Berita Hari Ini : Ekonomi Tumbuh 5,6 Persen Butuh Investasi Rp5.800 Triliun

Cadev turun rentan tekan rupiah, BBTN kaji global bond, BBCA suntik BCA syariah, asing kurangi SBN
Jumat, 14 Juni 2019 08:49:26 WIB Issa Almawadi
Image
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan keterangan kepada wartawan di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10). ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat, 14 Juni 2019 :

Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,3 - 5,6 persen dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2020. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mematok pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) alias pertumbuhan investasi di kisaran 7 - 7,4 persen. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pertumbuhan investasi ini berasal dari berbagai pos baik pemerintah maupun swasta.

Misalnya mulai pemerintah pusat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan non BUMN, Penanaman Modal Asing (PMA), hingga dari pihak swasta dari pasar modal. Hitungan Menkeu, untuk pertumbuhan ekonomi 5,6 persen dengan pertumbuhan investasi 7,4 persen saja di tahun 2020.

"Kami butuh investasi antara Rp5.800-5.823 triliun, yang mayoritas dari swasta," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR.

SBN

Ketidakpastian global yang berlangsung sepanjang Mei lalu membuat investor asing berbondong-bondong keluar dari pasar obligasi negara Indonesia. Alhasil, kepemilikan asing di obligasi negara merosot Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, nilai jual bersih investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) mencapai Rp10,78 triliun Mei lalu. Alhasil, nilai kepemilikan asing di pasar SBN menyusut menjadi Rp949,56 triliun.

Seperti dikutip Kontan, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail mengatakan, dana investor asing keluar dari pasar obligasi domestik dipicu peningkatan risiko global, seiring memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China di bulan lalu. Apalagi, selama perang dagang memanas, pemerintah China mendevaluasi mata uangnya agar penjualan ekspornya lebih kompetitif.

Cadangan Devisa

Cadangan devisa Indonesia tergerus hingga US$4 miliar sepanjang Mei 2019. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa per akhir Mei 2019 mencapai US$120,3 miliar. Posisi ini mendekati angka terendah sejak awal tahun, yaitu US$120,1 miliar di akhir Januari 2019.

Sebagai pembanding, per akhir April 2019 cadangan devisa Indonesia US$124,3 miliar. Merosotnya posisi cadangan devisa ini membuat nilai tukar rupiah kembali melemah.

Pada penutupan perdagangan di pasar spot Kamis, rupiah melemah 0,32 persen dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level Rp14.275 per dollar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga merosot 3,09 poin atau 0,05 persen ke posisi 6.273,08. Investor asing menutup perdagangan kemarin dengan aksi jual bersih (net sell) Rp 696,59 miliar. Seperti dikutip Kpntan, Head of Economic & Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja melihat bahwa cadangan devisa turun lantaran BI agresif mengintervensi pasar valas saat rupiah tertekan hingga melampaui Rp14.500 per dollar AS di pekan terakhir Mei.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)

Perseroan tengah mengkaji peluang menerbitkan global bond senilai US$300 juta hingga US$500 juta pada tahun depan. Aksi korporasi tersebut hendak dilakukan dengan pertimbangan perluasan pasar dana nonkonvensional. Pejabat sementara Direktur Finance,Treasury & Strategy Bank Tabungan Negara Nixon L.P Napitupulu mengatakan bahwa saat ini perusahaan masih menyalurkan kredit dalam bentuk mata uang rupiah.

 “Karena belum ada kredit valas, makanya kami masih kaji. Kalau memang hitungan semua masuk, kami akan terbitkan,” ujarnya seperti dikutip Bisnis Indonesia. Nixon menjelaskan bahwa global bond akan menjadi pintu masuk ke bentuk investasi lainnya. Sebelumnya banyak pemain asing yang menyerap penerbitan obligasi subordinasi perusahahaan.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Perseroan akan menyuntikan modal kepada anak usahanya yakni PT Bank BCA Syariah sebesar Rp800 miliar pada semester kedua tahun ini guna meningkatkan skala bisnis. Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja menuturkan, performa BCA Syariah sudah semakin baik. Oleh sebab itu, induk usaha bermaksud memberikan dukungan tambahan agar kinerjanya lebih baik lagi pada tahun ini.

“Kami cuma menyediakan Rp800 miliar saja, agar mereka bisa ekspansi. Kami lihat lah, rencananya semester kedua tahun ini,” katanya. Sebagai informasi, sepanjang kuartal I/2019 BCA Syariah mencatatkan pertumbuhan pembiayaan 10,2 persen (year on year/yoy) menjadi Rp4,73 triliun.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER