Likuiditas Mengetat, Kredit Diprediksi Bisa Tumbuh 12,4 Persen di 2019

Pada tahun lalu, pertumbuhan kredit banyak ditopang oleh sektor yang berhubungan dengan infrastruktur
Jumat, 11 Januari 2019 22:16:57 WIB Gita Rossiana
Image
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah (kedua kiri) berfoto bersama Anggota Dewan Komisioner Destry Damayanti (kiri), Kepala Eksekutif Fauzi Ichsan (kedua kanan) dan Direktur Eksekutif Riset Surveilans dan Pemeriksaan Didik Madiyono (kanan) di Jakarta (12/9). ( ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Bareksa.com - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai, pertumbuhan kredit pada 2019 masih bisa meningkat 12,4 persen. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit investasi dan konsumsi.

 

Anggota Dewan Komisioner LPS, Destry Damayanti, menjelaskan pada tahun lalu, pertumbuhan kredit banyak ditopang oleh sektor yang berhubungan dengan infrastruktur.

"Sektor yang berhubungan dengan infrastruktur mengakselerasi pertumbuhan kredit pada semester kedua 2018 sehingga total pertumbuhan kredit pada 2018 bisa mencapai 12,02%," kata dia di Jakarta, Kamis (10/1/2018).

Meski tidak seagresif pada 2017 dan 2018, sektor yang berhubungan dengan infrastruktur ini masih akan menopang pertumbuhan kredit pada 2019. Namun aktivitas di kredit infrastruktur akan lebih pesat dilakukan setelah adanya kejelasan mengenai hasil pemilihan umum 2019.

"Banyak korporasi yang menunjukkan minat untuk investasi, namun mereka masih lock dulu karena melihar situasi pemilu. Ketika pemilu berakhir, baru akan memberikan konfidensi kepada investor untuk berinvestasi," papar dia.

Selain kredit investasi, kredit konsumsi menurut Destry juga akan menopang pertumbuhan kredit pada 2019. Hal ini seiring dengan banyaknya stimulus yang dikeluarkan pemerintah untuk mendongrak kredit konsumsi.

erdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada November 2018, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,05 persen, meningkat dibandingkan November 2017 yang mencapai 7,47 persen.

Dilihat dari kelas bank, BUKU IV mencatat pertumbuhan kredit tertinggi 14,35 persen. Disusul kemudian BUKU III sebesar 10,37 persen, BUKU II 10,02 persen dan BUKU I 10,33 persen.

Penyesuaian suku bunga simpanan dinilai masih akan berlanjut pada 2019, walaupun dengan pergerakan yang lebih lambat. Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah menjelaskan, berdasarkan pantauan di 62 bank yang menjadi benchmark LPS, suku bunga simpanan rupiah meningkat 10 bps menjadi 6,09 persen sejak 4 Desember 2018 hingga 3 Januari 2019. Sepanjang 2018, suku bunga simpanan rupiah sudah meningkat 88 bps.

Kenaikan juga berpotensi terjadi untuk suku bunga simpanan valas. Berdasarkan pantauan di 19 bank benchmark, suku bunga simpanan valas untuk periode 4 Desember 2018-3 Januari 2019 meningkat 9 bps menjadi 1,23 persen. Sepanjang tahun 2018, suku bunga simpanan valas sudah naik 66 bps.

"Suku bunga simpanan yang masih meningkat menunjukkan bahwa bank masih melakukan penyesuaian atas kenaikan suku bunga kebijakan moneter 175 bps sepanjang tahun
2018," kara Halim.

Selain itu, menurut Halim, perubahan ekspektasi lebih ‘dovish’ dari pelaku pasar terhadap laju kenaikan suku bunga the Fed pasca Desember 2018 berpotensi mempengaruhi respons suku bunga kebijakan moneter BI di tahun 2019. Kondisi ini merupakan sinyal bahwa kenaikan suku bunga simpanan perbankan berlanjut dengan laju yang lebih lambat.

Dilihat dari kondisi likuiditas, menurut Destry masih akan terjadi perebutan likuiditas. Hal tersebut terutama terjadi di BUKU III yang memiliki rasio kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio/LDR) di atas 100 persen dengan kredit yang bertumbuh dua digit dan DPK yang berada di bawah 5 persen.

"Karena itu, kami mengimbau bank untuk berhati-hati menyalurkan kredit terutama menghindari sektor yang rentan dengan volatilitas," ucap dia.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER