 adalah 64 emisi dari 39 emiten senilai Rp74,27 triliun. Jumlah itu bertambah seiring dengan pencatatan Obligasi Berkelanjutan I Sinar Mas Multifinance Tahap III Tahun 2019 yang diterbitkan oleh PT Sinar Mas Multifinance.

Obligasi Berkelanjutan I Sinar Mas Multifinance Tahap III Tahun 2019 yang dicatatkan dengan nilai nominal Rp8 miliar terdiri dari seri A Rp261 miliar, tingkat bunga 10 persen dan jangka waktu 370 hari, serta Seri B Rp539 miliar, tingkat bunga 11 persen dan jangka waktu 3 tahun.

Hasil pemeringkatan untuk obligasi adalah A- (idn) (Single A minus) dari PT Fitch Ratings Indonesia. Bertindak sebagai wali amanat dalam emisi ini adalah PT Bank Bukopin Tbk. Dengan pencatatan ini maka total emisi Obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 407 emisi dengan nilai nominal outstanding Rp434,63 triliun dan US$47,5 juta, diterbitkan oleh 119 Emiten.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 100 seri dengan nilai nominal Rp2.580,37 triliun dan US$400 juta. EBA sebanyak 10 emisi senilai Rp8,33 triliun.

(hm)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER