Berita Hari Ini : Lelang SUN Ditarget Rp30 T, P2P Salurkan Pinjaman Rp41,04 T

OJK setuju merger Bank Oke & Bank Dinar, hasil investasi dana pensiun turun, Asuransi Bintang optimistis hasil investasi
Jumat, 28 Juni 2019 10:04:20 WIB Issa Almawadi
Image
Ilustrasi surat utang negara (ANTARA FOTO)

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat, 28 Juni 2019 :

Lelang SUN

Pemerintah akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2019. Lelang tersebut akan berlangsung Selasa, 2 Juli 2019. Lelang kali ini punya target indikatif Rp15 triliun dengan target maksimal Rp30 triliun.

Penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price).

Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian kompetitif (competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield yang diajukan. Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian non-kompetitif (non-competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield rata-rata tertimbang (weighted average yield) dari penawaran pembelian kompetitif yang dinyatakan menang.

Pemerintah memiliki hak untuk menjual ketujuh seri SUN tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah indikatif yang ditentukan. SUN yang akan dilelang mempunyai nominal per unit Rp1 juta.

Fintech Lending

Bisnis pinjaman fintech peer to peer (P2P) lending terus menderu. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadikan fintech lending sebagai implementasi strategis dalam memperluas akses keuangan sejalan dengan revolusi industri 4.0.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan akumulasi pinjaman lewat fintech lending hingga Mei 2019 tercatat Rp41,04 triliun. Nilai ini melesat 81,11 persen dibandingkan tahun lalu atau year to date (YtD) di 2018 yang sebesar Rp32,66 triliun.

“Total fintech P2P lending per 25 Juni 2019 sebanyak 113 entitias. Adapun jumlah outstanding pinjaman mencapai Rp8,3 triliun per Mei 2019 tumbuh 64,93 persen YtD,” ujar Wimboh.

Wimboh menambahkan, jumlah peminjam atau borrower hingga Mei 2019 tercatat 8,7 juta peminjam. Jumlah ini tumbuh 100,72 persen YtD dari jumlah peminjam 2018 yang sebanyak 4,35 juta.

Merger Bank

Per tanggal 21 Juni 2019 APRO Financial akhirnya memperoleh persetujuan legalisasi merger dari OJK, merger antara Bank Oke Indonesia dan Bank Dinar Indonesia. APRO Financial Co. Ltd.

Telah mendapat izin untuk melakukan akuisisi Bank Dinar berdasarkan surat dari OJK pada 2 Oktober 2018 dan selanjutnya mengajukan rancangan mergernya pada bulan Desember 2018.

Pengajuan permohonan merger kepada OJK mulai dilayangkan pada Maret setelah dilakukannya RUPS pada kedua Bank tersebut dan selang 3 bulan kemudian tepatnya pada 25 Juni 2019 mendapatkan persetujuan secara resmi dari OJK untuk melakukan penggabungan kedua Bank tersebut.

APRO Service Group (induk perusahaan dari APRO Financial Co. Ltd) sebagai investor Korea menjadi yang keempat setelah KEB Hana Bank, Woori Bank dan Shinhan Bank yang masuk ke Indonesia. Secara khusus, APRO Service Group adalah satu-satunya perusahaan keuangan non-bank yang tidak memiliki bank untuk mengakuisisi bank dari luar negeri. APRO Services Group mengoperasikan anak perusahaan seperti Savings bank, capital dan lending.

PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI)

PT Asuransi Bintang Tbk optimistis mampu merealisasikan hasil investasi yang positif hingga akhir 2019 setelah mampu membukukan kinerja yang signifikan pada paruh pertama tahun ini.

Direktur PT Asuransi Bintang Tbk. Jenry Cardo Manurung mengakui asuransi kerugian secara umum pada semester I 2019 berpotensi mencatatkan imbal hasil yang baik. Menurutnya, tingkat suku bunga cukup menarik sehingga berdampak pada hasil investasi instrumen deposito berjangka.

Di samping itu, jelasnya, imbal hasil surat berharga negara juga cukup signifikan. “Tingkat suku bunga lumayan baik, kemudian SBN, tingkat imbal hasilnya lebih baik lagi. Mudah-mudahan akan seprti ini sterusnya [hingga semester II 2019],” ujarnya seperti dikutip Bisnis.com.

Jenry menjelaskan hingga saat ini portofolio investasi emiten asuransi kerugian dengan kode saham ASBI ini didominasi oleh instrumen deposito berjangka, yakni sekitar 60 persen. Sekitar 20 persen dana kelolaan ASBI pun ditempatkan di SBN.

Dana Pensiun

Hasil investasi dana pensiun turun per April 2019. Kinerja pasar modal yang turun menekan return on investment (ROI) dana pensiun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai bulan April 2019, ROI dana pensiun tercatat 2,51 persen, turun 6 basis poin dari periode sama tahun lalu 2,57 persen.

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi mengatakan, penurunan ROI tidak banyak dibandingkan tahun lalu. Investasi dana pensiun juga tidak banyak berubah selama dua tahun terakhir. Sehingga ketika salah satu instrumen investasi imbal hasilnya menurun, tentunya mempengaruhi imbal hasil dana pensiun.

“Seperti di surat berharga negara (SBN), tentu saja akan berpengaruh dari harga pasar, yield-nya akan berpengaruh. Jika yield-nya turun, maka pendapatan dana pensiun akan terpengaruh,” ujarnya dikutip kontan.co.id.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER