Bidik Pendapatan Tumbuh 30 Persen, Ini Peluang Saham WOOD

WOOD mengantisipasi fluktuasi nilai tukar rupiah
Jumat, 08 Februari 2019 10:28:38 WIB Arief Budiman
Image
Karyawan melintas di antara monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Bareksa.com - Harga saham PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) pada perdagangan Kamis, 7 Februari 2019 ditutup melonjak 7,93 persen berakhir di level Rp680 per saham. Saham WOOD bergerak atraktif pada perdagangan kemarin dengan ditransaksikan sebanyak 3.749 kali serta nilai transaksi mencapai Rp58,16 miliar.

Berdasarkan aktivitas broker summary, tiga broker teratas yang paling banyak membeli saham WOOD pada perdagangan kemarin antara lain Sinarmas Sekuritas (DH) senilai Rp6,64 miliar, Mirae Asset Sekuritas (YP) Rp5,75 miliar, dan Trimegah Sekuritas (LG) Rp5,56 miliar.

Nilai pembelian ketiga broker tersebut berkontribusi terhadap nilai transaksi keseluruhan saham WOOD masing-masing 11,42 persen, 9,89 persen, dan 9,56 persen.

Antisipasi Volatilitas Rupiah

Integra Indocabinet menganggap penguatan nilai tukar rupiah beberapa hari terakhir masih pada level wajar. Tahun ini, perusahaan yang bergerak di bidang industri mebel tersebut mematok asumsi kurs pada kisaran Rp13.500 hingga Rp14.000 per dolar AS.

"Jadi, saat ini kami masih melihat rupiah dalam range yang wajar," kata Direktur Keuangan WOOD, Wang Sutrisno, Kamis (07/02/2019) seperti dilansir Kontan.

Meskipun demikian, WOOD juga telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi risiko volatilitas nilai tukar rupiah tahun ini.

Di antaranya, dengan memaksimalkan penggunaan bahan baku domestik. "Sebagai eksportir, penguatan dolar AS kami anggap sebagai bonus, dan sepanjang kurs berada di rentang wajar maka kami tidak terlalu terimbas," ungkapnya.

Sementara itu, apabila penguatan nilai tukar rupiah yang bergerak di luar batas kewajaran, tentunya akan mempengaruhi daya saing perusahaan itu secara keseluruhan. Meski begitu, harapannya tahun ini pendapatan WOOD bisa tumbuh minimal 30 persen.

Bahkan, emiten yang bermarkas di Sidoarjo tersebut optimistis pendapatan 2019 mampu menembus target yang ditentukan, dengan syarat pengembangan produk WOOD di tahun ini bisa berjalan mulus.

"Dengan penguatan rupiah, tentu sebagai export oriented company kami lebih mengandalkan pada pertumbuhan penjualan secara kuantitas untuk bisa mencapai target pertumbuhan kami," tandasnya.

Analisis Teknikal Saham WOOD


Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle saham WOOD pada perdagangan kemarin membentuk bullish candle dengan body yang sangat besar disertai short upper shadow.

Kondisi itu menggambarkan saham ini bergerak positif dalam rentang yang lebar, meskipun ditutup berakhir dua tick di bawah level tertingginya.

Volume perdagangan terlihat semakin mengalami peningkatan dalam tiga hari terakhir di mana harga sahamnya juga ikut meningkat, hal tersebut menandakan adanya akumulasi beli yang semakin besar pada saham WOOD.

Di samping itu, investor asing juga tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) pada perdagangan kemarin senilai Rp1,52 miliar.

Indikator relative strength index (RSI) juga terlihat masih bergerak naik meskipun mulai mendekati area jenuh beli, mengindikasikan sinyal kenaikan yang kuat dengan target terdekat berada di level psikologis Rp700.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER