Berita Hari Ini : Maret Catat Inflasi 2,48 Persen, SMCB Rugi Rp827 Miliar

Laba ABMM naik 1.075 persen, MDKA dapat kredit US$100 juta, laba BBKP naik 40 persen, laba CPIN naik 82,11 persen
Selasa, 02 April 2019 07:09:59 WIB
Image
Petani panen bawang merah di Desa Taraban, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (2/10). Penyebab inflasi Maret 2019 antara lain kenaikan harga bawang merah yang memberi andil 0,06 persen. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal, dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa, 2 April 2019 :

PT ABM Investama Tbk (ABMM)

Emiten pertambangan, PT ABM Investama Tbk (ABMM) mencatatkan kenaikan laba bersih yang cukup fantastis sepanjang tahun lalu. ABMM mencatatkan laba bersih US$65,49 juta, atau meroket 1.075 persen dari perolehan di tahun sebelumnya US$5,57 juta.

Sejalan dengan meningkatnya laba bersih perusahaan, nilai laba per saham dasar juga meningkat jadi US$0,023 per saham dari tahun sebelumnya US$0,002 per saham.

Dalam laporan keuangan yang disampaikan perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/4/2019), pada tahun lalu pendapatan bersih ABMM sebesar US$773,05 juta, naik 11,9 persen dari perolehan tahun sebelumnya US$690,73 juta.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memperoleh fasilitas pembiayaan US$100 juta (Rp1,42 triliun, asumsi kurs Rp14.200 per dolar AS) dari Barclays Bank PLC. Dana ini oleh perusahaan akan digunakan untuk pelunasan utang dan pembiayaan modal kerjanya.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), kedua pihak telah menandatangani perjanjian fasilitas berjangka mata uang tunggal (single currency term facilities agreement) pada 28 Maret lalu. Pembiayaan ini memiliki jangka watu sampai dengan 18 bulan.

Dana ini oleh MDKA akan digunakan untuk tiga manfaat, yakni pelunasan utang anak usahanya Eastern Field Developments Limited (EFDL) kepada Standard Chartered Bank cabang Singapura yang senilai US$50 juta dan kepada PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB)

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), yang sebelumnya bernama PT Holcim Indonesia Tbk, mencatatkan peningkatan kerugian bersih sepanjang tahun lalu akibat depresiasi nilai tukar rupiah.

Data laporan keuangan mencatat, total kerugian tahun lalu mencapai Rp827,98 miliar, bertambah 9,22 persen dari kerugian 2017 yang mencapai Rp758,05 miliar.

Padahal, anak usaha PT. Semen Indonesia Tbk (SMGR) ini membukukan pendapatan Rp10,37 triliun, atau naik 11 persen dari tahun sebelumnya Rp9,38 triliun. Beban pendapatan naik menjadi Rp8,73 triliun dari beban di tahun sebelumnya Rp7,5 triliun.

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP)

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) membukukan laba bersih di 2018 sebesar Rp190 miliar atau naik 40 persen dari laba bersih 2017 senilai Rp136 miliar. Adapun posisi laba sebelum pajak BBKP tumbuh 78 persen menjadi Rp216 miliar dibandingkan realisasi pada 2017.

Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin M. Rachmat Kaimuddin menjelaskan, pencapaian Bank Bukopin ini didorong oleh upaya perusahaan yang melakukan konsolidasi tahun lalu. Ada tiga hal yang dilakukan BBKP tahun lalu, yakni penguatan modal, peningkatan kualitas aset dan efisiensi.

"Tahun 2018 manajemen memutuskan untuk fokus lakukan konsolidasi. Fokusnya bukan untuk pertumbuhan aset. Kita sudah lakukan penambahan modal sampai rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) ditutup di akhir 2018 menjadi 13,4 persen," kata Rachmat dalam Konferensi Pers Pemaparan Kinerja Bank Bukopin 2018, Senin (1/4/2019).

PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk (CPIN)

Emiten pakan ternak dan perunggasan (poultry) dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), membukukan laba bersih Rp4,55 triliun, melesat 82,11 persen year on year (YoY) dari tahun 2017 sebesar Rp2,5 triliun.

Kinerja ini tentunya menguntungkan bagi investor yang menanamkan sahamnya di CPIN. Dengan laba yang meroket, alhasil, laba per saham yang dapat didistribusikan oleh CPIN naik menjadi Rp278 per saham dari yang sebelumnya Rp153 per saham.

Pencapaian laba bersih perusahaan tidak terlepas dari peningkatan penjualan yang tumbuh 9,3 persen YoY menjadi Rp53,96 triliun dari yang sebelumnya Rp49,37 triliun.

Badan Pusat Statistik (BPS)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Maret 2019 sebesar 0,11 persen persen atau secara tahunan 2,48 persen. Dengan demikian inflasi Januari-Maret 2019 tercatat 0,35 persen.

"Harga komoditas secara umum menunjukkan adanya kenaikan," jelas Kepala BPS Suhariyanto, Senin (1/4).

Angka inflasi tersebut lebih tinggi bila dibanding Februari 2019. Deflasi Februari tercatat 0,08 persen secara bulanan, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Februari) 0,24 persen dan tingkat inflasi tahunan 2,57 persen.

Suhariyanto menjelaskan penyebab inflasi antara lain kenaikan harga bawang merah yang memberi andil 0,06 persen, bawang putih dengan andil 0,04 persen dan angkutan udara dengan andil 0,03 persen.

"Kita tahu angkutan udara alami kenaikan tidak biasa selama Januari-Maret 2019. Namun kemarin Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan aturan baru untuk harga batas bawahnya," jelas Suhariyanto.

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX)

Emiten konsumer otomotif, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) berhasil mengantongi laba bersih Rp3,7 triliun sepanjang 2018.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, emiten berkode saham MPMX tersebut mencatatkan pendapatan pada 2018 tumbuh 11 persen menjadi Rp15,9 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp14,3 triliun.

Kontributor terbesar dari pendapatan MPMX adalah MPMulia yang menghasilkan sekitar 88 persen dari total pendapatan konsolidasi yang didorong oleh pertumbuhan penjualan dari pasar kendaraan roda dua secara nasional.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER