Lima Reksadana Saham Ini Melonjak dan Jadi Juara Saat IHSG Stagnan

IHSG tidak mengalami perubahan alias berakhir 0 persen secara mingguan ke level 6.373,35 sepanjang pekan lalu
Senin, 15 Juli 2019 13:09:27 WIB Arief Budiman
Image
Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/6/2019). Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/6/2019).

Bareksa.com - Mengakhiri pekan kedua di bulan Juli 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat flat di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mengalami perubahan alias berakhir 0 persen atau stagnan secara mingguan ke level 6.373,35 pada penutupan perdagangan Jumat (12/07/2019).

Pergerakan IHSG di pekan lalu sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, yakni spekulasi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat (AS).

Namun jika dilihat pergerakan bursa utama Asia di pekan ini, melempemnya performa ISHG malah menjadi yang terbaik di Asia. Indeks Nikkei (Jepang) dan Strait Times (Singapura) sepanjang pekan ini sama-sama melemah 0,28 persen, Indeks Kospi (Korea Selatan) turun 0,6 persen. Tidak berbeda Hang Seng (Hong Kong) dan Shanghai Composite (China) masing-masing merosot 2,67 persen dan 1,05 persen.

Performa bursa saham di Benua Kuning ini kontras dengan bursa saham AS yang mencetak rekor tertinggi sepanjang pekan tersebut.

Bursa saham global sebenarnya sudah mengalami tekanan kuat sejak awal pekan. Rilis data tenaga kerja AS yang lebih bagus dari perkiraan membuat pelaku pasar membuat pelaku pasar memprediksi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak akan agresif atau maksimal memangkas suku bunga dua kali saja.

Namun, bedanya bursa saham AS berhasil rebound hingga mencetak rekor tertinggi setelah Ketua The Fed bersikap dovish saat memberikan paparan kebijakan moneter di hadapan Komite Jasa Finansial Kongres AS Rabu (10/7/19). Sementara bursa saham Asia rebound tipis-tipis sehingga gagal mencetak penguatan mingguan.


Sumber: Bareksa

Di tengah kondisi IHSG yang relatif stagnan, kinerja reksadana secara umum justru terlihat mengalami tekanan di mana indeks reksadana saham melemah 0,66 persen dan indeks reksadana saham syariah terpangkas 1,67 persen dalam periode yang sama.


Sumber: Bareksa

Namun di tengah kondisi yang cukup mengecewakan tersebut, tercatat lima produk reksadana saham yang dijual Bareksa yang mampu membukukan kinerja positif sepanjang pekan kemarin serta mampu mengalahkan kinerja ketiga tolok ukur (benchmark) tersebut. Berikut ulasannya :

1. Shinhan Equity Growth

Reksadana saham yang mencatatkan kinerja terbaik pertama sepanjang pekan lalu ditempati oleh Shinhan Equity Growth dengan kenaikan return 1,99 persen.

Sumber: Bareksa

Shinhan Equity Growth bertujuan untuk memberikan hasil yang optimal untuk para investor dalam jangka panjang melalui proses investasi yang dilakukan secara selektif dan pengelolaan yang penuh ke hati-hatian di dalam pasar modal Indonesia pada efek bersifat ekuitas.

Produk yang dikelola oleh PT Shinhan Asset Management Indonesia ini, hingga Juni 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp35,01 miliar.

Shinhan Equity Growth dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 15 Agustus 2012 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank DBS Indonesia.

2. TRAM Infrastructure Plus

Reksadana saham yang mencatatkan kinerja terbaik kedua sepanjang pekan lalu ditempati oleh TRAM Infrastructure Plus dengan kenaikan imbal hasil 1,29 persen.


Sumber: Bareksa

TRAM Infrastructure Plus bertujuan untuk memperoleh peningkatan nilai investasi yang maksimal berupa capital gain  dan dividen melalui investasi pada efek bersifat ekuitas.

Produk yang dikelola oleh PT Trimegah Asset Management ini, hingga Juni 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) Rp52,79 miliar.

TRAM Infrastructure Plus dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 28 Maret 2012 ini bekerja sama dengan bank kustodian The Hongkong and Shanghai Banking Corporation.

3. Manulife Saham SMC Plus

Reksadana saham yang mencatatkan kinerja terbaik ketiga sepanjang pekan lalu ditempati oleh Manulife Saham SMC Plusdengan kenaikan 0,94 persen.


Sumber: Bareksa

Manulife Saham SMC Plus bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan investasi yang tinggi dalam jangka panjang dengan menginvestasikan sebagian besar dananya dalam efek bersifat ekuitas yang berkapitalisasi kecil dan menengah.

Produk yang dikelola oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia ini, hingga Juni 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp106,26 miliar.

Manulife Saham SMC Plus dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 27 Februari 2013 ini bekerja sama dengan bank kustodian Deutsche Bank AG.

4. TRIM Kapital Plus
Reksadana saham yang mencatatkan kinerja terbaik keempat sepanjang pekan lalu ditempati oleh TRIM Kapital Plus dengan kenaikan 0,84 persen.


Sumber: Bareksa

TRIM Kapital Plus bertujuan untuk memperoleh peningkatan nilai investasi yang maksimal dalam jangka panjang berupa capital gain dan deviden melalui investasi pada efek bersifat ekuitas.

Produk yang dikelola oleh PT Trimegah Asset Management Indonesia ini, hingga Juni 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp123,01 miliar.

TRIM Kapital Plus dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 26 Mei 2008 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank CIMB Niaga Tbk.

5. Manulife Greater Indonesia Fund

Reksadana saham yang mencatatkan kinerja terbaik kelima sepanjang pekan lalu ditempati oleh Manulife Greater Indonesia Fund dengan kenaikan 0,8 persen.

Sumber: Bareksa

Manulife Greater Indonesia Fund bertujuan untuk menghasilkan peningkatan modal dalam denominasi dolar Amerika Serikat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan berinvestasi jangka panjang pada efek bersifat ekuitas yang dijual melalui penawaran umum dan/atau diperdagangkan di Bursa Efek baik di dalam maupun di luar negeri, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Produk yang juga dikelola oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia ini, hingga Juni 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai US$77,79 juta.

Manulife Greater Indonesia Fund dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal US$100. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 14 September 2011 ini bekerja sama dengan bank kustodian Deutsche Bank AG.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER