Berita Hari Ini : Pendapatan BRMS US$1 Juta, Harga Batu Bara Rebound

Menteng Heritage Realty IPO Rp125,12 miliar, AISA bidik pendapatan Rp2 triliun, SMSM target pendapatan naik 15 persen
Selasa, 09 April 2019 08:38:10 WIB Issa Almawadi
Image
Sejumlah kapal yang membawa batu bara melintasi Sungai Mahakam, Samarinda, Minggu (31/12). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa, 9 April 2019 :

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)

Perseroan mengklaim masih membukukan pendapatan usaha di kuartal I 2019. Manajemen BUMI menyatakan pendapatan mencapai US$1 juta hingga Maret 2019.

"Kondisi pendapatan usaha periode Januari 2019 sampai dengan Maret 2019 adalah lancar, dengan total pendapatan usaha yang dicatatkan lebih dari US$1 juta dari kontrak pemberian jasa konsultasi pertambangan dan pengelolaan aset pendukung pertambangan," kata Direktur dan Sekretaris BRMS Muhammad Sulthon dalam keterbukaan informasi.

Penjelasan ini diberikan BRMS ke BEI lantaran saham BRMS disuspensi. BEI menilai BRMS gagal membukukan pendapatan di kuartal IV 2018 alias periode 1 Oktober-31 Desember 2018.

BRMS menjelaskan, ini karena penagihan atas biaya jasa konsultasi pertambangan yang diselesaikan BRMS pada kuartal IV 2018 dilakukan di kuartal I 2019.

Akibatnya, BRMS tidak membukukan pendapatan di periode kuartal IV 2018. BRMS juga menjelaskan, entitas tiga anak usaha emiten ini, yaitu PT Citra Palu Minerals, PT Gorontalo Minerals dan PT Dairi Prima, tengah dalam proses produksi dan pengembangan.

Harga Batu Bara

Harga batu bara berhasil rebound seiring terhambatnya pasokan di China. Harga batu bara kontrak pengiriman Mei 2019 di ICE Futures menguat 1,38 persen menjadi US$81 per metrik ton. Namun dalam sepekan, harganya masih turun 3,91 persen. Harga batu bara mulai berbalik arah setelah pemeliharaan kereta api Daqin dimulai.

Biasanya pemeliharaan rel dilakukan pada awal musim semi, yakni sekitar April dan membutuhkan waktu 25 hari. Rute kereta api Daqin ini menghubungkan wilayah penghasil batu bara di China, yakni Shanxi dan pelabuhan Qinhuangdao.

Dengan adanya pemeliharaan ini, pasokan batu bara bakal terganggu. Terlebih saat ini persediaan batu bara di pelabuhan Qinhuangdao sedang menipis.

PT Menteng Heritage Realty Tbk

Perseroan akan melepas 1,92 miliar saham biasa atau sebanyak 20 persen dari jumlah modal disetor perseroan setelah penawaran umum perdana saham perseroan, yang merupakan saham baru dan dikeluarkan dari portepel perseroan dengan nilai nominal Rp100, dengan harga penawaran Rp105.

Jumlah seluruh penawaran ini adalah Rp125,13 miliar. Dalam aksi ini, perseroan menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dengan PT Jasa Utama Capital Sekuritas sebagai penjamin emisi efek.

Jika terealisasi, perseroan akan menggunakan sebagia besar dana hasil IPO atau sekitar 51,89 persen untuk mengakuisisi saham PT Twin Investment pada PT Global Samudra Nusantara dan milik Anke Krishna Bachtiar pada GSN.

Selain itu juga 26 persen akan digunakan untuk mengakuisisi saham PT WIjaya Wisesa Realty, sekitar 20,93 persen sebagai peningkatan modal untuk WWD dan sisanya sebagai modal kerja.

PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA)

Perseroan menargetkan pendapatan Rp1,8 triliun hingga Rp2 triliun tahun ini. Target ini sama seperti pencapaian pendapatan AISA pada 2018. Menurut Direktur Utama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk, Hengky Hoestanto, kontribusi terbesar masih berasal dari anak usaha AISA, yakni produsen snack Taro PT Putra Taro Paloma (PTP). Namun, hitungan kontribusi tersebut hanya memperhitungkan anak usaha AISA yang berada di bawah manajemennya.

Hingga saat ini, ia baru mengendalikan tiga anak usaha yakni PT Balaraja Bisco Paloma (BBP), PT Putra Taro Paloma (PTP), dan PT Subafood Pangan Jaya (SPJ). Hengky mengklaim, pendapatan anak usaha yang ia kendalikan sudah hampir normal. Seperti pendapatan PT Putra Taro Paloma (PTP) sudah mencapai Rp55 miliar per bulan. Biasanya, Rp60 miliar hingga Rp70 miliar per bulan.

Begitu juga dengan PT Subafood Pangan Jaya (SPJ) yang sudah mencapai pendapatan Rp20 miliar per bulan. Sementara itu, sepanjang kuartal I 2019, pendapatan keseluruhan anak usaha AISA sudah mencapai sekitar Rp200 miliar.

PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM)

Perseroan masih mengendus ruang pertumbuhan bisnis di sepanjang 2019. Produsen aneka komponen tersebut menargetkan kenaikan penjualan bersih 15 persen year on year (yoy).

Mengacu pada penjualan bersih tahun lalu Rp 3,93 triliun, maka target penjualan bersih tahun ini setara dengan Rp4,52 triliun. Namun perlu diketahui, target kenaikan top line tersebut sejatinya di bawah realisasi pertumbuhan 2018. Penjualan bersih Selamat Sempurna tahun lalu naik 17,66 persen yoy ketimbang realisasi penjualan tahun 2017 yang sebesar Rp3,34 triliun.

Berdasarkan produk yang dijajakan, filter atawa penyaring menyumbang hingga dua pertiga penjualan. Sisanya adalah penjualan radiator, karoseri, distribusi dan produk lain-lain. Sementara pasar luar negeri menjadi tulang punggung kinerja Selamat Sempurna hingga sekitar Rp2,61 triliun. Kalau menurut kategori benua, Asia menyumbang penjualan tertinggi. Namun menurut kategori negara, Amerika Serikat (AS) merupakan kontributor utama penjualan.

PT Intraco Penta Tbk (INTA)

Perusahaan penyedia solusi alat berat ini tengah fokus mengembangkan bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2x100 megawatt (MW). Manajemen INTA menargetkan proyek ini mulai beroperasi atau commercial operation date (COD) pada semester II 2020.

Investor Relations PT Intraco Penta Tbk, Ferdinand Dion menyampaikan, pihaknya saat ini belum ada rencana menambah pembangkit listrik baru. Alasannya, fokus mereka merampungkan PLTU di Bengkulu, yang ditargetkan mampu beroperasi secara komersial pada semester II 2020 mendatang.

"Saat ini proses konstruksinya telah mencapai sekitar 65 persen," ungkap dia. Asal tahu, nilai proyek PLTU berkapasitas 2x100 MW ini mencapai US$360 juta.

Adapun proyek PLTU Bengkulu ini dikerjakan oleh anak usaha INTA, yakni PT Inta Sarana Infrastruktur dan PT Inti Daya Perkasa, di mana INTA memegang porsi 30 persen pada proyek tersebut. Intraco Penta juga tertarik dan membuka diri untuk masuk ke bisnis pembangkit tenaga listrik energi baru dan terbarukan (EBT).

"Jika ada kebutuhan dari PT PLN dan dari sisi perhitungan bisnis masih feasible, kami akan mengikuti proses tender sesuai dengan peraturan yang ada," jelas Ferdinand.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER